Semoga kalian tau gimana cara kalian ngehargai penulis. *kode keras inii:'(
"Caroline Rebbeca. Selalu mempunyai 1001 cara untuk segala masalah."
***
Harry sudah mengetahui segalanya. Hmm...—Mungkin belum semua. Tetapi ia pasti akan membongkar segala kebusukan Caroline Rebbeca. Pasti!
***
Caroline yang tahu bahwa Harry sudah kembali dari toilet pun menghembuskan napas pelan. "Maaf yah aku gak bilang dulu, barusan aku kebelet banget. Jadi gak kepikiran deh." Ujar Caroline dengan puppy eyes-nya.
"Biasa aja Har, jan emosi sekarang..." Harry mencoba mengontrol dirinya.
"Ehm... Iya, santai" Jawab Harry sekenanya. Caroline sadar, suasana diantara mereka kini sangatlah tidak baik. Ia tidak tahu ada apa. Harry pun asik dengan caranya untuk membongkar kebusukan Caroline. Mereka kini sibuk dengam pikiran masing-masing. Hingga seorang pelayan datang membawa pesanan mereka."Oh iya, lo ngajak gue ke sini mau ngapain?" Tanya Harry yang tiba-tiba ingat dengan tujuannya kemari. "Hmm... Ohh... Gapapa si, gimana hubungan kamu sama Almira?" Tanya Caroline basa-basi. "Oke kok." Jawab Harry sekenanya sambil meminum es kopi susunya. "Hmm... Gimana keadaan Almira? Dia udah sehat kan?" Tanya Caroline mencoba mencari topik pembicaraan. "Sehat kok." Lagi-lagi Harry menjawab dengan sangat singkat. Dan Caroline sangat benci jawaban singkat. Tidak sopan. Tapi, berhubung ini Harry—Jadi yahh... Begitulah kekuatan 'Cinta' yang padahal bertepuk sebelah tangan itu.
"Aku cuma khawatir aja kok sama keadaan Almira. Uhm... Keadaan psikisnya karena kejadian waktu itu."
"Lagian itu udah lama kali, nyantai aja, pacar gue itu kuat." Jawab Harry sedikit menyindir. "Gak kea lo, cuma suka modus. Basi anjirr!" Lanjutnya dalam hati. Caroline yang merasa tersindir lalu memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah lawan bicaranya. Wajahnya kini sudah memerah, entah kenapa ia pun bingung.
"Santai Car, ini cuma sedikit sentilan doang kok."
"B aja, tandanya dia pengen lo lebih dari pacar sialannya itu"
"Jan merah mukaa... Galucu kalo Dev liat!"
Dan masih banyak kata-kata lain yang ia gunakan untuk menguatkan hatinya. Ehm—Dia sedikit sensitif. Dia terlalu larut dengan cara-caranya untuk terlihat tetap cool di depan lelaki yang dia suka tentu saja. Oke, sedikit pencitraan. Tanpa ia sadari, minuman Harry kini sudah lenyap tak tersisa. "Gue balik dulu yah, udah selesai kan ngomongnya? Padahal modus kan? Tau gua geh njirr!" Pamitnya pada Caroline. Tunggu, yang di garis miring itu hanya dalam hati oke:') Harry masih punya hati untuk tidak menyakiti hati perempuan didepannya walaupun ia sudah sangat muak.
***
Kini Harry masih berada di dalam mobilnya. Ia sudah menjauhi kedai kopi tadi dan juga—Caroline. Harry Bagaskara memang lebih suka berada di mobilnya dibandingkan pulang ke rumahnya, karena... Uhm—dia anak broken home. Harry masih asik dengan ponselnya. Beberapa kali memutar video yang ia rekam tadi, Ya video amatir yang sangat berharga. 'Video pengakuan Caroline'
Ia tersenyum. Tunggu, ini bukan senyuman lebih kepada seringaian jahat yang terlihat—licik. Sekali lagi ia ingin memutar video itu sembari memikirkan reaksi Amira. Tentu saja, ia berani mati-matian untuk ini karena Amira Anastasia bukan? Seorang gadis psikopat yang 'mencintainya' dan gadis yang sangat agresif. Oh, tentu tidak, kalian tidak akan berpikir bahwa Harry memiliki perasaan kepada Amira Anastasia bukan? Tentu Harry tetap mencintai Almira, dia adalah Cinta pertama sekaligus Cinta terakhirnya. Lalu perasaan apa yang ada pada Harry untuk Amira? Uhm... Dia juga bingung. Yang jelas bukan Cinta. Apa perlu penekanan? 'Bukan Cinta!'

KAMU SEDANG MEMBACA
PSYCHO LOVE STORY✔️ [END]
Action[Follow akun author sebelum baca] Almira Anastasia dan Amira Anastasia mereka adalah anak kembar identik. Keduanya sama-sama menarik, dan yang pasti cantik. Dibalik semua kesempurnaan yang mereka punya, siapa sangka kalau salah satu diantara mereka...