(Sudah END & dalam proses revisi)
Mempunyai bobot tubuh yang overweight membuat Aurora sering mengalami perundungan dimanapun dia berada. Hal ini juga kerap kali membuatnya tidak percaya diri. Gadis manja, doyan makan tapi tidak tahu memasak itu j...
"Ara cepatlah turun. Sebentar lagi mereka datang." teriak andin dari bawah
"Iya Ma, " sahut Aurora
Malam ini adala pertemuan pertamanya dengan keluarga dari calon suaminya. Sekaligus pertemuan pertama dengan pria yang dijodohkan dengannya. Sejak tadi Ara tidak berhenti gelisah. Mondar-mandir didalam kamar dan masih berharap kalau semua ini adalah mimpi. Namun sekali lagu teriakan menggema sang mama berhasil menyadarkan Aurora bahwa ini bukanlah mimipi konyol yang dia harapkan melainkan sebuah fakta.
"Tuhan, aku harus bagaimana? Aku belum siap. Kalau boleh, bisakah Engkau mengagalkan semua ini?" Monolonya masih banyak dengan penuh harap.
"Ara... Cepatlah!" Teriak andin sekali lagi
"Ternyata tidak bisa ya..." lirihnya lesu
Ara menghembuskan nafasnya frustasi_berjalan gontai menuruni satu per satu anak tangga. Tepat saat kakinya berpijak diundakan tangga terakhir, tamu yang ditunggu-tunggu sudah muncul didepan pintu. Kedua orangtuanya menyambut ramah sang tamu.
"Ssttt.. Ara sini, " desis Andin menginstruksi putrinya untuk turut mendekat menyambut tamu mereka.
Dengan gerakan lambat Aurora mendekat sambil menunduk. Dia tidak terlalu percaya diri untuk menatap calon keluarga barunya tersebut.
"Hey nak, kenapa menunduk begitu?" Holland memulai percakapan
Ara gugup mendengar suara berat pria tua yang masih terlihat gagah diusianya.
"A.. Ma..maaf paman," Aurora terbata
Holland terkekeh "Tidak perlu meminta maaf. Dan satu lagi, bisakah mulai sekarang biasakan dirimu memanggilku daddy? Karna tidak lama lagi kau akan menjadi putriku juga."
"Ba..baik pama.. eh daddy"
"Gadis pintar," Holland tersenyum "astaga, daddy hampir lupa. Perkenalkan pria tampan ini Ellard putraku, sekaligus calon suamimu" Holland menepuk bangga punggung tegap putranya.
Ellard tersenyum tipis dan menjulurkan tangannya kehadapan Aurora yang masih diam terpaku.
"Hai, senang bertemu denganmu," suara baritone Ellard menyapa gendang telinga Aurora.
Aurora termangu. Tanpa sadar matanya meneliti pria dihadapannya. Rahang tegas, mata tajam, alis lebat yang terukir rapih, hidung tinggi, bibir merah tipis, dan jangan lupakan bulu-bulu tipis disekitar rahang yang membuat pria itu terlihat sexy? Tingginya ara menebak sekitar 185 cm terlihat dari tubuh mungil ara yang hanya mencapai dada pria itu. Kulit eksotis dan lekukan otot yang sempurna yang tercetak dari balik kemeja putih yang digunakannya. Satu kata untuk pria dihadapannya ini Sempurna! Tuhan sepertinya sedang tersenyum waktu menciptakannya.
Ara meneguk ludanya. Oh GOD... dia terlalu sempurna untuk menjadi pasanganku!
"Ellard tungguin tuh" Andin menunjuk dengan dagunya kepada jabatan tangan ellard yang belum direspon.
"Oh, ma..maaf.. Aku Ara." Ara menjabat canggung uluran tangan ellard yang masih setia tersenyum.
"Ah, sebaiknya kita lanjutkan perbincangan ini didalam. Silahkan Tuan Holland dan nak Ellard" seru harris mengajak tamu istimewanya itu masuk kedalam ruang keluarga.
****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.