Dua puluh tujuh

665 24 0
                                        

Pukul sepuluh malam Ara baru tiba di mansion. Tadinya dia tidak ingin pulang, berencana ingin menginap di rumah orangtuanya. Namun saat di pertengahan jalan Blake meneleponnya dengan kepanikan yang luar biasa. Sekeretaris pribadi suaminya itu memohon untuk dirinya segera pulang karna dirumah Ellard mengamuk dan berakhir dengan meminum banyak alkohol. Dengan langkah tergesa-gesa Ara naik ke lantai atas tempat dimana kamar mereka berada.

Tepat setelah masuk ke dalam kamar, ia disuguhkan dengan keadaan kamar yang sudah kacau balau. Ellard kembali menggila. Lampu kamar menyala terang, sedang Ellard duduk bersandar pada kaki ranjang di lantai dengan satu kakinya ditekuk sementara satu tangannya memegang sebotol whiskey. Pakaiannya sudah tak serapih sebelumnya. Lengan kemejanya sudah digulung sebatas siku. Bahkan beberapa kancing kemejanya sudah dilepas. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah yang sangat kusut.

Ara segera melangkah masuk ke dalam dengan cepat ketika Ellard akan kembali meneguk minuman ditangannya.

"Bisakah kau berhenti meminum minuman sialan ini!" suara Ara meninggi, ia menarik paksa botol itu dan meletakkannya di nakas

Kini mata mereka saling beradu. Ellard menatapnya lekat dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sedetik kemudian lelaki itu tersenyum manis. Senyuman manis yang justru mengerikan bagi Ara.

Sempoyongan, Ellard bangkit berdiri, mendekati Ara yang masih terdiam kakuh. Ellard menangkup wajah Ara lalu membelainya lembut.

"Akhirnya kamu pulang, sayang" Ellard tersenyum lebar "hampir saja aku membunuh Blake karna sampai malam kamu tidak pulang. Padahal tadi aku menyuruhnya untuk menjagamu" celotehnya ringan. Kini kedua tangannya melingkari pinggang Ara begitu erat sementara kepalanya disandarkan dibahu Ara.

"Aku hampir gila karna saat aku pulang, kamu tidak dirumah. Aku begitu takut kamu beneran pergi, sayang" serak Ellard dibahu Ara

Mendengar kata yang diucapkan Ellard, tak ayal membuat Ara menunduk dimana kepala Ellard sedang terbenam dibahunya dengan tubuh yang bergetar?

"Suatu saat nanti aku memang akan pergi" lirih Ara nyaris tidak terdengar tapi entah kenapa untuk ukuran orang mabuk seperti Ellard masih dapat mendengarnya. Dengan cepat ia mendongak

"Kamu bilang apa barusan?" desisnya dengan mata sayu

Ara tidak langsung menjawab. Ia menatap lama netra Ellard yang memerah akibat banyaknya minuman keras yang diteguknya. Lalu tatapannya turun pada tangan Ellard. Disana ada luka sobekan dan darah yang mengering di buku-buku jarinya.

"Kau melukai dirimu lagi?" Ara bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari tangan Ellard yang terluka

"Sekali lagi kutanya, apa maksud ucapan kamu barusan?" Ellard tidak mengindahkan. Ia kembali menangkup wajah Ara "katakan"

Ara memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat keramat itu, lalu membukanya kembali dan menemukan iris Ellard yang tajam

"Mari berpisah dan menikahlah dengan Clarissa. Dia lebih membutuhkanmu..."

Ellard terkekeh ditengah kalimat Ara. Raut wajahnya begitu tenang.

"Jadi... kamu melakukan ini, untuk membuatku menceraikan kamu, sayang?" bisik Ellard, terlihat diwajahnya kini sedang menahan senyum geli. Seolah ucapan Ara hanya sebuah lelucon. "Aku tekankan sekali lagi, sayang. Itu tidak akan pernah terjadi. Kita tidak akan pernah berpisah, Ara. Sama seperti sumpah pernikahan kita. Kita akan terus bersama sampai kita mati. Dalam suka dan duka, sakit atau sehat. Sampai maut memisahkan kita. Dan kamu tahu artinya, kan?"

Ara terdiam. Dengan pembawaan yang begitu tenang, Ellard lebih mendekatkan wajahnya ke telinga Ara.

"Artinya, selama aku masih hidup. Apapun yang kamu katakan, atau apapun yang kamu lakukan demi merealisasikan keinginan sialan kamu. Perpisahan sialan, apalagi perceraian brengsek yang kamu inginkan itu, tidak akan pernah terjadi." Bisiknya begitu seduktif , tepat ditelinga Ara. Diiringi kekehan puas lantas kembali berbisik

Mencintaimu itu SakitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang