Anyeong~~~~~~
Happy Reading
-
-
Mereka telah selesai makan, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Menikmati semilir angin sore. Mereka duduk di bebatuan dekat pantai. Dahyun tampak mengayunkan kakinya sambil menunggu sunset, bahkan rambutnya tampak diterpa angin. Bibirnya tidak henti menyunggingkan senyuman.
"Indahnya!"
Warna jingga itu sudah kembali keperaduannya, bersamaan hari mulai menggelap, sampai akhirnya warna itu sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan berganti menjadi warna biru tua bercampur hitam, pertanda malam segera tiba.
Dahyun segera beranjak, menatap sekeliling. Mengukir senyum indahnya. Lambat laun, ia benar-benar menyukai kota ini. Kembali menatap sekeliling dan baru menyadari ternyata Jimin tidak ada di sampingnya, ia menoleh ke sana-kemari, mencari keberadaan Jimin.
"Kemana dia?"
"Mencariku?"
Suara itu kelewat pelan dan lembut, membuat Dahyun terkejut dan tanpa sadar menyikut perut orang yang berada di belakangnya, sampai orang yang ada di belakangnya meringis kesakitan dan betapa terkejutnya ia yang ternyata adalah Jimin.
"Astaga! Maafkan aku, lagipula kau senang sekali membuatku terkejut."
Jimin hanya mengusap tengkuknya dengan masih merintih kesakitan. Kemudian mengayunkan tangannya, bermaksud mengajak Dahyun pulang.
Mereka tiba di rumah beberapa menit kemudian. Dahyun segera masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya sebelum pergi tidur. Ia benar-benar lelah hari ini. Baru saja, ia naik ke atas kasur, suara Jimin menginterupsi di luar dan sukses membuat dirinya menggeram dalam hening. Lantas keluar dari kamar, sedikit membanting pintu.
"Ada apa? Aku mau tidur."
"Makan dulu, setelah itu kau bisa tidur."
Dahyun menghela napas, tapi pergi menghampiri Jimin, mendudukkan dirinya dan mulai menyantap makan malam yang di buat oleh Jimin.
"Makin kesini, rasanya masakanmu makin enak. Aku sudah kalah kalau begini."
"Tentu saja, aku ahlinya."
Hari tanpa berdebat itu, bagai sayur tanpa garam. Hambar.
"Ck! Tapi, masakanku lebih cocok untuk sesuatu yang istimewa."
"Tentu, dan itu pasti untuk aku, benar kan?" Jimin dengan pedenya menjawab.
Dahyun berdecak. "Klise sekali, tentu saja tidak. Aku tidak sudi memberikannya kepadamu."
"Oh, benarkah? Kukira kita bisa hidup bersama nantinya." Ucap Jimin lantas mengacuhkan bahu.
"Tidak sama sekali aku berpikir menuju sana. Angan-anganku jauh lebih indah, tidak ada bayang-bayang tentang hal seperti ini."
"Ah! Seperti itu, walau sebenarnya aku sangat menginginkanmu." Ucapan Jimin sukses membuat Dahyun menghentikan makannya, lantas mendengus kala mendengar apa yang pria itu katakan, "hanya di dalam mimpi." Kemudian tergelak pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love [Dahmin Version]✔️
Fanfiction⚠️⛔ Mature Content, Romance, Family⛔⚠️ Jimin terjebak dalam dunia yang tak pernah ia ketahui. Di kejar layaknya buronan hingga ia dipertemukan dengan gadis yang mengatakan bahwa ia adalah si biang sial karena telah menggagalkan pertemuannya dengan s...
![Fall In Love [Dahmin Version]✔️](https://img.wattpad.com/cover/222590609-64-k389520.jpg)