19. The Biggest Sin

1.7K 68 8
                                        

*Budayakan vote sebelum membaca, okey*


Mature content

Be wise🔞



Jimin mengusak rambutnya kasar. Sudah lebih dari 5 jam, Dahyun belum menampakkan batang hidungnya. Gadis itu memang pergi keluar karena ingin bertemu dengan teman-teman barunya. Tapi, kenapa bisa selama ini.

Ia berharap gadis itu tidak tersesat di jalan saat ingin pulang. Ya, semoga saja. Jimin memusatkan seluruh perhatiannya pada semua berkas yang kemarin sempat ia tinggalkan lantaran cuti. Beruntung tidak terlalu banyak, tapi menguras tenaga juga karena pikirannya tengah melayang pada gadis yang saat ini belum juga menunjukkan batang hidungnya.

"Astaga Kim Dahyun!" Jimin menatap luar jendela. Matahari sudah hampir menghilang diperaduannya, burung sudah mulai kembali ke sarang mereka, pertanda malam sudah hampir tiba.

Dering ponsel membuyarkan semua pikiran Jimin, langsung menyambar ponselnya secepat kilat kemudian mendengus, sedikit kecewa dengan apa yang ia bayangkan sedari tadi, berharap Dahyun yang menelepon. Ditekannya tombol hijau sebelum bergumam kepada seseorang di seberang sana.

"Ada apa Tae?"

"..."

"Jangan bercanda." Raut wajah Jimin langsung berubah keruh setelah mendengar apa yang dikatakan Taehyung seberang sana. Dugaannya salah besar.

"Aku akan ke sana, kau beri alamatnya."

Jimin mengusak rambutnya, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana sebelum menyambar jaket dan keluar dari apartemen dengan secepat kilat. Gadis itu benar-benar membuatnya resah.

Jimin membeliakkan matanya mencari seseorang yang sangat ia kenali ditempat yang terlampau ramai seperti ini. Entah bagaimana ceritanya, Dahyun bisa sampai ditempat seperti ini. Niat hanya bertemu dengan teman-temannya dan Jimin malah mendapatkan kabar jika Taehyung, yang meneleponnya barusan melihat Dahyun di dalam bar yang cukup terkenal di Swiss.

Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya Jimin melihat seseorang yang tidak asing lagi. Tampak bergoyang ria ditengah-tengah kerumunan lantai dansa. Jimin pastikan jika gadis itu sudah mabuk hingga tidak sadar akan keberadaan orang disekitarnya yang tampak menatapnya dengan lapar. Jimin menggeram tertahan.

Dan dari banyaknya orang didalam bar ini, Jimin tak mendapati kawanan teman Dahyun yang akan gadis itu temui, sepertinya mereka menjebak Dahyun yang tampak polos ini. Kasihan sekali, tidak ada yang niat berteman dengan gadis lugu seperti Dahyun. Terlalu mudah sekali untuk di tipu. Dan inilah yang terjadi pada gadis itu sekarang. Mabuk di kerumuni para lelaki hidung belang, seakan mereka suda mendapatkan mangsa mereka.

Jimin menerobos ketengah kerumunan agar bisa mencapai keberadaan Dahyun, menghalangi para pria yang akan mendekati Dahyun dengan memeluknya posesif, memberikan tatapan tajam pada mereka-mereka seakan-akan mengatakan, 'gadis ini adalah urusanku, enyahlah'.

"Dahyun!" Tentu saja itu tidak akan terdengar, dentuman musik keras itu sudah menjadi makanan sehari-hari jika kau sering datang ke sini, tapi ini Jimin, tidak akan kemari jika bukan sesuatu yang penting. Dan lagi gadis ini sudah berada diambang batas karena mabuk.

"Dahyun, kau mendengarkanku, sadarlah!" Jimin mengunjang tubuh lemah Dahyun, sontak gadis itu mengerutkan kening kala ada seseorang yang menggunjang tubunya. Perlahan, ia menyipit guna melihat siapa yang telah berani-berani mengganggunya. Tak lama ia terkekeh renyah.

Fall In Love [Dahmin Version]✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang