Sebuah tragedi tiba-tiba terjadi pagi ini yang sukses membuat seluruh orang di pusat kota Swiss ricuh. Para aparat kepolisian dan agent Intel tengah menyelidiknya. Tak jauh berbeda dengan keadaan apartemen Jimin dan Dahyun yang juga heboh pagi ini karena berita tersebut.
"Jimin, apa yang terjadi?" Tanya Dahyun panik. Mereka akan pergi ke kantor Intel, omong-omong. Dan Jimin menggeleng ragu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Bos menelepon pagi-pagi dan menyuruh kita datang ke sana." Pukasnya cepat. Tangannya bergerak lincah mengambil ponsel dan jaket miliknya. Sebelum menggandeng lengan Dahyun untuk segera pergi.
"Kau tidak ketinggalan sesuatu?" Ditengah panik, Jimin menyempatkan diri untuk bertanya kepada Dahyun, karena terkadang gadis itu sedikit ceroboh dengan hal yang penting. Dan Dahyun mengangguk mantap.
"Sudah, semuanya sudah lengkap, ponsel dan lain sebagainya." Cecarnya sembari mengecek ulang tas miliknya. Jimin mengangguk saja.
"Bagus, karena terkadang kau ceroboh menyerempet bodoh, kau paham?"
Dahyun berdecak. Lelaki ini selalu saja menghinanya. "Iya, tidak usah kau katai bodoh juga. Aku ini lulusan terbaik!" Jimin membalas dengan deheman, membuat Dahyun menggeram kesal.
Derap langkah kaki mereka yang menggema di penjuru perusahaan. Soora muncul dari sebuah ruangan CCTV. Jimin menghampirinya.
"Apa yang terjadi?" Paniknya. Wajahnya benar-benar panik dengan keadaan pagi ini yang begitu ricuh. Semua warga Swiss benar-benar heboh. Daerah Swiss memang dibagi menjadi barat dan timur dan yang mereka tempati saat ini berada di wilayah barat.
"Masih belum dipastikan karena dari tadi aku belum melihat pergerakan yang ada, hanya warga yang perlahan berangsur membaik. Polisi juga belum memberi kabar."
Jimin harap-harap cemas di dalam hati. Masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dan semua itu tidak jauh berbeda dengan Dahyun yang tampak diam di belakang, menggigiti kukunya karena gugup dan bingung. Bertanya dalam hati, "apa yang sebenarnya terjadi?" berulang kali.
Jimin yang terlalu fokus bekerja, tidak menyadari Dahyun yang keluar dari ruangan. Di jalan ia berpapasan dengan Yeri.
"Oh Dahyun, kau mau kemana?" Tanyanya sedikit berteriak karena keadaan yang begitu rusuh.
"Aku ke toilet sebentar. Kalau misalnya Jimin bertanya, kau katakan saja itu." Pukasnya dan bergegas pergi menuju toilet. Dahyun itu kadang bingung, di saat keadaan tengah genting begini ia malah mendapat sesuatu yang lebih genting menyangkut hidupnya. Toilet menjadi jalan satu-satunya untuk ia hapuskan tentang hidupnya.
Di luar sana keadaan malah semakin genting. Penembakan terjadi dimana-mana. Beberapa aparat kepolisian sudah siaga menghalau para musuh yang ingin menerobos masuk. Soora segera keluar dari gedung untuk menghalau mereka. Di susul dengan mereka semua dan menyisahkan beberapa di ruang pemantau untuk memantau perkembangan kota.
"Ini wilayahku, apa kehendak kalian masuk ke sini?" Tanya Soora berang. Giginya bergemelatuk menahan amarah.
"Wilayahmu? Hei, orang Korea tak bermoral, kalian harus sadar ini adalah daerah kekuasaanku!" Sungutnya berapi-api. Ucapan pedas itu menohok Soora dengan telak. Matanya sudah berkilat marah karena direndahkan seperti itu.
Pasti kalian heran dengan mereka yang menggunakan bahasa Korea? Ya, karena sebagian besar penduduk Swiss adalah warga Korea yang merantau demi pekerjaan yang lebih besar. Dan perusahaan Intel inilah jalan satu-satunya penduduk Korea banyak menempatkan diri mereka di sini. Sebenarnya, baik warga Korea dan warga Swiss mereka berbaur dengan baik di sini. Jadi, mereka bisa berucap dengan dua bahasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love [Dahmin Version]✔️
Fanfiction⚠️⛔ Mature Content, Romance, Family⛔⚠️ Jimin terjebak dalam dunia yang tak pernah ia ketahui. Di kejar layaknya buronan hingga ia dipertemukan dengan gadis yang mengatakan bahwa ia adalah si biang sial karena telah menggagalkan pertemuannya dengan s...
![Fall In Love [Dahmin Version]✔️](https://img.wattpad.com/cover/222590609-64-k389520.jpg)