⚠️⛔ Mature Content, Romance, Family⛔⚠️
Jimin terjebak dalam dunia yang tak pernah ia ketahui. Di kejar layaknya buronan hingga ia dipertemukan dengan gadis yang mengatakan bahwa ia adalah si biang sial karena telah menggagalkan pertemuannya dengan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Mungkin, mungkin Dahyun memang harus banyak berterima kasih kepada Jimin lantaran pria itu selalu melindunginya dari situasi apapun. Mulai dari mereka yang terus menghindar sampai akhirnya tanpa sengaja bertemu Soora yang ternyata bekerja di negara ya ia kira bisa ia nikmati untuk bersenang-senang, bukan tempat pelarian seperti yang sudah tersebut di awal.
Tapi, jika dipikir ulang, tidak selamanya seseorang bisa melindungi dirinya bukan, karena bagaimana pun baik Jimin ataupun siapapun itu akan pergi meninggalkannya dan ia harus menepis jauh-jauh rasa gengsi yang sering ia alami kala Jimin selalu berhasil melindunginya dan bisa membuat dirinya nyaman dengan sikapnya.
Dan lagi, Dahyun benar-benar bersyukur bisa menghirup udara lagi setelah tidak sadarkan diri pasca dirinya hampir mati tertembak dan semua ini berkat Jimin. Ia akan berterima kasih pada pria Park tersebut dengan semua pertolongan dan perlindungannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Jimin menyadari tatapan Dahyun yang terus tertuju padanya. Wanita itu tampak memikirkan sesuatu yang tentunya ia tidak tahu apa itu. Dahyun tersadar, lalu menegakkan tubuhnya di kursi yang ia tempati saat ini. Ia sedikit ragu untuk mengucapkan apa yang sudah ia persiapkan selama empat hari tiga malam ini. Ya, itu benar Dahyun benar-benar memikirkan ini semua dan mengatur bagaimana ia mengatakan ini kepada Jimin nantinya.
"Siapa yang menatapmu? Aku hanya sedang berpikir."
"Berpikir atau memikirkan sesuatu?" Pada akhirnya, Jimin akan tahu apa yang Dahyun alami. Pria itu terlampau peka dengannya dan Dahyun menghembuskan napasnya, ia terlihat gusar di tempatnya.
"Terima kasih!" Lirihnya. Jimin sampai harus menajamkan pendengarannya kala mendengar suara kecil Dahyun yang tetiba mengudara di sekitar. "Kau mengatakan apa?" Tanyanya. Tidak, sebenarnya Jimin mendengar, hanya ingin memperjelas saja jika ia benar-benar mendengarkan kalimat itu dari belah bibir Dahyun.
Dahyun kembali gusar, tidak tenang di posisinya dan Jimin menunggu ucapan Dahyun. "A-aku...hanya ingin berterima kasih kepadamu...terima kasih sudah melindungiku selama ini. Aku...benar-benar tulus mengatakannya."
"Aku cukup tersanjung padamu. Setahuku kau sudah pernah mengucapkan hal ini, tapi sama-sama. Karena bagaimanapun juga akulah yang membuatmu masuk dalam hal ini." Tulusnya dan mengembangkan senyum. Dahyun ikut tersenyum. Well, ia tahu memang Jimin melaibatkannya dan entah kenapa kini ia merasa nyaman dengan semuanya. Lagipula Ibunya juga bekerja dalam bidang ini, jadi kemungkinan besar ia akan mengikuti jejak sang Ibu.
***
"Awasi kamera pengintai yang tersebar ke seluruh kota, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi!" Soora tampak was-was dengan keadaan sekarang. Perasaannya selalu mengatakan yang tidak mengenakkan. Merasa bahwa sesuatu yang besar akan terjadi, tapi entah apa itu.