Jimin sudah kembali seperti dulu. Strategi miliknya selalu bisa di gunakan dan selalu tepat sasaran. Soora yang melihat itu lantas tersenyum bangga. Anak didiknya memang tidak pernah salah dan melenceng. Ia akui Jimin memang layak mendapatkan semua ini. Terhitung setengah tahun dirinya sudah kembali ke agen Intel ini.
"Aku bangga padamu, Jim. Aku masih tidak menyangka bahwa kau sudah kembali."
Saat ini mereka tengah berbincang di ruangan Soora, karena wanita itu yang memanggil Jimin untuk kemari. Jimin hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku juga senang bisa kembali, Bos."
"Ah, bagaimana keadaan rumah? Dahyun?"
"Semua baik-baik saja, aman terkendali."
"Gadis itu tidak minta macam-macam lagi, kan?"
"Tidak, Dahyun jadi lebih penurut sekarang. Dia juga banyak belajar untuk saat ini."
"Itu bagus, karena kita tidak akan tahu bahwa musibah bisa datang sewaktu-waktu."
Jimin mengangguk. Setelah puas berbincang, Jimin pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Selama perjalanan menuju ruangannya, Jimin tidak henti-hentinya tersenyum, membuat siapapun yang melihatnya merasa aneh.
"Jim, kau sakit?" Itulah pertanyaan yang terlontar saat melihat Jimin tersenyum seperti itu. Daniel yang baru saja lewat sampai heran sendiri melihat temannya.
"Oh hai, Niel. Sakit? Kurasa tidak." Gelengnya sembari mengecek suhu tubuhnya..
"Lalu kenapa kau tersenyum lebar seperti itu?"
"Aku? Tidak ada. Hanya sedikit senang saja." Tukasnya dengan senyum andalannya.
"Apa karena Dahyun?" Jimin mengerutkan alis. Dahyun? Tentu saja tidak. Jimin lantas menggeleng guna menjawab pertanyaan Daniel. "Tidak, aku hanya senang hari ini. Kenapa?"
"Tidak, kau hanya tampak berbeda."
"Hey, aku memang seperti ini, kau seperti tidak tahu saja. Baiklah, aku akan kembali."
"Emm, semoga pekerjaanmu menyenangkan."
"Kau juga."
Setelah kepergian Daniel, Jimin kembali bertanya-tanya tentang dirinya. Hanya memiringkan kepala lalu mengangkat bahu lantas berjalan menelusuri lorong untuk sampai di ruangannya.
*
*
*
*
*
5 Jam sebelumnya...........
Jimin terbangun di tengah malam, merasakan haus yang berlebihan. Ini tidak biasanya. Segera menuntaskan kebutuhannya dan bergegas pergi tidur. Saat di dapur dirinya mendengar suara isakan. Mencoba berpikir positif bahwa itu hanya suara ranting atau hembusan angin saja, bukan sesuatu yang ia pikirkan lainnya.
Tapi, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Suara itu kembali lagi, kali ini sedikit lebih keras dan sumbernya dari kamar Dahyun. Berjalan menghampiri pintu tersebut dan mengetuknya pelan.
"Dahyun!"
Tidak ada sahutan, tapi isakan itu semakin terdengar. Jimin merapalkan doa dalam hati karena telah lancang membuka pintu kamar gadis itu. Pertama kali yang ia lihat adalah Dahyun yang bergerak gelisah di tempatnya. Lantas berjalan mendekatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love [Dahmin Version]✔️
Fiksi Penggemar⚠️⛔ Mature Content, Romance, Family⛔⚠️ Jimin terjebak dalam dunia yang tak pernah ia ketahui. Di kejar layaknya buronan hingga ia dipertemukan dengan gadis yang mengatakan bahwa ia adalah si biang sial karena telah menggagalkan pertemuannya dengan s...
![Fall In Love [Dahmin Version]✔️](https://img.wattpad.com/cover/222590609-64-k389520.jpg)