"Hahaha ... lo harus lihat muka lo tadi, El. Kocak banget," tawa Ariel terus bergema di dalam mobil membuat Giana semakin jengkel.
Mana ia tahu pada akhirnya gadis itu akan menyerahkan kunci mobilnya pada di pemilik. Pada akhirnya, mobil tersebut dikendarai oleh Calvint. Ariel duduk di sebelah kusi pengemudi, dia dan Bayu duduk di kursi belakang.
"Mending lo diem deh sebelum gue jahit mulut lo itu," sungut Giana membuat gelak tawa Ariel kian membahana.
Ariel menatapnya meremehkan sembari menaikkan sebelah alisnya. "Lo? Jahit mulut gue?"-Ariel menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri-"Gak akan terjadi. Lo bukan tipe yang nyelesaiin sesuatu dengan kekerasan walau mata lo bilang lo bisa lakuin itu. Jangan lupa, Beb! Gue kenal lo luar dalem."
Giana terdiam. Ancamannya tak berhasil. Benar, Ariel mengenalnya luar dalam. Ia saksi bagaimana hancurnya hidupnya dulu hingga berdampak sampai sekarang. Ariel mengenalnya lebih baik daripada Noah dan Clara karena mereka tumbuh bersama sejak kecil.
"Eh? El, gue mau nanya, deh. Lo masih ingat gak bocah cowok yang selalu ngintilin lo kemana-mana?" tanya Ariel secara tiba-tiba.
Giana mengerutkan keningnya dalam. Sejujurnya, banyak kenangan masa kecilnya yang sudah ia kubur dalam-dalam. Baginya, tak ada gunanya mengingat itu semua-hanya bisa semakin mengarami lukanya aja.
Ariel menatap Giana yang terdiam. Sedikit rasa penyesalan menyentil hatinya. "Gilang. Gue dengar dia ada di sini, di kota ini," lanjutnya pelan.
Gilang. Pemuda yang dihindarinya saat ini karena di pertemuan terakhir mereka memanggil nama kecilnya. Sekarang semuanya jelas baginya mengapa Gilang yang itu mengetahui nama kecilnya. Itu karena Gilang adalah anak itu. Anak kecil yang selalu mencarinya, anak dari panti asuhan sebelah rumahnya. Anak yang tak takut pada ayahnya dan sering main ke rumah.
Melihat gelagat Giana yang menurutnya agak aneh, Ariel pun berkomentar, "Kalau dilihat-lihat, lo gak kaget, ya, El? Apa mungkin dia udah nemuin lo duluan?"
Giana mengangguk pelan karena menutupinya dari Ariel pun percuma. Gadis itu akan mengetahuinya dengan caranya sendiri.
"Udah beberapa bulan belakangan," jawab Giana. Ia terdiam sejenak karena ingat mereka masih di dalam mobil. "nanti gue ceritain," lanjutnya membuat Ariel tak bertanya lebih lanjut.
Begitu sampai di sebuah cafe, Ariel menatap Calvint dan Bayu dengan tatapan mengancam. "Pisah meja!"
Bayu awalnya tak terima, tetapi Calvint memintanya untuk mengerti. Calvint tahu dengan pasti ada hal yang harus gadis-gadis itu bicarakan berdua tanpa ada yang mendengarnya. Ia merasa, itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dibagi. Makanya ia mengiakan permintaan Ariel dengan cepat dan mengajak Bayu ikut serta bersamanya.
"Aku tahu kamu ingin dekat dengan Giana. Tapi kurasa, ini bukan pembicaraan yang boleh kita dengar. Sepertinya ini sesuatu tentang luka Giana. Sebaiknya kita jangan dengar saja sampai akhirnya Giana yang kasih tahu sendiri dari mulutnya," jelas Calvint saat mendapati Bayu masih menggerutu tak terima.
"Tapi cewek itu udah janji sama gue, Kak. Dia mau ceritain gimana dia bisa kenal Giana. Nanti kalau dia kabur gimana?" tanya Bayu sambil menatap lurus tempat di mana Giana dan Ariel tengah duduk-mereka berjarak 3 meja sehingga mereka tak bisa menguping sama sekali.
"Bay, copot nanti mata kamu kalau kamu pelototi mereka terus seperti itu," canda Calvint yang hanya ditanggapi Bayu dengan dengusan.
"Nyebelin. Tukar tempat dong, Kak! Capek aku muter kepala kayak gini," pinta Bayu yang dihadiahkan gelengan pelan. Posisi Bayu saat ini membelakangi tempat duduk Giana dan Ariel sehingga jika ia ingin melihat keduanya, ia harus memutar kepalanya agar bisa menatap ke belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I? [COMPLETED]
ChickLitElsa Giana Saraswati atau yang kerap kali disapa Giana diutus oleh sang atasan menjadi tutor bagi salah seorang karyawan magang. Namun, karyawan magang ini bukanlah karyawan biasa. Melainkan putra tunggal dari bos besar tempat dirinya bekerja. Wala...
![Can I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/215905732-64-k460037.jpg)