Giana mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Gaun putih yang sederhana dengan ekor panjang melekat sempurna di tubuh langsingnya. Seulas senyum pun menambah cerah aura dirinya. Matanya menatap cermin dengan pandangan tak percaya.
"Ini bukan mimpi, Sayang," ujar Marie seraya tersenyum lembut ke arah cermin yang masih saja dilihat oleh Giana.
Giana menoleh dan tersenyum tipis. "Tante," ucapnya pelan seraya berjalan menghampiri wanita yang akan menjadi ibu mertuanya itu.
Marie menyentuh pipi Giana lembut. "Kok tante sih, Ca? Mama, dong!" koreksi Marie membuat Giana tersenyum canggung.
"Sebentar lagi, pengantin wanita harus memasuki aula, ya!" ucap seorang gadis yang bekerja di WO yang disewa oleh keluarga Bayu. Gadis itu terlihat kaget saat matanya menangkap kehadiran Marie. "Lho? Kok ibu di sini?" tanyanya tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Saya tidak bisa membiarkan putri saya yang cantik ini berjalan sendiri tanpa pendamping. Jadi saya akan mendampinginya menuju aula," jelas Marie pelan membuat Giana kaget.
Giana langsung menoleh ke arah Marie. "Tan, tapi ...."
Marie menggeleng tegas dan menempelkan telunjuknya ke mulut Giana. "Gak boleh protes, Ca. Kita keluarga nah. Kamu anak Mama, jadi Mama harus dampingin kamu sampai ke altar. Ya?"
Giana menggenggam tangan Marie lembut dan meremasnya pelan. Gadis itu menggeleng pelan. "Tante harus ada di sisi Gilang. Bukan di sisinya Elsa. Nanti kita bakal ketemu di altar, kok. Elsa gak apa sendiri. Elsa bisa," jelas Giana pelan.
"Kata siapa kamu bakal jalan sendiri ke altar? Kan ada aku," potong Calvint seraya tersenyum lembut.
Giana membelalakkan matanya lebar. "Bapak?" seru Giana kaget.
Marie tersenyum lebar. Ia kemudian menyeret keponakannya itu ke hadapan Giana dan berseru senang, "Bagus. Kamu jaga putri cantik tante baik-baik, ya! Awas kalau kamu apa-apain! Tante bakal bikin perhitungan sama kamu!"
Calvint dan Giana tertawa. Calvint menatap Giana dan meneliti penampilan gadis itu. "Wah! Ternyata kamu udah resmi jadi adik aku, ya," candanya membuat Giana tersenyum kecil.
"Jadi selama ini hanya saya yang menganggap bapak itu kakak saya?" goda Giana membuat Calvint menggeleng tak percaya.
Marie hanya tertawa melihat interaksi keduanya. "Mama tinggal, ya, Sayang," ujarnya pada Giana.
Giana mengangguk pelan. "Iya," jeda sejenak, "Ma." Giana menundukkan kepalanya malu. Sementara Marie terlihat senang dengan panggilan itu. Senyumnya melebar dan ia meninggalkan ruangan itu dengan perasaan ringan.
"Siap berangkat?" Calvint menyodorkan lengannya agar menjadi tempat tumpuan Giana. Pria itu terlihat tampan dengan jas hitamnya.
Giana mengangguk tegas dan tersenyum. Ia menyambut lengan Calvint dengan mantap dan membiarkan pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu menuntunnya menuju altar. Begitu pintu aula terbuka. Matanya langsung terpancang pada pria yang tengah berdiri di depan altar.
Pria yang akan menjadi pendamping hidupnya selamanya. Pria yang sudah menunggunya selama bertahun-tahun lamanya. Pria yang sudah mengajarkannya apa itu cinta dan kasih sayang. Pria yang selalu memprioritaskan dirinya di atas apapun. Pria sempurna—di matanya—yang akan selalu membuatnya bahagia—apapun dan bagaimana pun keadaannya.
Mata Giana mengedar ke seluruh ruangan. Ia melihat Noah dan Clara tersenyum senang melihatnya. Ia juga melihat Hendrawan dan Marie yang melihat mereka dengan bahagia. Bahkan Marie meneteskan air mata harunya.
"Kamu cantik," bisik Bayu membuat Giana merona.
"Apa kalian berjanji akan hidup bersama baik susah maupun senang?"
"Ya, saya berjanji," ucap Bayu tegas.
Giana tersenyum dan mengangguk sekali. "Ya, saya berjanji," jawab Giana tak kalah tegas.
Semua orang bertepuk tangan atas pernikahan mereka. Bayu meremas jemari Giana lembut. Kemudian, menarik Giana ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya lembut.
Sesi pemberkatan pernikahan berjalan dengan lancar. Kini mereka harus pindah ke hotel untuk melanjutkan ke acara pesta. Sepanjang perjalanan, kedua tangan insan itu saling menggenggam. Mata keduanya berbinar bahagia. Senyum pun tak lepas dari wajah keduanya. Semua orang yang hadir menyelamati mereka.
"Capek?" tanya Bayu membuat Giana yang menyandarkan kepalanya di bahunya mengangkat wajah. Giana tersenyum tipis.
"Tidurlah sebentar. Nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunkan," ujar Bayu lembut. Kini mereka sedang menuju rumah setelah menerima ucapan selamat dari banyak tamu undangan. Pesta berjalan dengan sangat lancar.
Bayu menatap Giana yang sudah terlelap dengan tatapan tak tega. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya. Ia membuka pintu dan membopong wanitanya keluar dari mobil. Kakinya melangkah terus hingga ke kamarnya. Giana dibaringkannya dengan hati-hati.
Kemudian, ia melepas tuxedonya. Setelahnya ia melihat ke arah Giana. Melepaskan semua jepit rambut yang ada di kepala gadis itu dan juga sepatunya. Setelah selesai, ia melangkah masuk menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
"Kenapa gak bangunin aku?" tanya Giana begitu Bayu keluar dari kamar mandi.
Bayu tersenyum tipis. "Kamu kelihatan capek banget, Ca. Jadi aku gak tega," jelasnya.
Giana menghela napas panjang. "Kamu pasti juga capek. Apa kamu yang gendong aku ke kamar?" tanya Giana malu-malu.
Bayu hanya mengangkat bahunya tak acuh dan tersenyum misterius. Namun, itu sudah cukup bagi Giana. Gadis itu lantas berlari dan mengunci dirinya di kamar mandi lantaran malu. Setelah dua puluh menit membersihkan dirinya, kini Giana sudah bersih.
Dan masalah lain pun mulai mengganggu benaknya. Kantuknya menghilang begitu mengingat malam ini merupakan malam pertamanya. Rasa gugup mulai menjalari setiap inci tubuhnya. Jantungnya bermarathon ria di dalam sana.
Berkali-kali ia menarik dan menghembuskan napas panjang demi membuang rasa gugupnya. Kedua tangannya saling meremas kuat. Sebuah ketukan di pintu kamar mandi membuatnya berjengit kaget.
"Ca? Kamu gak tidur di dalam, 'kan? Udah setengah jam lebih loh kamu di dalam. Nanti masuk angin." Giana bisa menangkap nada khawatir yang pekat di setiap kata yang keluar dari mulur Bayu.
"Oh? I-iya. I-ini juga mau keluar," balas Giana terbata. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan seraya menekan handle pintu ke bawah dan menarik pintu agar terbuka lebar.
Tubuhnya membatu saat menyadari Bayu berada tepat di depannya dengan posisi sedang menguping di pintu. Wajah mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas hangat Bayu yang menerpa wajahnya. Napas Giana tercekat. Matanya berkedip dengan cepat.
Kakinya melangkah mundur saat seluruh indra tubuhnya mulai bekerja dengan normal. Namun, Bayu tak ingin membiarkannya menjauh. Pria itu menariknya ke dalam pelukannya dan langsung mendaratkan ciuman lembut di bibirnya.
Sekali lagi, tubuh Giana membatu. Matanya membelalak lebar. Jantungnya menggila. Tangannya meremas kuat lengan baju Bayu. Matanya terpejam saat Bayu mulai memagut bibirnya dengan lembut.
Bayu memeluknya erat. Dengan bibir yang masih saling memagut, Bayu menggendong Giana menuju tempat tidur dan membaringkannya dengan hati-hati. Ia melepaskan ciumannya dan menatap Giana lembut.
"Makasih karena udah jadi istriku, Ca. I love you so bad." Bayu memeluk Giana erat dan menyurukkan wajahnya di ceruk leher Giana.
Giana membalas pelukan itu tak kalah kuat. "Makasih, Lang. I love you too."
--------------------------
1070.25122020
Hore! Extra Part seperti yang udah aku janjikan. Semoga kalian suka.
Merry Christmas buat kalian yang merayakan.
Btw, aku mau promosi dikit gpp kali ya?
Baca karya baruku juga ya. Judulnya Zulfa Heart's Problem.
Dan tolong dukung karya-karyaku yang akan datang.
Terima kasih banyak. Tanpa kalian cerita ini gak akan selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I? [COMPLETED]
Chick-LitElsa Giana Saraswati atau yang kerap kali disapa Giana diutus oleh sang atasan menjadi tutor bagi salah seorang karyawan magang. Namun, karyawan magang ini bukanlah karyawan biasa. Melainkan putra tunggal dari bos besar tempat dirinya bekerja. Wala...
![Can I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/215905732-64-k460037.jpg)