Pagi-pagi sekali, Bayu sudah sampai di kantor dan mendapati ruangannya masih gelap gulita yang menandakan bahwa ia merupakan orang pertama yang sampai. Niat untuk berbicara pada Giana pagi-pagi pun luntur. Ia bergerak menghidupkan lampu, UPS, printer, dan juga komputer miliknya dengan lemas.
"Kok jam segini belum datang? Padahal biasanya juga jam segini udah mulai kerja," gumam Bayu agak kecewa. Ia menatap kubikel Giana yang masih kosong dengan pandangan rindu.
Lima belas menit berlalu, pintu ruangan pun terbuka. Akan tetapi, bukan orang yang Bayu harapkan-bukan Giana, melainkan Haykal. Bayu tersenyum ramah dan menyapa seniornya itu.
"Pagi, Kak!"
Haykal mengangguk pelan. "Pagi, Bay! Sendiri? Giana belum masuk?"
"Belum. Mungkin sebentar lagi," harap Bayu cemas.
Sepuluh menit berlalu dan tak ada percakapan di antara keduanya. Sekali lagi, pintu terbuka. Namun, lagi-lagi Bayu harus menelan kekecewaan.
"Pagi, Pak!" sapa Bayu dan Haykal kompak saat Calvint masuk melalui pintu kaca tersebut.
"Pagi! Tumben kalian berdua aja. Yang lain belum sampai?" tanya Calvint mencoba basa-basi.
Keduanya menggeleng pelan hingga Calvint pun segera pamit menuju ruangannya. Bayu menatap jam tangannya gusar. Dua puluh menit menuju jam delapan. Di saat terdengar suara pintu terbuka, Bayu akan segera berdiri untuk melihat siapa yang masuk. Kemudian ia akan menghela napas panjang tanda kecewa saat wajah yang diharapkan tak kunjung kelihatan.
Lima menit sebelum jam delapan, pintu dibuka dengan kasar hingga membuat Bayu segera melompat dari tempat duduknya. Saat melihat wajah Sierra yang basah dengan keringat, Bayu menghela napas panjang.
"Di mana dia? Katanya hari ini bakal masuk? Kenapa sisa lima menit belum juga datang?" gumam Bayu antara kecewa dan bingung.
Tepat jam delapan, saat bel masuk berbunyi, pintu terbuka dan orang yang ditunggu-tunggu oleh Bayu pun muncul.
"Gia!" seru Bayu senang tanpa sadar. Kakinya melangkah ke arah Gia tanpa ia sadari. Saat berada di depan gadis itu, kekhawatiran menempel lekat di wajahnya.
"Lo kenapa? Sakit? Muka lo pucet banget, Gi." Tangan Bayu terulur ke arah kening Giana dan segera ditepis oleh gadis itu.
"Aku gak apa. Kerja sana! Udah bel masuk," ucap Giana dingin sembari melangkah ke kubikelnya.
Bayu kaget dan terdiam. Melihat Giana yang sudah mulai bekerja, ia pun memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Sepanjang waktu bekerja, Bayu tak bisa fokus 100% pada kerjaannya. Sesekali, ia menoleh ke belakang ke arah Giana yang terlihat lemas. Terkadang, ia berjalan ke arah Giana pura-pura bertanya mengenai pekerjaannya walau sebenarnya ia sudah sepenuhnya mengerti hanya untuk memastikan bahwa gadis itu masih sadar.
"Gi, makan siang, yuk!" ajak Bayu begitu jam 12 tepat.
Bukannya menjawab, Giana malah menelungkupkan kepalanya di atas meja. Bayu yang khawatir mencoba menyentuhnya. Panas menjalari telapak tangan Bayu begitu telapaknya bertemu dengan pundak kurus Giana yang berbalut baju tebal.
"Lo sakit." Pernyataan Bayu yang diserukan dengan nada kesal membuat Giana mengangkat kepalanya kesal.
"Tolong, diam! Aku pusing. Biarkan aku tidur sebentar selama jam makan siang," pinta Giana dengan suara yang hampir hilang.
"Oke. Lo boleh tidur, tapi lo harus makan dan minum obat dulu," tegas Bayu tak mau dibantah.
Akan tetapi, Giana tetaplah Giana. Ia tetap kekeh dengan keputusannya untuk tidur. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dan mengabaikan Bayu yang mendengus kesal.
Bayu segera turun ke kantin dan meluncur ke ruang kesehatan kantor. Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera naik dan menuju kubikel Giana dengan langkah mantap.
"Nih! Makan sama minum obat!" perintah Bayu sembari membuka bungkusan makanan yang ia bawa.
Giana memutar bola matanya malas. Ia kesal. Ia hanya ingin tidur sebentar dan Bayu tak membiarkannya. Ingin rasanya ia mengacak-ngacak wajah pemuda di depannya itu. Akan tetapi, niat itu segera ia urungkan saat melihat Bayu mengambil sendok dan menyendokkan nasi untuk menyuapinya.
"Aku bukan anak kecil," ketusnya membuat Bayu tertawa.
Bayu mengelus puncak kepala Giana. "Gue gak bilang kalau lo anak kecil. Nah! Gini dong! Makan yang banyak. Biar cepat sehat. Obatnya jangan lupa diminum, ya."
"Makasih," ucap Giana tulus. Ia sempat tertegun sejenak. Rasa hangat dari elusan kepala yang sudah lama tak dirasakannya-atau mungkin tak pernah dirasakannya sama sekali-membuat hatinya-entah mengapa-terasa hangat. Senyum tipis menghias sepersekian detik di wajah yang biasanya datar itu.
Bayu merenggangkan otot-ototnya begitu bel pulang sudah berbunyi. Dengan kecepatan kilat, ia membereskan kubikelnya. Kemudian, ia segera berjalan menuju kubikel Giana dan mendapati Gadis itu masih berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
'Seorang pekerja yang rajin dan hebat.' pikirnya.
"Gi? Ayo, pulang! Gue anter," ajak Bayu.
"Kamu duluan saja. Masih ada pekerjaan yang belum selesai," balas Giana tanpa memutuskan kontaknya dengan layar komputer.
"Lebih baik kamu pulang dan beristirahat. Saya tidak mau ada berita mengenai anggota saya yang collaps saat bekerja, Giana."
Giana agak kaget saat suara bariton itu menyela. "Maaf, Pak. Tapi saya benar-benar akan pulang setelah ini. Ini tanggung. Tinggal sedikit."
"Jangan keras kepala, Giana! Hari ini pun, kamu seharusnya masih saya berikan izin sakit, tapi kamu malah datang. Sekarang pulang lah. Pulang dan istirahat! Jangan membantah!" ucap Calvint dengan nada final.
Giana menghela napas pasrah, "Baik, Pak. Selamat sore! Saya duluan," pamitnya. Jika Calvint sudah menggunakan nada final seperti itu, Giana tak akan bisa menolak. Giana sangat menghormati Calvint, baik sebagai atasan maupun sebagai orang yang lebih tua darinya. Maka dari itu, sebisa mungkin ia tak ingin membuat atasannya itu kecewa.
"Gue anter."
Giana menoleh dan agak kaget saat mendapati Bayu masih di sampingnya. Pemuda itu tersenyum puas karena melihat dirinya tengah membereskan kubikel, bersiap untuk pulang. Giana menggeleng. "Gak perlu. Kamu duluan saja. Saya bisa sendiri."
Ditolak dengan tegas seperti itu, mau tak mau, Bayu pun mundur. "Ya, sudah. Hati-hati. Gue duluan, ya."
"Jangan coba-coba buat diam-diam mengikuti aku!" ancam Giana dengan nada rendah.
Bayu terpatung. Niatnya terbaca membuatnya salah tingkah. Ia berbalik dan menatap Giana geli. Tak lupa ia pamerkan cengiran khasnya. "Tau aja. Hehe."
Giana melotot tak suka membuat cengiran Bayu semakin lebar. Pelototan Giana bertahan selama satu menit lamanya hingga Bayu sadar bahwa gadis itu serius. Ia pun memilih untuk mengalah.
"Oke, lo kamu janji bakal telepon gue langsung kalau ada apa-apa," ucap Bayu membuat Giana lega.
Giana mengangguk paham, "Iya. Kalau aku tersesat atau pingsan di tengah jalan, aku bakal telepon kamu."
Giana menatap kepergian Bayu dengan perasaan ringan. Sebenarnya, Bayu bukan pria yang buruk. Jika diantar pulang oleh pemuda itu, juga bukan masalah besar. Akan tetapi, hari ini, ia berharap bisa bertemu dengan Gilang. Ia hanya ingin jalan pulang bersama Gilang.
----------------------
1053.25042020
Halo! Jangan lupa mampir ke series yang lain ya. Mayan loh buat ngisi waktu senggang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I? [COMPLETED]
Literatura FemininaElsa Giana Saraswati atau yang kerap kali disapa Giana diutus oleh sang atasan menjadi tutor bagi salah seorang karyawan magang. Namun, karyawan magang ini bukanlah karyawan biasa. Melainkan putra tunggal dari bos besar tempat dirinya bekerja. Wala...
![Can I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/215905732-64-k460037.jpg)