31

1.4K 122 2
                                        

Tiga hari sudah berlalu sejak insiden Bayu membentak Giana di kantor. Dan itu artinya sudah tiga hari juga Bayu tak bisa menemui Giana. Rasa bersalah semakin membesar setiap Bayu teringat histeria Giana terakhir kalinya. Hatinya sakit melihat gadis yang sangat ia sayangi menangis ketakutan karena kelakuannya. Benar kata Ariel tiga hari yang lalu, ia berengsek.

Masih terdengar jelas di telinganya makian kasar Ariel tepat setelah gadis itu tiba di kamar rawat Giana. Ia tak mampu menyanggah semua makian dari Ariel karena memang benar adanya. Ia yang membuat Giana yang hampir baik-baik saja menjadi terpuruk—bahkan amat sangat terpuruk. Selama tiga hari ini, Bayu hanya bisa menatap Giana dari kaca pintu kamarnya. Giana yang hanya duduk sambil memandang kosong ke depan sesekali berteriak dan menangis ketakutan.

"Bay, lo udah denger?" Suara Haykal menyeret kembali nyawa Bayu ke dalam tubuhnya.

Bayu menatap Haykal bingung, "Dengar apa, Kak?"

Haykal menatap Bayu dengan gelisah. Ia membuka mulutnya, tetapi tak ada suara yang keluar. Pemuda itu terlihat bingung sekaligus bimbang. Sekali lagi Haykal membuka mulut hanya untuk menutupnya kembali.

Perasaan tak enak mulai menyelimuti hati Bayu. Ia yakin sekali apa yang ingin disampaikan oleh Haykal berhubungan dengan Giana. Segera ia menyambar ponsel pintarnya dan mencari kontak Noah di sana.

Bayu mengetuk-ngetukkan jari dengan tak sabaran di atas meja selagi mendengar nada sambung. Pada nada kelima, Noah mengangkatnya.

"Kenapa, Bay?" Suara Noah terdengar tenang membuat hati Bayu sedikit lebih ringan.

"Giana gak papa, 'kan, No?" tanya Bayu tanpa berusaha menyembunyikan kegelisahannya sedikit pun.

Helaan napas berat terdengar di ujung sana membuat jantung Bayu serasa mencelus. Rasa panik mencengkam dirinya dengan kuat hingga tak sadar Bayu berdiri hingga hampir menabrak Haykal yang masih berada di depannya.

"Please, No! Bilang ke gue kalau Gia gak papa," pinta Bayu dengan suara memelas.

Detik-detik diamnya Noah membuat Bayu ketar-ketir. Ia sudah siap melesat menuju rumah sakit hingga Noah menjawab dengan suara berat.

"Gia ... aku gak bisa bilang dia baik-baik aja. Tapi ... dia bukan juga gak baik-baik aja. Seperti yang kamu tahu, tidak ada perubahan apapun dari keadaannya yang terakhir kali. Saat ini, Gia sudah tidak tiba-tiba histeris seperti kemarin."

Perasaan lega menyiram hati Bayu dengan cepat. Saking leganya, kakinya sampai lemas hingga ia terduduk kembali di kursinya. Ia senang, walau tak membaik, setidaknya keadaan Giana tidak semakin memburuk. Menurutnya itu sudah lebih dari cukup.

"Tapi ...."

Belum sempat otot Bayu bersantai. Kini harus kembali tegang begitu mendengar kata 'tapi' dari bibir Noah.

"Tapi?"

"Itu ... hmm ... sebenarnya aku gak boleh kasih tahu ke kamu. Tapi kurasa kamu harus tahu." Noah tak dapat menyembunyikan kebimbangan dalam suaranya.

Detak jantung Bayu menggila. Firasatnya mengatakan bahwa apa yang akan disampaikan Noah bukanlah sesuatu yang baik. Dan memang begitu adanya karena begitu mendengar ucapan Noah selanjutnya Bayu merasa seperti tersambar petir.

Sambungan telepon Noah sudah terputus sejak sepuluh menit yang lalu. Akan tetapi, kalimat terakhir yang disampaikan Noah masih terngiang-ngiang di telinganya. Giana akan ke Amerika. Hanya itu inti dari percakapannya dengan Noah.

"Gak! Gak bisa!" gumam Bayu kalut. Ia tak bisa membiarkan Giana pergi meninggalkannya lagi. Ia tak ingin lagi berpisah dengan Giana. Tidak saat ini, besok, lusa, dan selamanya. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Can I? [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang