Sabtu, hari di mana masalah ini akan selesai atau bahkan menjadi tambah rusak. Bayu bangun pagi-pagi sekali dan segera bersiap-siap. Tak lupa ia menelepon Giana untuk mengingatkan gadis itu kembali janji mereka. Sejujurnya, Bayu amat sangat gugup saat ini.
Ia tahu beberapa hari belakangan Giana menjadi lebih dingin padanya, tetapi ia tak tahu apa alasannya—entah gadis itu sudah mengetahui hal ini atau firasat gadis itu sangat tajam. Bayu tak tahu dan lebih memilih menutup mata atas hal ini. Ia hanya bisa berharap bahwa urusan ini akan benar-benar terselesaikan tanpa meninggalkan satu pun ganjalan di antara mereka berdua.
"Ma, Pa, Bayu berangkat," pamitnya ada Hendrawan dan Marie yang tengah bersenda gurau di taman belakang. Sepasang suami istri paruh baya itu menoleh dan menatap Bayu lembut. Marie melambaikan tangan meminta Bayu agar mendekat.
Marie meraih tubuh Bayu ke dalam pelukannya. "Nak, apapun yang terjadi nanti. Ingatlah! Kalian hanya boleh ambil keputusan saat kalian berkepala dingin. Nanti, kalau Giana butuh teman antar ke sini, ya. Jangan antar dia ke kontrakannya. Kamu paham?" bisiknya lembut sambil mengelus punggung putranya.
Bayu mengangguk. Ia mempererat pelukan tersebut. Hangat dan nyaman hingga membuat perasaannya menjadi tenang. "Makasih, Ma." Bayu mengecup pipi Marie dan kembali memeluknya erat.
"Semangat, Boy! Kamu anak Papa yang membanggakan. Papa percaya sama kamu. Menangkan hati calon menantu Papa yang manis itu, ya." Hendrawan menepuk bahu Bayu sembari menatapnya hangat.
"Iya, Pa. Semoga hubunganku dan Elsa gak semakin runyam," balas Bayu penuh harap. Kemudian, ia berlalu dari hadapan sepasang suami istri tersebut.
Bayu mengendarai mobilnya membelah jalanan akhir minggu yang cukup padat. Perjalanannya memakan waktu lebih lama setengah jam dari biasanya. Ia sampai di kontrakan Giana dan mengetuk pintu kayu berwarna coklat itu pelan. "Ca?"
Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan menampilkan Giana dengan penampilan santainya. Kaos longgar berwarna hitam dilapisi kardigan berwarna serupa, serta celana jeans hitam dan dipadukan dengan sneakers berwarna biru dongker. Bayu tertegun melihat gaya berbusana Giana yang seolah akan pergi ke pemakaman.
"Kamu siap?" tanya Bayu sembari memamerkan senyum manisnya.
Giana mengangguk pelan. "Ya. Kita mau ke mana memangnya?"
Bayu menggenggam tangan Giana erat dan menuntunnya menuju mobil. Ia membukakan pintu penumpang dan menutupnya setelah Giana masuk. Lalu, berlari kecil menuju pintu pengemudi dan masuk ke dalam.
"Kita akan pergi ke luar kota sebentar. Ada yang harus kamu lihat," ucap Bayu setenang mungkin. Hanya itu saja percakapan mereka sepanjang perjalanan. Tak ada lagi yang berniat membuka mulut. Masing-masing dari mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga mereka sampai di tempat tujuan. Rumah Sakit Kanker Maria.
Giana menoleh dan menatap Bayu penuh tanda tanya. Ia memutar otaknya mencari tahu apa yang harus ia lihat di sini. Apakah yang harus ia lihat adalah tunangan Bayu yang tengah sekarat? Ataukah seorang dokter atau perawat yang tengah menjalin hubungan dengan Bayu? Atau ia disuruh melihat bangunan rumah sakit ini agar bisa membangun satu yang sama? Entahlah, ia tak tahu sama sekali. Otaknya macet.
Giana tak tahu dan sama sekali tak mengerti. Ia hanya mengekori Bayu yang tak mengatakan apapun dan hanya menggenggam tangannya dengan erat. Dalam genggaman itu, ia bisa merasakan perasaan cemas, takut, dan gelisah milik Bayu. Hal tersebut menular padanya. Mereka berdua berhenti di sebuah kamar bernomor 502.
"Dia ada di sini. Kamu mau masuk sendiri atau mau aku temani?" Giana menatap Bayu penuh tanya saat mendengar kalimat pertama yang meluncur dari bibir Bayu selama lima jam terakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I? [COMPLETED]
ChickLitElsa Giana Saraswati atau yang kerap kali disapa Giana diutus oleh sang atasan menjadi tutor bagi salah seorang karyawan magang. Namun, karyawan magang ini bukanlah karyawan biasa. Melainkan putra tunggal dari bos besar tempat dirinya bekerja. Wala...
![Can I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/215905732-64-k460037.jpg)