Elona enggan bangkit dari tempat tidurnya meski sudah jam 11 siang. Rasanya masih belum cukup ia tidur, melepas rasa lelahnya setelah tenaganya diperas dari senin sampai jum'at.
Tapi ia tetap harus bangun untuk masak, nyapu, ngepel, nyuci dan menemani leo bermain.
"HUAAAAM" elona menguap lebar dengan mata yang masih tertutup.
Ia merasakan ada tangan yang menutup mulutnya saat sedang menguap.
Pasti leo, batinnya.
Sudah sering leo menutup mulutnya saat sedang menguap, kemudian leo akan protes 👋cakep-cakep nguapnya horror, kalo gak lek tutup ntar mulut mama bisa masuk buaya
Elona sudah tersenyum membayangkan leo yang akan memprotesnya lagi. Tapi sebelum protes, elona meraih tangan leo yang masih bertengger di mulutnya, lalu memberi kecupan singkat di punggung tangan itu.
Eh tapi... tangan leo kok gede ya?
Elona memikirkan keanehan itu. Mungkin saja ia terlalu sibuk belakangan ini hingga tidak sadar kalau putranya sudah tumbuh besar.
"El...saya belum cuci tangan." Suara berat wonwoo sukses membangunkan elona, beserta emosinya.
"BAPAK NGAPAIN MASUK KAMAR SAYA?! KELUAR!" elona menghempaskan tangan wonwoo dengan kasar setelah sadar kalau itu bukan tangan leo.
Elona panik, jantungnya berpacu sangat cepat, ia tidak menyangka dirinya baru saja mencium tangan wonwoo. Itu benar-benar memalukan.
"Salah sendiri pintunya gak dikunci. Untung saya yang masuk, kalo tadi maling gimana coba?"
"Pintu kamar saya memang rusak, gak bisa dikunci! Bapak ngapain ke rumah saya?! Siang ke sini, sore ke sini, malem ke sini. Bapak kayak pengangguran tau gak? Bapak gak punya kerjaan apa?! Lagian ini kan sabtu! Ganggu orang tidur aja!"
"Saya ngapain? Ya mau bangunin kamu lah. Udah jam berapa ini? Anaknya udah kelaparan, compang camping, mamanya malah ngorok."
"Enak aja! Saya gak ngorok ya! Bapak tuh yang tidurnya ngorok!"
"Tau dari mana saya tidurnya ngorok?"
"Eh? Hmmm... Tau aja... hmm... dari muka bapak."
Wonwoo pikir elona hanya asal menebak. Tapi sebenarnya, elona keceplosan. Ia sangat ingat dengan kebiasaan tidur mantan suaminya itu yang suka mengeluarkan suara kroook kroook hiiik kroook saat tidur.
"Mandi dulu gih. kita makan di luar yuk?" Wonwoo menepuk bahu elona.
"Gausah pegang-pegang!"
"Kamu aja boleh nyium-nyium, masa saya gak boleh pegang-pegang sih." Wonwoo mencolek dagu elona sambil tersenyum jahil.
"Gak malu apa keganjenan sama saya?! Saya ini udah punya anak, pak!"
Pertanyaan itu memancing wonwoo untuk membahas ayah leo. Ia juga perlu tau, agar bisa mendekati elona.
"Memangnya siapa yang bakal marah kalo saya keganjenan sama kamu? Suami kamu?"
Raut wajah elona berubah drastis ketika wonwoo menyebutkan kata 'suami'.
"..." elona menatap wonwoo dengan ekpresi yang sulit untuk dibaca.
"Hmm... Maaf, el... hmm... saya cuma... hmmm...papanya leo...hmmm... sekarang..." wonwoo jadi bingung bagaimana cara menanyakan hal sensitif itu, ia takut elona marah.
"Bapak pengen tau papanya leo di mana?" Elona dengan tegas ingin memperjelas semuanya.
"..." wonwoo mengangguk.
