Sebelas

1.5K 100 13
                                        

"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" berondong Suho saat aku menemuinya di ruang tamu. Aku tidak mungkin menyuruhnya masuk ke kamar meskipun kami sedang dekat.

"Aku sudah jauh lebih baik."

"Syukurlah. Aku tadi cepat-cepat ke sini setelah selesai bertemu klien."

Aku tersentuh mendengar penuturannya. Sepertinya Suho sangat mengkhawatirkanku hingga langsung datang ke sini setelah bertemu klien. Rasanya aku ingin sekali melompat ke arahnya, memeluk tubuhnya dengan begitu erat karena terlalu senang.

"Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kamu ingin memeluk lelaki cupu ini? Menjijikkan sekali," komentar Sehun setelah menaruh secangkir kopi dan teh hangat di atas meja ruang tamu.

Wajahku memerah bukan lagi karena tersipu oleh perhatian Suho, tapi malu karena Sehun bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan. Cowok tengil ini benar-benar kurang ajar. Apa dia sengaja membuatku malu di depan Suho?

"Jaga ucapanmu, Sehun!" ucapku penuh penekanan sambil menatapnya tajam.

Sehun malah tersenyum miring. Aku yakin sekali ucapanku hanya dianggap angin lalu olehnya.

Menyebalkan!

Rasanya aku ingin sekali menendangnya keluar dari rumah. Atau mungkin keluar angkasa agar dia berhenti menggangguku lagi.

"Terima kasih untuk minumannya." Ucapan Suho membuatku mengalihkan pandang dari Sehun. Lelaki itu mengerutkan dahi setelah menghirup sedikit kopi yang Sehun buat untuknya. Apa Suho tidak menyukai kopi?

"Ada apa dengan kopinya? Apa rasanya tidak enak?"

Sehun memutar bola mata melihatku yang begitu mengkhawatirkan Suho.

"Aku membuatnya dengan takaran kopi dan gula yang pas. Aku yakin sekali dia menyukainya."

"Aku tidak bertanya padamu. Diamlah, Oh Sehun!"

Sehun berdecak kesal karena aku lebih membela Suho.

"Rasa kopi buatanmu selalu enak," komentar Suho setelah meminum kopi buatan Sehun.

Sepertinya ada yang salah dari ucapan Suho barusan. Selalu enak? Apa dia sudah pernah meminum kopi buatan Sehun? Aneh.

"Terima kasih," balas Sehun acuh.

"Kenapa kau ada di rumah? Kau tidak bolos sekolah lagi, kan?

Sehun menyeringai, tapi dia malah terlihat semakin tampan. Sungguh. Aku tidak bohong. "Apa pedulimu, urus saja sendiri urusanmu."

Binar di mata Suho perlahan meredup. Penyesalan dan rasa bersalah tergambar jelas di kedua sorot matanya. Apa dia merasa bersalah pada Sehun? Pada cowok tengil ini?

"Kalian sudah saling kenal?" tanyaku setelah Sehun kembali menemani Sean bermain di ruang tengah.

"Kami mengenal satu sama lain dengan sangat baik."

Jawaban dari Suho sukses membuat mulutku menganga lebar. Aku tidak pernah menyangka jika Sehun dan Suho sudah saling kenal.

"Kok bisa?" pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Suho hanya tersenyum alih-alih menjawab pertanyaanku.

Mencurigakan.

"Sean di mana?" Dia malah bertanya. Sepertinya Suho enggan memberi tahu kenapa dia bisa mengenal Sehun. Ah, ya sudahlah.

"Ada di dalam. Mau kupanggilkan?"

"Boleh."

"Sean, ke sini sebentar, Sayang."

Berondong NakalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang