Kepala ini rasanya ingin meledak. Aku tidak pernah menyangka Suho nekad memintaku untuk menjadi istrinya secepat ini. Aku memang pernah mempunyai impian untuk hidup bahagia bersamanya sampai maut memisahkan. Tapi itu dulu, sebelum hati ini akhirnya berpaling ke Sehun.
Dia memberi waktu tiga hari untuk mengambil keputusan. Menerima atau menolak lamarannya. Waktu tiga hari seperti tiga detik bagiku. Sangat singkat. Otak ini tidak bisa berfikir jernih. Buntu. Aku tidak bisa menerima pinangannya. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa karena bagiku pernikahan itu sangat sakral. Aku tidak mungkin bermain-main dengan pernikahan, apalagi dulu pernah gagal.
Namun, aku tidak tega menolak lamarannya. Suho lelaki yang sangat baik, dewasa, juga mau menerimaku apa adanya. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tuhan, aku bingung sekali.
"Apa berkas untuk rapat nanti sudah siap, Anne?"
Aku tersentak mendengar pertanyaan Mr. Senna barusan. "Berkas yang mana, Pak?"
"Surat perjanjian kerja sama dengan klien nanti. Jangan bilang kau belum menyiapkannya?"
Aku pun buru-buru mencari berkas yang diminta Mr. Senna dari tumpukan map yang ada di atas meja. Surat perjanjian kerja sama dengan perusahaan Chanyeol tidak ada. Sepertinya aku lupa belum mencetaknya.
"Kau belum menyiapkannya?"
"Maaf, Pak. Saya lupa belum mencetaknya," jawabku tidak enak.
Mr. Senna menghela napas panjang. "Untung saja klien mengundur waktu meeting satu jam. Kenapa hari ini kau tidak fokus sama sekali, Anne? Apa kau sedang ada masalah?"
Ada, Pak. Masalah saya banyak sekali, membuat kepala ini seperti ingin meledak. Pusing. Saya baru saja dilamar oleh lelaki yang begitu sempurna, tapi sayangnya saya tidak mencintai lelaki itu. Sementara cowok yang saya suka malah bersenang-senang dengan gadis lain.
Saya galau berat, Pak. Pengen nangis saja rasanya.
"Astaga, malah melamun." Mr. Senna memutar bola mata. "Sepertinya kau memang sedang ada masalah."
"Maaf, Pak." Aku menunduk dalam, merasa bersalah karena mengabaikan Mr. Senna.
"Kalau kau tidak bisa fokus, batalkan saja rapat kita siang nanti."
Aku sontak mengangkat kepala. "Yah, jangan dong, Pak. Proyek kerja sama ini kan, penting. Maaf, saya akan berusaha fokus."
"Sungguh?" Mr. Senna menatapku lekat-lekat.
"Iya, Pak," jawabku ragu. Sejak tadi wajah Suho dan Sehun terus bersliweran di kepala. Argh!
"Kalau kau mau rapat nanti dilanjutkan, kenapa kau tidak segera mencetak dokumennya, Anne?"
Aku sontak berdiri, lalu membungkuk sembilan puluh derajat dan tanpa sengaja menjatuhkan tempat pensil yang berada di atas meja. Ceroboh sekali. "Maaf, saya akan mencetak dokumennya sekarang."
Mr. Senna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Hampir saja aku merusak kredibilitas sebagai sekretaris hebat karena terus memikirkan lamaran Suho.
Kenapa lelaki itu tiba-tiba ingin meminangku?
Argh, menyebalkan!
❄❄❄
Aku kembali memesan secangkir kopi ke pelayaan. Padahal aku sudah menghabiskan dua cangkir kopi selama mendamping Mr. Senna meeting. Aku butuh sesuatu yang menyegarkan karena mata ini mulai terasa berat. Apa lagi semilir angin yang menerobos masuk dari jendela kafe tempat kami mengadakan pertemuan membuat aku semakin merasa ngantuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong Nakal
FanfictionDewasa 21+ [Jangan lupa Follow authornya] Sequel Menikah Dengan Keponakan Pernah gagal berumah tangga membuat Anne memilih untuk tidak menikah lagi. Kencan buta yang diatur oleh kedua orang tuanya sering kali gagal karena Anne ingin fokus membesarka...
