Ponsel di atas meja kembali bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor baru lagi. Pasti Sehun. Sudah tiga hari ini cowok tengil itu berusaha menghubungiku dengan nomor yang berbeda. Entah dia memakai ponsel siapa lagi untuk menghubungiku kali ini karena nomornya yang asli memang sengaja aku blokir.
Rasakan!
Siapa suruh mengeluarkan spermanya di dalam rahimku. Kalau aku hamil bagaimana?
"Good morning, Annelies," sapa Mr. Senna ketika memasuki ruangan dengan senyum cerah. Secerah mentari pagi.
Akhir-akhir ini tingkah beliau aneh sekali. Tepatnya sejak keluar dari rumah sakit. Beliau sering senyum-senyum sendiri di ruangannya sambil menatap ponsel. Aneh sekali, kan?
"Selamat pagi juga, Pak," balasku sebagai bentuk formalitas saat bekerja.
"Kau terlihat cantik sekali hari ini," pujinya setelah memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Padahal aku hanya memakai kemeja putih dipadu dengan pencil skirt berwarna maroon seperti biasa. Tidak ada yang spesial.
Mencurigakan! Beliau pasti menginginkan sesuatu.
"Terima kasih atas pujiaannya, Pak," sahutku sekenanya.
"Buatkan aku kopi seperti biasa."
Tuh, kan....
"Baik, Pak."
"Jangan lupa pakai cangkir bergambar dinasaurus yang ada sedikit retakan di bagian bawahnya. Kau tahu kan, kalau cangkir itu hadiah istimewa dari mendiang istriku?"
"Iya, bawel."
"Kau bilang apa, Anne?" tanya Mr. Senna sambil menatapku tajam.
"Ti-tidak ada, Pak. Saya permisi dulu," ucapku buru-buru pergi ke pantry untuk membuat kopi. Kulihat Mr. Senna menggeleng-gelengkan kepala saat menutup pintu.
Sepuluh menit kemudian aku sudah kembali ke ruangan dengan secangkir kopi di atas nampan.
"Silakan diminum, Pak."
Mr. Senna menerima secangkir kopi yang kuulurkan, lantas menatap bagian bawah cangkir tersebut lekat-lekat untuk memastikan jika aku memakai cangkir yang tepat.
"Terima kasih, Anne. Kau tidak keliru memasukkan garam lagi, kan?"
"Tidaklah, Pak." Aku dulu memang sangaja memasukkan garam agar Mr. Senna berhenti menyuruh untuk membuat kopi, tapi cara itu ternyata tidak berhasil. Sampai sekarang beliau selalu menyuruhku untuk membuat kopi.
"Bagus." Beliau pun menyesap sedikit kopi buatanku. "Rasanya pas, tidak terlalu pahit, juga tidak terlalu manis. Aku akan menaikkan gajimu dua puluh persen bulan ini."
Mulutku sontak menganga lebar. "Serius, Pak?"
"Double serius, Annelies."
Kepalaku sontak dipenuhi uang, uang, dan uang. Jika gaji bulan ini naik, aku bisa menabung sedikit lebih banyak untuk biaya pendidikan Sean di masa depan.
"Terima kasih banyak, Pak," ucapku tidak bisa menyembunyikan senyum yang mengembang di bibir. Aku sangat senang.
"Eits, jangan senang dulu."
Senyumku seketika luntur. Seperti adonan kue donat yang gagal mengembang. Alias bantet.
"Selama satu Minggu aku tidak bekerja ada sedikit masalah di bagian keuangan. Aku minta tolong kau untuk memeriksa dan memperbaiki laporannya. Aku yakin sekali kau bisa membereskan masalah ini karena dulu pernah bekerja di bagian accounting."
Aku kira Mr. Senna dengan suka rela menaikkan gaji bulananku, tapi beliau ternyata mempunyai maksud tersembunyi.
"Kau mau, Annelies?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong Nakal
FanfictionDewasa 21+ [Jangan lupa Follow authornya] Sequel Menikah Dengan Keponakan Pernah gagal berumah tangga membuat Anne memilih untuk tidak menikah lagi. Kencan buta yang diatur oleh kedua orang tuanya sering kali gagal karena Anne ingin fokus membesarka...
