Aku berulang kali mengembuskan napas panjang. Sudah tiga hari Mr. Senna tidak masuk ke kantor karena sedang kurang enak badan. Rapat yang harus dihadiri oleh beliau pun terpaksa dibatalkan dan dijadwal ulang.
Jarum jam seolah berputar sangat lambat. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Benar-benar membosankan. Sehun pun tidak ada kabar sejak tiga hari yang lalu. Dia hanya menelepon sesekali untuk mengingatkan makan dan mengatakan rindu. Itu pun cuma sebentar karena dia selalu terburu-buru menutup telepon.
Puluhan pesan yang kukirim untuknya hari ini tidak ada satu pun yang dibaca.
Menyebalkan!
[Hei, Oh Sehun. Di mana kau? Apa kau tidak pulang lagi hari ini?]
[Balas pesanku, Bodoh!]
[Aku kangen 😭]
[Oh Sehun bodoh! Balas pesanku!]
[Aku akan membuang Vivi kalau kau tidak juga membalas pesanku!😤]
[AKU SERIUS, OH SEHUN!]
[Kau ini benar-benar ... grrr....😡]
[AKU AKAN MEMBUANG BUNTELAN KAPAS KESAYANGANMU ITU KE PULAU KOMODO 😛]
"Sialan!" Aku membanting ponsel ke atas meja dengan kesal karena Sehun mengabaikan pesanku lagi. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia selalu membuatku cemas?
Apa terjadi sesuatu dengan Lami? Apa SeolHaeOne Prince mengalami masalah? Atau, dia membuat masalah lagi di sekolah?
"Aish...." Berada di kantor sendirian malah membuat otakku memikirkan hal yang tidak-tidak. Lebih baik aku pulang lebih awal saja.
"Mama." Sean tampak terkejut melihatku datang ke sekolahnya. "Kenapa Mama menjemput, Sean?"
Aku menghela napas panjang. Kenapa anak ini malah bertanya? "Sean tidak suka dijemput, Mama?"
Sean meringis, memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. "Biasanya Mama kan, masih kerja."
Wajar bila Sean merasa heran karena aku biasanya masih bekerja dan yang menjemputnya sekolah setiap hari sopir di rumah. "Hari ini mama pulang lebih awal."
"Oh," komentarnya. Singkat. Padat. Dan sedikit menyebalkan. Entah kenapa sifat anak ini lama-kelamaan mirip Sehun. Apa mungkin karena mereka sering menghabiskan waktu bersama?
"Kamu nggak senang dijemput, mama?"
"Biasa saja."
Astaga!
Tarik napas panjang Annelies, embuskan. Ingat! Sean itu anak kandungmu! Jangan sampai kau berkata kasar padanya!
"Mama mau ngajak kamu ke rumah tante Aeris."
Kedua mata Sean sontak berbinar. "Asyik! Sean bisa bermain sama baby Yuan dan Jiwon dong, Ma?"
"Iya, Sayang," jawabku sambil mengusap puncak kepalanya.
Sebelum pergi ke rumah Aeris, aku mampir ke toko kue. Membeli beberapa macharons dan cheese cake untuk mereka.
"Mama, kenapa papa Sehun tidak pulang-pulang?"
Aku menghela napas panjang mendengar pertanyaan Sean barusan. Entah sudah berapa kali anak ini menanyakan pertanyaan yang sama. Aku bingung harus menjawab apa karena hari ini Sehun belum memberi kabar sama sekali.
"Mama tidak tahu."
Wajah Sean seketika berubah sendu. Dia pasti sangat merindukan Sehun. Hampir setiap hari mereka selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Wajar bila dia sekarang merindukan cowok tengil itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong Nakal
FanfictionDewasa 21+ [Jangan lupa Follow authornya] Sequel Menikah Dengan Keponakan Pernah gagal berumah tangga membuat Anne memilih untuk tidak menikah lagi. Kencan buta yang diatur oleh kedua orang tuanya sering kali gagal karena Anne ingin fokus membesarka...
