Sejak kemarin aku selalu melihat gadis cantik berambut cokelat itu berdiri di depan rumah. Seragam sekolah yang dipakainya terlihat tidak asing di mataku. Sama persis dengan seragam Sehun.
Apakah gadis itu teman Sehun? Atau mungkin kekasih Sehun?
Tanpa sadar aku mengembuskan napas kasar. Ada perasaan tidak suka yang menyelip dalam diri kalau gadis itu ternyata benar-benar kekasih Sehun. Aku cemburu.
"Kamu kenapa?"
Aku sontak menoleh, menatap Suho yang sedang fokus mengemudi. "Memangnya aku kenapa?"
"Hari ini kamu aneh banget."
"Aneh kenapa, sih?"
Suho mempoutkan bibir. "Aku lihat kamu tadi sedang melamun. Kamu mikirin apa, sih?"
'Mikirin Sehun,' jawabku dalam hati.
"Aku sedang memikirkan saham perusahaan kita."
Suho terkekeh pelan mendengar jawabanku barusan. "Kamu ini ada-ada saja."
Aku sedikit lega melihatnya bisa kembali tersenyum. Semoga saja Suho sudah tidak cemburu lagi. Jujur, aku sekarang merasa sedikit canggung berada di dekatnya. Entah kenapa rasanya tidak senyaman dulu. Apa mungkin karena perasaanku padanya sudah berubah?
"Aku baru sadar kalau hari ini kamu memakai gelang."
Aku sontak menatap gelang yang melingkari pergelangan tangan kanan. Gelang strowberi pemberian Sehun semalam. Manis, aku suka.
"Gelangnya cantik, kamu beli di mana?"
Tanpa sadar aku menelan ludah mendengar pertanyaan Suho barusan. Dia pasti cemburu lagi jika aku mengatakan gelang tersebut dari Sehun. Lebih baik aku berbohong saja demi kebaikan hubungan kami kedepannya.
"A-aku dapat gelang ini dari Mama."
"Oh, aku pikir kamu membelinya."
Suho tidak bertanya lagi dan memilih fokus mengemudi. Semoga saja dia percaya dengan apa yang aku katakan.
Tiga puluh menit kemudian kami tiba di kantor. Suho bergegas pergi ke ruangannya untuk memeriksa laporan. Tanpa aba-aba dia mengecup puncak kepalaku singkat sebelum masuk ke ruangannya. Semua terjadi begitu cepat. Aku hanya bisa berdiri melongo seperti orang bodoh. Kalau saja diri ini tahu Suho ingin menciumku, aku pasti akan menolak agar tidak mengundang tatapan iri dan benci dari karyawan perempuan lain.
Lama-lama aku merasa tidak tahan juga mendengar gunjingan mereka. Ucapan mereka begitu kasar, melukai hati. Mereka mengatakan aku seorang jalang, wanita murahan, sundal karena telah menggoda Suho.
Hatiku sakit sekali!
Pernah suatu waktu aku menangis diam-diam karena tidak tahan mendengar hinaan mereka. Suho bertanya kenapa mataku sembab saat kami menghabiskan makan siang bersama. Tapi aku tidak sanggup berkata jujur padanya, malah mengatakan mata ini sedang kelilipan.
Aku memang bodoh.
Suho tidak pernah tahu jika aku mendapat perlakukan tidak baik dari karyawan lain karena dekat dengannya. Kadang aku ingin menyerah, memutuskan untuk meninggalkannya agar bisa kembali bekerja dengan tenang.
Namun, melihat keseriusannya yang ingin mendekatiku dan Sean membuat diri ini berusaha bertahan lebih lama. Jika Suho memang ditakdirkan untukku, Tuhan pasti memberi jalan mudah agar kami bisa bersatu. Jika Suho tidak ditakdirkan untukku, mungkin Tuhan sudah menyiapkan skenario hidup terbaik untukku.
Sekarang masih jam delapan pagi. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum Mr. Senna datang. Aku pun segera menyalakan komputer, lalu menyiapkan berkas untu rapat Mr. Senna jam sepuluh nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong Nakal
FanfictionDewasa 21+ [Jangan lupa Follow authornya] Sequel Menikah Dengan Keponakan Pernah gagal berumah tangga membuat Anne memilih untuk tidak menikah lagi. Kencan buta yang diatur oleh kedua orang tuanya sering kali gagal karena Anne ingin fokus membesarka...
