TELAH DI TERBITKAN OLEH PEARL PUBLISHER
📍Tersedia di Shopee = pearbellis
***
Apa jadinya jika pria cuek dan gadis cerewet bersatu? Apa bisa bertahan? Atau malah sebaliknya?
Anisya adalah termasuk orang yang harus menyediakan kesabaran dalam jumlah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maaf yah kali ini agak pendek, soalnya lagi gak enak badan hehe.
Happy reading gais...
***
“Nyonya Anisya sudah melewati masa kritisnya, saya bahkan tak menyangka jika secepat ini bu Nisya sadar, perkiraan saya mungkin besok siang tapi ini cuma hitungan jam nyonya sudah sadar dan tidak terjadi apa-apa, semuanya lancar”
“Apa yang perlu saya perhatikan selama Nisya dirawat disini dok?”
“Makan yang teratur dan istirahat yang cukup, jangan lupa untuk meminum obat sesuai anjuran”
“Baik dok”
“Kalau begitu saya pamit permisi, selamat pagi pak Doyoung”
“Iya dok, terima kasih”
Setelah dokter pergi dari ruang inap Nisya, Doyoung melangkah mendekat kearah sang istri yang menatapnya sendu, alat infus masih terpasang di pergelangan tangan kanannya yang Doyoung pastikan itu terasa perih.
“Gak ada yang ngerasa sakit?” tanya Doyoung
“Bagian perut..”
“Jangan banyak gerak, jahitan kamu masih basah” Nisya mengangguk paham sembari memejamkan matanya sesekali, tubuhnya sangat lemah untuk digerakkan, bahkan untuk menggerakkan jemarinya saja sangat susah.
“Dilan mana?” tanyanya, setelah ia merasakan suatu kekurangan, anaknya ada dimana sekarang?
“Sama Nancy” balas Doyoung, ia pun merasa lega mendengarnya, karena ruangannya sepi, itu berarti Nancy dan yang lain menjaga Dilan dirumah.
“Sebenarnya ada banyak hal yang mau aku tanya sama kamu” ucap Doyoung
“Apa kak?”
“Soal luka yang kamu dapat”
Nisya tersenyum kecil lalu meraih tangan Doyoung untuk ia genggam, berusaha agar sang suami tidak marah jika ia menceritakannya.
“Janji sama aku kalo kakak gak marah aku ceritain?”
“Aku gak bisa janji”
“Yaudah, aku gak cerita”
“Okay, aku janji” Nisya tersenyum puas dan menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.
“Aku pas siang dapat telfon dari nomor yang gak aku tau kak, pas aku angkat ternyata dia Mina, masih ingat Mina gak?”
“Yah kali aku lupa sama dia yang tingkahnya kek simpanse, terus kenapa sama dia?”
“Dia ngasih tau kalo dia pengen bicara berdua sama aku, kalo aku gak dateng dia bakalan datang kerumah dan gitu bikin rusuh katanya. Yaudah, aku gak mau kalo sampe tetangga juga risih sama tingkahnya dia, aku iyain. Aku pamit sama Nancy, pas nyampe depan pagar kompleks ternyata dia jemput aku, mobilnya juga udah stay kak”