12: Masa Lalu Yang Menyakitkan.

13.9K 1K 20
                                        

Warning ya guys...
Kawasan 18++.. hehehe

Jadi, dedek dedek kurcil gak boleh baca. Vote sama komen aja ya. Hehe

----------




Saat Ayasa kembali ke kamar setelah berbincang dengan keluarganya di bawah. Ia melihat Farel duduk di atas kasur dengan memangku laptop. Tapi, pria itu terlihat melamun. Karena tidak ada pergerakkan dari Farel.
Suaminya itu hanya diam memandang kosong pada layar laptop yang menyala.

Tadi setahunya, Farel pergi menemui Om Dika. Dan ia tidak tau kapan Farel kembali. Karena dirinya lumayan sibuk di dapur membantu Mama dan juga Tante-tante nya beberes. Jadi ia tidak tau kapan Farel kembali setelah berbicara dengan Om Dika.

Apa mereka membicarakan hal serius? Karena, Suaminya menjadi melamun seperti itu.

"Rel". Panggilnya seraya menyentuh bahu suaminya.

Farel menoleh, dan menatap Ayasa. "Kamu kenapa?". Tanya Ayasa lagi dengan penuh ingin tau.

"Engga ada kok". Jawab Farel menggeleng. Pria itu membetulkan posisi duduknya untuk lebih nyaman. "Cuma lagi mikir sesuatu aja".

"Boleh aku tau,. Kamu mikir apa?". Tanya Ayasa menjadi sangat penasaran.

Farel mengulum senyum, pria itu diam sejenak. Lalu memindahkan laptop di depannya ke atas nakas. Setelah itu ia menarik tangan Ayasa untuk lebih mendekat dan duduk di sampingnya.

"Boleh". Jawab Farel dengan senyuman kecil.

"Jadi, apa yang lagi kamu fikirkan?". Tanya Ayasa menatap lekat kedalam bola mata Farel.

"Entah lah". Jawab Farel mengindikkan bahunya. "Hanya sesuatu yang sulit aku jelaskan".

"Sesuatu yang seperti apa?". Tanya Ayasa tidak puas dengan jawaban itu.

Farel diam sejenak, memandangi Ayasa dengan lekat. Tanganya menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Pria itu bahkan menunduk sejenak untuk memandangi genggamannya. Kemudian tersenyum sendiri.

"Kamu pasti mendengar pembicaraan ku dengan Sheryl tadi, kan". Ujar Farel. Ayasa mengangguk saja. "Itu yang aku fikirin".

"Apa yang terjadi, antara kamu dan keluarga kamu?". Tanya Ayasa.

Kini Farel tersenyum kecut. Ia memandangi Ayasa dengan lekat dan penuh kelembutan.

"Om Dika tadi mengatakan, kalau beliau sudah mencaritahu tentang mereka secara diam-diam.". Jawab Farel menyentuh lengan Ayasa.

"Oke, lalu?". Tanya Ayasa merada geli dengan jemari Farel yang bermain di kulit lengannya. Namun, ia tidak menolak.

Ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya. Seperti ada desiran yang begitu ... Entah lah, ia tidak bisa menjelaskan. Tapi, ia sekuat mungkin bertahan untuk mendengar cerita suaminya.

"Hans, meninggal empat tahun yang lalu karena penyakit jantung yang di deritanya". Jawab Farel kemudian.

Ayasa terdiam, ia memandang lurus pada Farel. Mencari perubahan raut wajah suaminya itu. Tapi, ia tidak menemukan apapun yang ia cari. Wajah itu tetap datar dan juga tidak merasa sedih.

"Mamanya sangat terpukul dan sampai kemudian kewarasan nya hilang. Lalu Papanya terkena stroke, sekarang di rawat oleh..." Ayasa memicing matanya pada Farel yang kini apa yang ia cari tadi telah ia temukan meski hanya sekilas. Tapi, ia bisa melihat untuk sekilas ada tatapan sedih disana. Ada rasa cemas, namun hanya sekilas.

"Di rawat siapa?". Tanya Ayasa menggenggam tangan Farel semakin kuat.

Pandangan Farel yang tadi sempat turun kini kembali naik menatapnya.

SerendipityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang