"Rega".
Rega sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit saat Rasta memanggil namanya dari depan meja piket. Padahal ia ingin segera pulang, karena sudah malam sekali dan ia ingin beristirahat di rumah.
Tapi, karena Rasta ia malah harus melipir sejenak.
"Apaan?". Tanya Rega menghampiri meja piket.
"Ayasa beneran mau nikah abis koas?". Tanya Rasta padanya.
Rega langsung mengernyitkan dahinya bingung. Matanya melirik pada Danang yang juga bertugas malam ini bersama Rasta.
"Kalian ya, kayak perempuan doyan banget ngegosip". Kata Rega jengah. "Gosip dari mana coba, Kalau Ayasa mau nikah abis koas. Tuh anak baru putus dari pacar nya". Ujar Rega mendelik sebal.
"Dih, bukan gosip Ga.". Timpal Danang. "Tadi, gue dengar obrolan dokter Naomi sama Dokter Lisa. Katanya Ayasa abis koas udah siap nikah. Bahkan udah lamaran minggu kemarin. Lo gak tau?". Jelas Danang.
Rega memicing matanya dengan tajam. Ia masih tidak mau mempercayai ucapan dua temannya itu. Tapi..
"Gue denger-denger juga nih. Kalau Dokter Devan juga ngelamar Ayasa waktu itu. Si Rasta gak sengaja dengar obrolan Dokter Devan sama dokter Noami. Apa jangan-jangan Dokter Devan yang nikah sama Aya-". Perkataan Danang terhenti karena melihat Rega sudah berlalu pergi begitu saja dengan tergesa. "Woi!.. Rega!. Kita belum selesai!". Seru Danang.
Rega tidak memperdulikan seruan temannya itu. Di kepalanya sekarang ia harus menemui Ayasa untuk mencari tau semua kebenarannya dan mengapa ia sama sekali tidak di beri tau tentang hal sepenting ini?.
Apa sebenarnya arti dirinya untuk gadis itu?.
Benarkah semua kebersamaan mereka tidak ada arti nya untuk gadis itu?.
Rega benar-benar sakit hati sekarang.
Begitu keluar dari lobi, ia langsung menuju mobilnya di parkiran. Kemudian melajukan mobil itu dengan kecepatan tajam. Bahkan sampai menyerempet palang tanda parkir. Tapi, Rega tidak sama sekali memperdulikannya.
Ia harus bertemu dengan Ayasa malam ini juga.
Dan memperjelas kan semuanya.
***
Mobil yang di kemudikan oleh Farel berhenti di depan gerbang rumah Ayasa.
Pria itu turun dengan masih mengenakan stelan kantornya hari ini.
Pintu gerbang langsung terbuka dari dalam. Dan muncul sosok Ayasa dalam balutan pakaian rumahan. Menyambut kedatangan Farel dengan muka masam.
"Ngapain?". Tanya Ayasa dengan nada malas.
Farel tersenyum kikuk sendiri. Pria itu menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Aku gak di suruh masuk?". Tanya Farel.
Ayasa menghela napas kasar. Menatap tajam pada Farel yang hari ini tiba-tiba membatali janji temu mereka dengan disainer busana pengantin.
Bahkan tidak menjawab telfonnya. Membuatnya kesal dan juga sebal.
"Udah malam". Jawab Ayasa memberi alasan.
Farel melihat jam di pergelangan tangannya. Kemudian menghela napas berat saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia pun akhirnya mengangguk paham dan berbalik membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu.
"Aku bawain kamu martabat telur. Sebagai permintaan maaf ku hari ini". Kata Farel menunjukkan plastik berisi martabak.
Gadis itu melirik isi plastik tersebut. Farel menahan senyum geli nya melihat Ayasa mulai tertarik.
"Aku lagi diet". Jawab Ayasa masih mempertahankan egonya.
Farel ber- oh tanpa suara. Kepalanya mengangguk saja. "Yaudah, kalau gitu aku-".
KAMU SEDANG MEMBACA
Serendipity
Romance" Keberuntungan yang tidak sengaja ku temu kan". Farel adalah pria berumur 27 tahun. Kehidupan nya sederhana. Saat ia sedang menunggu client di sebuah caffe tidak sengaja ia mendengar pernyataan seorang perempuan yang membuatnya tertegun dan juga lu...
