Pada layar monitor di depannya sedang menampilkan calon bayi ia dan Ayasa. Dokter menjelaskan segala letak bagian-bagian tubuh di sana. Dirinya memandangi setiap anggota tubuh yang di sebutkan oleh Dokter. Lalu melirik pada istrinya yang memandang layar monitor itu dengan mata berkaca. Membuatnya bingung dan tidak mengerti. Mengapa Ayasa menangis?.
Namun ia tidak berkata apapun. Setelah selesai chek up dan USG, mereka langsung memutuskan untuk pulang.
Ayasa sedang tidak dalam masa tugasnya. Karena telah mengambil izin cuti hamil atas desakkan Papa Radith. Beliau tidak tega dan selalu mencemaskan anak dan calon cucunya.
"Lebai kamu". Kata Mama Naomi kala itu.
"Biarin! Cucu pertama ku tuh!". Alasan yang selalu di berikan Papa Radith saat itu.
Ia sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja, Papa Radith meminta agar mereka tinggal di rumah beliau sampai nanti Ayasa melahirkan.
Awalnya ia tidak setuju, tapi kembali mempertimbangkan lagi. Jika pergi kerja, maka Istrinya sendiri di rumah tidak ada yang jagain. Kalau di rumah, ada Mama Naomi atau Kevan yang bisa di andalkan. Intinya, Ayasa tidak akan bosan.
Jadi, ia akhirnya mengalah. Mereka kembali kerumah orang tua Ayasa. Untuk sementara. Walau sebenarnya ia tidak yakin, karena Papa Radith pasti akan memperpanjang kontraknya nanti.
Kini usia kehamilan Ayasa memasuki usia tujuh bulan. Dan sampai sekarang belum ada hal yang menyusahkan nya. Istrinya tidak pernah meminta yang aneh, yang kalau kata Lukas akan sangat merepotkan. Lukas sendiri suka ngeluh ketika Mila ngidam.
Tapi, istrinya tidak. Kecuali, kegiatan ranjang mereka menjadi lebih memanas. Dan tentu saja ia tidak keberatan sama sekali.
"Kamu balik ngantor?". Tanya Ayasa saat mereka tiba di rumah mengantar Ayasa pulang.
"Iya". Jawabnya meletakkan barang kebutuhan Istrinya. "Kenapa? Kamu mau sesuatu?". Tanya Farel.
"Iya". Jawab Ayasa. Ia langsung menatap dengan tanya. "Kamu temenin aku di sini". Lanjutnya kemudian.
Farel diam sejenak, ia berfikir apa saja perkerjaannya di kantor saat ini. Adakah hal yang penting?. Apa ada janji temu Client?. Sepertinya sih tidak. Linda,. Sekertarisnya sudah memperlihatkan jadwalnya hari ini. Dan selain rapat tadi pagi, ia tidak memiliki jadwal lagi. Karena, ia sudah mengkosongkan untuk menemani Ayasa periksa kandungan.
"Oke". Jawabnya setuju. Ayasa langsung tersenyum senang. "Aku kabarin Linda dulu ya". Ayasa mengangguk saja.
Ia membiarkan suaminya menelfon sekertarisnya. Sedangkan wanita itu menyalakan tv di depan mereka sambil menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Sudah tiga bulan yang lalu, Farel resmi menggantikan Papa sementara. Sampai nanti Kevan siap katanya. Tapi, ia tidak yakin. Melihat potensi Farel sangat bagus dalam bekerja. Farel dan Papanya punya kesamaan yang menurutnya sangat menyebalkan. Yaitu, Workholic. Dan ia benci itu.
***
Ia tengah membantu Mama Naomi dan Bi Nur memasak makan malam. Saat mendengar suara orang beri salam di luar.
Dan tidak lama kemudian melihat Bunda Kinal bersama dengan Diana masuk ke dapur.
"Lagi masak apa?". Tanya Bunda Kinal menghampirinya. "Pinter ya sekarang masak nya?. Bagus-bagus." Puji Bunda Kinal.
"Kan udah punya suami, Ma. Harus pintar masak" celetuk Diana sambil mencomot tempe goreng.
Mama Naomi hanya mengulum senyum mendengar ucapan keponakannya itu. Sedangkan Ayasa sudah mendelik.
Mereka mengobrol banyak di dapur, bunda Kinal juga ikut membantu masak sambil mengobrol dengan Mama Naomi dan Bi Nur.
Sedangkan yang di lakukan Ayasa adalah memotong sayuran, saat Diana berpindah duduk ke sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serendipity
Romance" Keberuntungan yang tidak sengaja ku temu kan". Farel adalah pria berumur 27 tahun. Kehidupan nya sederhana. Saat ia sedang menunggu client di sebuah caffe tidak sengaja ia mendengar pernyataan seorang perempuan yang membuatnya tertegun dan juga lu...
