16: Merasa Bersalah

10.8K 938 14
                                        

"Ga".

Rega membuka matanya dengan perlahan. Kemudian melihat sosok Ayasa yang berdiri di depannya dengan wajah cemas. Membuatnya tersenyum senang. Sampai kemudian ia merasakan sakit pada seluruh tubuhnya.
Membuatnya meringis, dan membuat Ayasa langsung dengan cepat memanggil dokter dan suster dengan menekan tombol merah yang ada di mereka.

"Sya". Panggil Rega dengan suara pelan.

"Iya, Ga. Ini gue". Kata Ayasa merasa lega akhirnya Rega siuman.

Rega tidak lagi bersuara, cowok itu hanya menggenggam erat tanganya. Seolah tidak ingin ia pergi.
Hingga dokter dan suster datang untuk memeriksa kondisi Rega. Dan ia harus terpaksa keluar untuk memberi ruang lebih untuk suster dan juga dokter dalam memeriksa kondisi sahabatnya.

Ayasa langsung mengabari Nia, mengatakan jika Rega sudah sadar. Dan sahabatnya itu mengatakan akan segera datang. Membuat Ayasa menghela napas lega.
Ia pun duduk di kursi menunggu dokter keluar.
Menghubungi Farel, namun tidak ada jawaban.

"Tidur kah?". Gumam Ayasa sendiri. Karena hp suaminya tidak aktif.

Ia pun menghela napas kasar. Memasukkan kembali hp kedalam tas. Bertepatan dengan dokter keluar dari dalam.

"Gimana ke adaan nya, Dok?". Tanya Ayasa langsung beranjak dari duduknya.

"Kamu keluarganya?". Tanya Sang Dokter.

"Saya temannya. Orang tuanya sedang berada di luar negeri". Jawab Ayasa dengan jujur.

"Kondisinya saat ini sudah membaik. Hasil ronsen juga tidak menunjukkan adanya luka dalam yang serius. Hanya kakinya saja yang mengalami luka parah. Tulangnya retak, dan kami sudah memasang pen untuk sementara.". Jawab sang Dokter menjelaskan dengan baik.

"Makasih dok".

"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu". Ayasa mengangguk. Setelah dokter pergi ia langsung masuk kembali kedalam.

Suster yang baru saja selesai juga langsung pamit keluar setelah mengganti infus.

Ia menghampiri Rega yang masih berbaring di atas bansal.

"Hai". Sapa Rega dengan senyum manis.

Ayasa mendengus dan menatap begitu tajam padanya. Membuat Rega tertawa pelan.

"Loe manusia paling bodoh yang pernah gue kenal". Kata Ayasa menatapnya lurus. "Dan gue benci sama Lo!".

Rega tersenyum mendengar ucapan Ayasa. "Aku baik-baik saja".

"Lo tau? Gue bela-bel-". Ayasa menghentikan ucapannya. Menimang ulang untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya yang sangat mengkhawatirkan Rega sampai rela pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya.

"Lupakan!". Kata Ayasa kemudian. "Lo istirahat aja. Bentar lagi Nia datang". Lanjut Ayasa.

Rega mengangguk saja, ia tidak ingin menambah kemarahan wanita itu. Dengan melihatnya saja ia sudah senang. Ayasa masih sangat perduli padanya.
Perempuan cantik itu memang selalu perduli padanya.

***

Rumah yang dibeli oleh Farel untuk ia tinggali bersama keluarganya kelak bukanlah sebuah rumah mewah bak istana.
Hanya sebuah rumah bergaya minimalis. Ia beli dengan hasil tabungan sendiri. Yang belum pernah ia tinggali sama sekali.
Karena ia akan tinggal di rumah itu bersama istrinya kelak.

Jadi, saat ia berniat menikah dengan Ayasa ia sudah menyiapkan semuanya. Membeli perabotan untuk isi nya.
Mencari furniture terbaik, dan yang pasti ia tidak sendiri dalam menentukan isi rumah.

SerendipityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang