09 : Manusia tanpa perasaan.

11.3K 1K 17
                                        

Klik

Kedua tangan Ayasa sudah terangkat siap mendorong Farel. Tapi, pria itu sudah lebih dulu menarik diri setelah berhasil melepaskan seatbeltnya.
Dan entah mengapa tiba-tiba suasana menjadi canggung sendiri. Ayasa bahkan sampai menghembuskan napas berat diam-diam.

"Kamu hati-hati nyetirnya". Kata Ayasa melirik pada Farel.

Cowok itu mengangguk, mengulum senyum kecil padanya. Ia memandangi lagi pada Farel yang masih menatapnya.

Entah mengapa ia merasa aneh dengan tatapan itu. Pandangan Farel seperti penuh misteri yang tidak ia tau artinya apa dan ia tidak bisa menebak apapun. Seolah buntu, sinar matanya tidak menyirat apapun.

"Kenapa?". Tanya Farel memecahkan lamunannya.

"Enggak kok, yaudah aku masuk dulu". Pamitnya kemudian membuka pintu mobil.

Farel hanya mengerutkan dahinya, memandangi kepergian Ayasa dari mobilnya. Ia baru pergi setelah memastikan gadis itu masuk kedalam gerbang rumah.
Lalu menyunggingkan senyum kecilnya saat mengingat kejadian barusan.

Nyaris.
Tapi ia berhasil menahan diri.

Ia tau, jika tadi ia lepas kendali. Bisa ia pastikan Ayasa akan langsung mendorongnya dan mereka langsung selesai.
Dan ia tidak mau itu sampai terjadi. Ia masih ingin bersama gadis itu.

Saat Ayasa masuk kedalam rumah, perasaannya masih berasa campur aduk. Entah apa yang ia fikirkan. Tapi, ia menjadi sangat penasaran dengan sosok Farel.
Dirinya merasakan jika Farel memiliki sesuatu yang sangat tersembunyi. Pria itu terlalu tertutup dan jujur saja ia tidak suka itu.

"Kak".

Ayasa mendapati Kevan di anak tangga tengah memandanginya dengan heran. "Nanti malam, Kak Sheryl datang. Papa minta tolong kakak yang jemput di bandara". Kata Kevan padanya.

"Kamu mau kemana?". Tanya Ayasa melihat adiknya sudah rapi saja.

"Pergi, Agam lagi sakit. Jadi, tadi Bunda minta tolong aku nemenin Diana pemotretan". Jawab Kevan kemudian.

Ia mengangguk saja, dan membiarkan adiknya pergi setelah mengalaminya.

Sheryl adalah sepupunya yang di Jerman. Anak dari kakak sepupu Mamanya. Mereka berdua lumayan dekat. Karena, ia akan menikah bulan depan. Jadi sepupunya itu memilih datang lebih awal. Ingin sekalian liburan.

Terakhir kali mereka bertemu saat keluarganya menghabiskan liburan Idul Adha di sana.

Mungkin ia bisa mengajak Farel untuk menemani nya nanti malam. Ia jadi merasa ada untungnya juga punya calon suami sekarang.


***


Seorang perempuan cantik dengan rambut panjang. Tengah duduk santai di dalam pesawat jet pribadi. Memandang keluar jendela seperti melamun.

Di depannya terletak sebuah map coklat besar. Lalu segelas jus jeruk.

"Bleib hier"

Gadis itu memejamkan matanya dengan kuat. Terbayang selalu wajah seorang gadis remaja yang tengah menangis di depan seorang laki-laki.
Tengah memohon pada si laki-laki agar tetap bersamanya. Dan jangan pergi.

Ia menyandarkan kepalanya pada kursi. Matanya kembali memandang sayu keluaran jendela.


***

SerendipityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang