The Result

1.1K 96 0
                                        

°*°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°*°

"Tak banyak yang bisa ku lakukan selain menerima hasil yang telah Tuhan tunjukkan, dan berusaha untuk tetap bertahan meski tak ada peluang."

°*°


[Abyan Yuno Wirasetya]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Abyan Yuno Wirasetya]

Gue menatap rintaian air hujan diluar jendela, pagi ini cuaca sedang tidak baik. Pas banget sama kaya suasana hati gue yang sedang kacau, sedari tadi gue termenung tidak tau harus bereaksi apa saat nanti hasilnya keluar. Jujur aja gue cukup khawatir dengan hasilnya, walaupun gue sudah mempersiapkan diri gue untuk menerima segalanya untuk saat ini. Siapa juga yang tidak takut jika harus mendengar kemungkinan buruk yang akan terjadi. Gue memijat pangkal hidung gue dengan pelan, memikirkan semua itu membuat kepala gue rasanya mau pecah, belum lagi rasa sesak yang masih menyiksa gue, meski gue sudah memakai nasal kanula.

"Dek!" panggil bang Dava. Dia menghampiri gue dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang gue.

"Belum dimakan sarapannya?" tanyanya saat melihat sarapan gue masih belum tersentuh.

"Belum laper bang, bang Dava nggak sekolah? Yuno kan udah nggak pa-pa"

"Abang demam, coba aja cek kalau nggak percaya" dia meraih tangan gue yang bebas infus dan menempelkan punggung tangan gue di dahinya, dan benar saja agak panas, bang dava pasti capek banget kemaren jagain gue, apa lagi dia sibuk dengan urusan OSISnya belum lagi urusan pekerjaannya.

"Maaf ya!" gumam gue.

"Buat?"

"gara-gara aku bang Dava jadi kecapean, terus sakit"

"Dek, kamu nggak salah, abang demam karena kesalahan abang sendiri kok bukan salah kamu, udah ah, dimakan gih sarapannya, nanti keburu bunda dateng"

"Hmm"

"Gitu dong, abang siapin dulu"

Bang Dava menyiapkan meja untuk gue dan menaruh sarapan gue disana, setelah itu dia menaikkan sedikit ranjang gue agar gue lebih mudah untuk memakan makanan itu. Gue pun langsung menyuapkan makanan ke dalam mulut gue, meski gue sama sekali tidak nafsu untuk makan. Gue nggak ingin membuat bundanya lebih sedih lagi, bagaimana pun gue sadar kalau tubuh gue juga perlu nutrisi agar bisa keluar dari tempat yang menyebalkan ini.

Breathless ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang