Ketika hidup terasa seperti diujung kematian, itu yang selalu dirasakan oleh Abyan Yuno Wirasetya, cowok manis dengan segala kelembutannya itu harus terus hidup bersamaan dengan rasa sesak yang terus menghimpitnya, setiap detiknya terasa seperti diu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°*°
"Seperti sebuah mimpi duduk bersama mu lagi, menikmati keindahan langit senja, dan mentari yang sedang berpulang ke ufuk barat."
*°*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[Dava Dharmaja Wirasetya]
Setelah memastikan urusan OSIS selesai, dan menutup rapat hari ini. Gue langsung membereskan barang-barang milik gue dan segera berpamitan dengan anggota OSIS lainnya. Hari ini gue ada janji dengan Aurora, cewek aneh yang pernah gue temui saat di rumah sakit. Saat itu kami sempat bertukar nomor telepon, dan bercengkrama melalui chat. Dia memang cerewet, baik secara langsung atau tidak. Dia tetap sama dengan saat pertemuan pertama kami. Kali ini gue sematkan kata receh di dirinya, dia cukup receh untuk ukuran cewek yang tidak jaim dengan cowok. Baru aja gue mengenalnya tapi gue udah kaya kenal dia begitu lama. Karena dia gue pun sedang berusaha berhenti merokok dan karena dia usaha gue jadi lebih mudah.
Gue segera melajukan mobil gue, menuju rumah sakit. Hari sudah sore, baru saja gue mendapat pesan darinya kalau dia sudah menunggu di atap rumah sakit, di tempat pertemuan pertama kami. Jujur saja itu tempat yang punya views yang indah, apalagi saat senja. Dia cewek yang tergila-gila dengan keindahan langit jingga milik senja. Padahal namanya jauh lebih indah dari senja. Aurora, siapa yang tidak ingin melihat fenomena yang menakjubkan itu, yang tidak bisa ditemui disebarang tempat dan disetiap waktu. Fenomena langkah yang memiliki keindahan luar biasa.
Sesampainya di rumah sakit gue segera pergi ke tujuan utama gue. Dan benar saja saat gue sampai di atap dia sudah disana, kali ini dia memakai kupluk warna peach, dengan sweater berwarna senada, ternyata dia membawa sebuah kamera DSLR yang dia letakkan disampingnya.
"Kamu telat, 5 menit dari waktu janjian" katanya sambil menoleh kearah gue. Dia tersenyum dibalik wajah pucatnya.
"Sorry, gue baru aja selesai rapat OSIS, ditambah jalanan hari ini rame banget. Pengen banget gue terbang aja biar langsung nyampe sini, biar nggak perlu naik lift, ditambah naik tangga, capek" ujar gue dengan serentetan unek-unek yang keluar begitu saja. Dia hanya terkekeh, kemudian menepuk tempat kosong disampingnya. Tanpa menunggu lagi, gue pun segera duduk disampingnya, tak lupa menaruh tas gue disamping.