Alaika sholallah.. Ohh Muhammad.
Peace and blessings on your everyday.
Alaika sholallah.. Ohh Muhammad.
You inspire me in every way.
I promise that wherever I go.
Whenever I pray.
I'll be sending your praise.
With the world that I say.
Rasulullah.. Oh Muhammad.
Peace and blessing on your everyday.
🎶🎶🎶
Happy Reading😙
Gus Altaf duduk diruang tamu keluarga Ning Arifa. Menunggu Kyai Ghafar yang masih mengajar disalah satu kelas pesantren Ar-Rasyid miliknya. Tapi jangan lupakan, keterpaksaan Gus Altaf mau mengantar Ning Arifa. Jika saja ia tidak mengingat tata krama dan adab pasti ia hanya akan mengantar Ning Arifa sampai gerbang pesantren lalu pulang. Tapi ya mau bagaimana lagi.
Ning Arifa datang membawa minum dengan beberapa kue kering diatas nampan. Dengan senyum yang tak sedikitpun luntur dari wajah cantik dan anggunnya.
Ia meletakan secangkir teh tepat didepan Gus Altaf. "Ini kak minumnya"
Gus Altaf menoleh. "Hmm iya makasih" sahutnya dengan sedikit tersenyum tipis.
Gus Arifa duduk dikursi yang kosong. "Maaf menunggu tapi abah nggak lama lagi pasti selesai kok ngajarnya"
"Nggak papa"
Gus Altaf mengambil ponselnya. Jarinya sibuk berkutat dengan layar benda pipih yang berada ditangannya.
Ning Arifa sedikit kesal dibuatnya. Bagaimana bisa Gus Altaf malah sibuk dengan sebuah HP padahal tengah bersama dengan dirinya. Ning Arifa memang jarang memegang ponselnya sendiri. Paling-paling kalau malam sebelum tidur ia membuka WhatsApp-nya itupun hanya sekejap. Untuk sekedar hiburan ia lebih memilih untuk membaca novel atau buku cerita lainnya.
Ngomong-ngomong soal WhatsApp ia teringat apakah Gus Altaf telah ganti nomor ya? Karena semenjak beberapa bulan lalu tak satupun ia dapat notif pesan dari kakaknya itu. Dan juga semua chat-chatnya hanya bercentang satu abu-abu. Wah wah diblock tuh kayaknya...
"Kak? Nomor kakak ganti ya?" tanya Ning Arifa.
Gus Altaf beralih dari ponselnya. "Emm iya" ucap Gus Altaf tidak enak. Jujur ia juga baru ingat kalau ia sampai lupa belum bilang ke saudara sepupunya itu.
"Kenapa nggak chat Arifa?" tanya Ning Arifa. Dari raut wajahnya Gus Altaf bisa melihat sedikit kesedihan disana.
"Maaf kakak lupa?"
"Kenapa bisa sampai lupa. Apa jangan-jangan kakak juga lupa kalau Arifa ini adik sepupu kakak?" tanya Ning Arifa dengan mata berkaca-kaca.
Gus Altaf terserentak mendengar pertanyaan Ning Arifa. "Astaghfirullah nggak Arifa bukan begitu. Cuma akhir-akhir ini aku lagi sibuk kegiatan pesantren" jelas Gus Altaf.
"Maaf Arifa sudah berburuk sangka" ucapnya menunduk.
Gus Altaf menghela nafas. Ia paling tidak suka melihat seorang perempuan bersedih. Apalagi sedih karena ulahnya. "Udah nggak usah nangis kayak bocah" ucap Gus Altaf terkekeh.
"Ihh Arifa nggak nangis!!" jawab Ning Arifa kesal.
Jujur ia rindu dengan masa kecilnya. Saat Gus Altaf sering kali mengganggunya bahkan sering membuatnya menangis keras. Tapi menurutnya Gus Altaf sangat berbeda sekarang. Seolah kenangan bersamanya terkikis habis oleh waktu yang perlahan berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADZKIYA (Selesai)
Teen FictionBerhubung ini cerita pertama dan gak jelas banget. Mohon kerjasamanya untuk memberi kritik yang membangun🙏 Warning : Typo bertebaran. Salah pengetikan nama. Alur yang bikin bingung.
