Bahkan orang yang kau kira sangat mempercayai mu dan memihak padamu pun akan berubah pada waktunya.
- Nadya Anindira Adara -
***
"Berangkat ya ma, pa." Pamit Nadya seraya mencium kedua pipi orang tuanya.
Pagi di hari senin ini, Nadya berharap pertemanannya dengan Kyla bisa membaik. Karena memang sedari kemarin Kyla terus - terusan mendiamkannya tanpa berbicara banyak padanya, hanya sebatas beberapa kaya saja yang terlontarkan dari mulut Kyla.
Nadya membuka pintu utama rumahnya, dan melihat sudah ada Ajil di balik pagar rumahnya. Namun Nadya bukan hanya melihat Ajil, tapi ada Nando juga disana.
"Sorry ya gue lama." Celetuk Nadya sembari menutup kembali pagar rumahnya.
"Ah biasa gue mah." Jawab Ajil.
"Dih, jahat lo."
"Ndo, lo sama Kyla?," tanya Nadya.
"Kata eyang, Kyla udah duluan sama Vano." Jawab Nando pelan.
Nadya dapat melihat raut muka Nando sahabatnya itu. Nadya tahu, pasti Nando sangat sedih, ia saja sedih Kyla seakan lupa diri pada mereka yang telah lama bersamanya. Apalagi Nando.
Mereka bertiga pun lantas langsung pergi dari pekarangan rumah Nadya, melaju menuju sekolah. Tak cukup waktu lama untuk mereka sampai ke sekolah, karena beruntungnya pagi ini mereka tidak terjebak macet di jalan.
"Eh, gue langsung ke kelas ya."
"Mau gue anter ga Nad?," tanya Ajil berbaik hati.
"Wah babang Ajil!" Seru Nadya sembari mendorong pelan bahu kanan Ajil. "Gak usah." Jawabnya.
"Songong lu!"
"Bodo amat." Jawab Nadya lalu ia menjulurkan lidahnya pada Ajil dan kembali melakukan kakinya ke arah kelas. Nando yang melihat kelakuan Ajil dan Nadya pun hanya bisa terkekeh dibuatnya.
Nadya memasuki kelasnya yang sudah lumayan banyak penghuni. Nadya melihat Kyla yang duduk bukan di tempatnya, melainkan di samping Vano. Ah mungkin cuma duduk bentar doang, pikirnya.
"Hai Nad, akhirnya lo dateng juga." Ucap Kyla pertama.
Ada rasa senang disaat Kyla berbicara duluan padanya. Nadya menganguk sembari tersenyum pada Kyla. Apa Kyla telah memaafkannya?
"Iya nih, lo bareng Vano ya Kyl?, soalnya tadi Nando sendirian tuh." Tanya Nadya berbasa - basi.
"Gue duduk sama Vano, lo sama Ifan." Ujar Kyla tiba - tiba dengan muka datar.
Apa itu?, Nadya tidak mengerti. Ia mengerutkan keningnya jengah. Kenapa Kyla selalu menghindar?, ini tidak bisa dibiarkan. Masalah harus cepat diselesaikan.
"Kenapa?," tanya Nadya singkat.
"Ya karena gue mau." Jawab Kyla enteng. "Ngapain juga gue duduk sama lo." Lanjut Kyla sangat pelan.
Vano yang melihat itu pun hanya diam tidak mengerti. Ada apa dengan dua orang yang bersahabat sedari kecil ini?, apa mereka bertengkar?, karena apa?
"Kalian lagi berantem ya?," tanya Vano yang heran dengan sikap yang ditunjukkan kekasihnya itu.
"Lo gak mau? Oh, apa lo maunya duduk sama Vano ya?," pertanyaan itu membuat Nadya bertambah geram, ia lantas menarik pergelangan tangan Kyla secara paksa. Sebenarnya Nadya belum pernah menarik seseorang secara paksa seperti ini, segalak - galaknya Nadya dia tidak pernah memperlakukan seseorang dengan kasar dengan sengaja. Tapi apa boleh buat?, dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DREAM'S [COMPLETE]
FanfictionKisah empat orang yang bersahabat dari kecil hingga mereka beranjak dewasa. Namun, apa jadinya jika diantara salah satu dari mereka ada yang menaruh rasa pada sahabatnya sendiri? - "Gimana ya rasanya kalo kita pacaran?" "Hah? Ga waras lo ya? Kita ka...
![DREAM'S [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/227184838-64-k727886.jpg)