BAB 1

2.6K 102 13
                                        

Ericko tengah duduk dengan tenang sembari menatap langit luas di balkon kamarnya. Ia sedang memikirkan seorang gadis yang dulunya akan dijodohkan dengan dirinya. Sayangnya perjodohan itu dibatalkan oleh pihak wanita. Ric sudah sangat mengenal sosok wanita yang akan dicalonkan menjadi istrinya. Sosok gadis itu bernama Marine. Ric juga sudah cinta pada sosok Marine. Namun Marine tidak pernah tahu akan perjodohan ini. Bahkan gadis itu tidak pernah mengenal sosok Ric. Marine saat ini sedang sibuk menempuh jenjang pendidikan kuliah. Ric yang tenggelam dalam pikirannya tak sadar ketika seorang wanita bertubuh sintal dengan memakai gaun seksi telah menghampirinya. "Ric, kamu enggak kangen aku?" ucap Anissa seraya meraba dada bidang Ric.d

Ric seketika langsung tersenyum. Lalu ia menoleh ke kanan dan menatap wajah cantik Anissa. "Hai Nissa, miss you." ucapnya dengan suara berat dan agak serak. Sekilas Ric sempat menatap belahan dada wanita di hadapannya itu.

"Kamu ngapain duduk di balkon? Ngerokok?" tanya Anissa seraya duduk di pangkuan Ric. Pria itu nampak dengan senang hati membiarkan Anissa duduk di pangkuannya. Bahkan Ric memeluk tubuh Anissa seraya menenggelamkan wajahnya di dada wanita itu.

"Lagi kangen sama langit, awan, bintang, bulan dan seisi bumi." ucapnya dengan tidak merubah posisi wajahnya. Ia nampak senang menghirup aroma tubuh wanita yang dipangkunya itu.

Anissa tertawa kecil lalu disusul mengecup puncak kepala Ric. "Kamu ada ngirim paket ke bos aku?" tanyanya dengan suara lembut.

Ric menjauhkan wajahnya dari dada Anissa, kemudian mengecup sekilas bibir ranum wanita itu. "Dia yang pesan. Sebagai penjual saya harus memuaskan hasrat dan kemauan konsumen." jawab Ric sembari mengusap - usap paha Anissa yang tersingkap.

"Sekarang?" tanya Anissa memastikan seraya mengusap bahu Ric.

Ric tersenyum lalu kembali mengecup bibir Anissa. "Kapan lagi?" jawab Ric. Ia lalu menggendong Anissa ke dalam kamar.

.........


Sekar menggelengkan kepalanya saat melihat Ric dan Anissa keluar bersamaan dari kamar. Sekar memilih tidak berkomentar dan kembali fokus membaca majalah gaya. Tak lama setelah mengantarkan Anissa sampai ke mobil wanita itu, Ric kembali ke ruang TV. Ia mengambil posisi duduk di dekat sang mami.

"Ada apa mami pagi - pagi ke sini?" tanyanya.

Sekar menatap putranya dan tersenyum. "Wangi banget sabun kamu."

Ric tersenyum lalu tertawa. "Pilihannya Anissa." jawabnya.

"Terus Marine gimana? Enggak jadi?" tanya Sekar.

Ric tertawa kecil dan kini nampak tersenyum licik. "Dia tetap calon istriku. Calon nyonya di rumah ini." jawabnya

"Gadis itu sudah ditakdirkan untukku, mi. Bahkan papi dan kakek gadis itu sudah melakukan kesepakatan bahwa aku bisa mempersunting gadis itu ketika ia sudah dewasa." sambung Ric.

Mendengar ucapan sang anak Sekar hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Mami tahu kamu sama dia sudah dijodohkan. Tetapi 'kan sudah jelas - jelas orang tuanya tidak setuju. Waktu itu saja lamaran kita ditolak." jelas Sekar.

"Mi, aku sudah siap naik pelaminan. Usiaku sudah sangat dewasa. Apalagi adik - adik sudah memberikan mami dan papi cucu. Hanya aku yang masih betah melajang." ucap Ric dengan serius.

Sekar tertawa setelah mendengar ucapan anak sulungnya. "Kamu ini ya, ngenyel minta ampun! Apa kamu enggak ingat ketika kita akan melamar gadis itu selepas dia SMA? Orang tuanya menolak karena pekerjaanmu dan usaha keluarga kita." jelas Sekar sekali lagi.

"Gadis itu belum tahu siapa aku, mih. Aku tidak akan lupa tentang lamaran itu. Mami pikir aku bisa melupakan itu? Sampai mami mengingatkan aku 2 kali tadi tentang lamaran gagal itu." jelas Ric dengan raut wajah kesal.

Marine of SeaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang