BAB 4

811 62 26
                                        

Ric menatap Marine dengan tatapan penuh selidik namun dengan ekspresi wajah datar. Sedangkan Marine duduk di depannya dengan ekspresi wajah tegas dan tak gentar akan tatapan Ric. Mereka hanya berdua di ruangan Ric saat hari menjelang malam. "Selama hampir setengah tahun kita tidak bertemu. Sekarang kamu berani menjadi tim hukum di perusahaan ini. Apa kamu tidak takut dengan saya yang sewaktu - waktu bisa berbuat kejahatan sama kamu?" ucap Ric dengan ekspresi wajah meremehkan. Ia belum lupa dengan kata - kata Dona beberapa bulan lalu. Seperti biasa pembantu di rumah Marine selalu membocorkan percakapan di rumah gadis itu pada pembantu di rumah Ric hingga sampai ke telinga Ric.

"Saya tidak tahu jika ini adalah perusahaan anda. Kalau saya tahu ini adalah perusahaan anda, lebih baik saya menolak tawaran Firma Hukum untuk penempatan saya di tim hukum perusahaan ini. Saya kira ini batu loncatan ternyata saya ditimpuk batu sungai." ucap Marine dengan tatapan tajam.

Ric tertawa terbahak - bahak sambil duduk santai di kursi kerjanya. "Saya 6 bulan ini berusaha buat tidak terlalu tahu kehidupan pribadimu. Informan saya tetap mengawasi kamu, tetapi saya tidak meminta informasi yang detail. Asal kamu baik - baik dan tidak sedang dekat dengan pria lain, saya merasa cukup mendengar berita itu." jelas Ric dengan santai.

Marine nampak terkejut dengan mata melotot karena tidak terima dimata - matai oleh Ric. "Apa maksud anda memata - matai saya? Apa anda pikir anda boleh melakukan tindakan itu? Anda sudah melanggar privasi seseorang!" kecam Marine.

"Kamu calon istri saya. Kamu bukan orang asing, mami sayang." ucap Ric seraya tersenyum.

"Saya akan ajukan pembatalan magang di perusahaan ini." ucap Marine dengan tergesa seraya bangun dari duduknya dan berjalan cepat menuju pintu ruangan Ric.

Ric hanya diam menyaksikan semua itu. Ia nampak tersenyum senang karena Marine bekerja di perusahaannya walau hanya sebagai tim hukum magang dari sebuah Firma Hukum. Tak lama kemudian Ric menelepon Tamara yant menjadi kepala divisi hukum dan menjelaskan semuanya pada wanita itu.

"Siap mas Ric. Akan aku jaga baik, Marine. Aku pastikan dia akan tetap magang sampai 6 bulan ke depan. Mas jangan khawatir! Selesai magang mas bisa memboyongnya ke pelaminan."

Ric tersenyum licik setelah mendengar ucapan adik sepupunya itu. Ia menutup telepon dan segera membereskan berkas - berkas di atas mejanya. Sepulang dari kantor ia akan pergi ke sebuah restoran bintang 5 untuk melakukan transaksi besar.

............

Marine nampak kurang bersemangat menikmati makan siangnya kali ini. Atasannya di Firma Hukum Firmansyah tak mengizinkannya melakukan pembatalan kontrak atas kerja sama magang dengan perusahaan Ric. Begitu pula dengan Tamara, atasannya di tim hukum perusahaan Ric. "Lo kenapa sih, Rin? Masem banget ekspresi lo." celetuh Rahayu, staf tim hukum. Ia baru saja tiba di kantin dan memilih duduk di samping Marine.

Marine tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Enggak ada apa kok, mbak. Semuanya baik - baik saja." ucapnya.

"Gue kira lo kesel soal penyelesaian masalah kontrak sama tim hukum perusahaan Regal." ucap Rahayu.

"Enggak lah mba." balas Marine.

"Tapi lo aman 'kan kemarin sama pak Ric? Tumben - tumbenan dia manggil anak magang kayak lo. Biasanya dia enggak peduli soal anak magang." jelas Rahayu.

"Aman, mbak. Enggak ada apa - apa kok." jelas Marine.

"Nanti malam ikutan ke beach club enggak?" tanya Rahayu.

Marine terdiam sejenak seraya melamun. Ia tidak lupa akan undangan ulang tahun dari Dita yang terkenal sebagai sekretaris Direktur Operasional. Dia mengadakan private birthday party di beach club. "Gue enggak lupa kalau lo juga diundang sama Dita tadi. Dia kayaknya pengen lebih deket sama lo enggak sih?" ucap Rahayu.

Marine tersadar dari lamunannya dan langsung menggeleng pelan. "Palingan cuman mau berteman biasa. Kebetulan kami datang dari kampus yang sama." ucap Marine.

"Lo ikut enggak ke sana?" tanya Rahayu.

Marine selanjutnya menggelengkan kepala. Selesai makan Marine memutuskan untuk pergi ke loker khusus divisi hukum. Namun langkahnya dihentikan seseorang di tengah jalan. "Marine." ucap Tamara.

"Selamat siang bu. Ada apa?" balas Marine dengan sopan dan tersenyum ke arah Tamara.

"Kamu habis istirahat ikut saya ke ruangan  pak Dirut ya. Beliau minta di dampingi pergi ke proyek Bogor. Di sana ada permasalahan tanah sama warga." ucap Tamara.

"Sial." gumam Marine di dalam hatinya.

"Baik bu. Apa nanti saya langsung ke ruangan pak Direktur?" tanya Marine.

Tamara menganggukkan kepala. "Iya."

...........

Marine mendengus kesal setelah mendudukkan dirinya di atas jok empuk mobil mewah milik Ric. Setelah urusan di  Bogor usai, kini ia mendapatkan tugas tambahan untuk menemani Ric pergi untuk melihat tambak ikan di pesisir pantai Banten. Gadis itu tidak mungkin menolak perintah Tamara walau sejatinya tugas itu sama sekali tidak masuk dengan apa yang menjadi pokok pekerjaannya selama magang di perusahaan Ric. Marine yang kini duduk di samping Ric nampak beberapa kali harus menepis halus tangan Ric yang dengan bebas mengusap pahanya. Sedangkan bagi Ric menggoda calon istrinya adalah kesempatan yang sangat ia dambakan. "Lihat kan sayang. Sejauh mana pun kamu berlari kalau memang jodohmu saya. Kita pasti akan bertemu." bisik Ric di telinga Marine.

Marine menghela napasnya dan meremas kedua tangannya untuk menahan emosinya. "Saya enggak sudi bercinta dengan pria liar seperti anda. Track record anda enggak banget buat saya." ucap Marine dengan sinis tanpa menatap ke arah Ric.

Ric tertawa mendengar keberanian Marine. "Biasanya wanita itu sampai bertekuk lutus untuk mendapatkan uang dan perhatian saya." bisiknya sekali lagi.

Marine kemudian menatap lekat mata kelam Ric. Ia bahkan mengubah sedikit posisi duduknya agar berhadapan dengan Ric. "Apa sih yang kamu mau? Kita itu enggak mungkin bersatu! Lupakan semua yang kakek aku katakan dan anggap itu angin lalu! Toh kamu sudah nyaman kan bercinta dengan banyak wanita. Saya yakin sekretarismu sudah sering mendesah nikmat di bawah kuasamu. Jadi buat apa mengejar saya? Saya enggak mau terlibat dalam percintaan seperti ini!" ucap Marine yang nampak frustasi karena dikejar - kejar oleh Ric.

Marine of SeaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang