Sepuluh

285 35 30
                                        

Sikit note :  maafken karena kemarin-kemarin salah update. Kalau kalian dapat notif update Dear Brother dan gak bisa dibuka, harap maklum karena part tersebut sudah dihapus. Seharusnya part tsb untuk cerita yang lain. 

----

Keesokan paginya, Nicholas Ardent duduk dengan punggung tegak di kursi kayu menghadap lapangan mini dan kolam renang sambil mengaduk kopi hitamnya. Zayn duduk dengan lebih tenang di depan lelaki itu, menghadapi secangkir kopi panas yang baru saja dihidangkan Sovia.

"Harry masih tidur?" Zayn bertanya sebelum Sovia undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.

"Iya, semalam dia mengerjakan sesuatu di laptopnya sampai tengah malam. Tapi aku sudah siapkan omelet kesukaannya buat sarapan"

"Kalau dia sudah bangun, aku mau bicara sesuatu"

"Aku juga belum sempat ngobrol sama Harry- oh, semalam kulihat wajahnya agak bengkak. Ada masalah apa?" Nicholas menyambung ucapan Zayn sebelum Sovia sempat menjawab.

Sovia hendak menjawab, tapi Zayn lebih dulu menimpali "kemarin dia kecelakaan kecil pas pulang kuliah. Mobilnya diseruduk orang mabuk dari belakang" dia berbohong. Dan Sovia seolah bisa memaklumi kenapa Zayn tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Harry. Zayn akan berusaha keras membuat Harry bersih dan tanpa masalah di depan Nicholas supaya tidak memberikan lebih banyak alasan buat Nicholas pindah ke rumah mereka.

Nicholas akan membuat alasan apapun, termasuk alasan mengawasi dan menjaga Harry sebagaimana kewajibannya sebagai seorang wali, dan tentu saja itu hanya akal-akalannya saja.

Nicholas tampak bersimpati, walaupun Zayn maupun Sovia tahu kalau lelaki itu tak pernah benar-benar peduli apapun yang terjadi pada keponakannya sendiri. "Dia gak apa-apa kan? Trus orang yang menyeruduknya gimana, kalian lapor polisi?"

"Harry sudah mulai membaik. Dia gak apa-apa. Tapi orang yang menabraknya kabur, jadi masalahnya tidak diperpanjang"

Lelaki tengah baya itu mengangguk-angguk sambil menyeruput kopinya, "syukurlah kalau Harry sudah sehat kembali. Kadang dia itu sering bikin khawatir saja"

Sovia pamit kembali ke dapur, kemudian Nicholas berkata lagi, "perempuan tua itu-"

"Sovia"

"Ya aku tahu, maksudku apa dia gak pernah sekalipun pulang ke rumahnya sendiri? Dia itu –sudah belasan tahun kerja di sini kan? Tapi aku jarang liat dia membahas soal keluarganya sendiri-"

Zayn mengeluarkan sekotak cerutu mewah dari saku kemejanya. Dia menawari Nicholas, dan lelaki itu mengambilnya satu batang.

Beberapa menit berselang, keduanya mulai menghisap cerutu masing-masing dengan khidmat. "Sovia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Suaminya sudah meninggal, tak punya anak, dan keluarganya juga gak diketahui. Dulu dia tinggal dan mengabdi di panti asuhan sebelum kerja di keluarga Styles"

"Oh, aku baru tahu. Anne tak pernah menceritakan soal dia sedetil itu"

"Mm" Zayn hanya bergumam kecil.

"Oya, gimana kabar keluargamu Zayn?" asap berhamburan keluar dari mulut Nicholas.

"Baik semua. Kamu sendiri gimana, bisnis aman dan lancar? Bisnis property sekarang sedang berjaya kan"

Nicholas terkekeh kecil, tapi wajahnya tampak sangat miris. "Sebenarnya begitu, harusnya. Tapi bisnisku sendiri akhir-akhir ini masih tersendat" jawabnya. "Dengar-dengar kabar kamu sedang dekat dengan putri salah seorang konglomerat London. Kupikir dalam waktu dekat bakal dapat undangan"

"Charlotte? Kami hanya berteman" Zayn menjentikkan abu di ujung cerutunya di atas asbak hitam.

"Dari teman bisa jadi demen kan" lelaki tengah baya itu tertawa kencang. Zayn diam saja memperhatikannya, sampai Nicholas menghentikan tawanya, "dia itu salah satu spesies langka, Zayn. Kudengar gadis itu sangat cantik, pintar dan yah, latar belakang keluarganya gak perlu diragukan lagi-"

Dear Brother | ZarryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang