Tiga bulan kemudian.
"Keren nih kameranya" laki-laki berambut jabrik hitam dengan kulit sawo matang itu membolak-balik kamera DSLR yang tersimpan di atas meja kasir. "Baru?" tanyanya lagi pada Harry yang baru saja menutup tirai-tirai jendela dan memasang tulisan Closed di pintu masuk.
Harry tertawa bangga, "yah, tapi gak baru-baru amat. Beli bulan kemarin dari duit tabunganku" jawabnya.
Lelaki jabrik itu, Khalid namanya, bersiul sambil mengacungkan jempolnya. Beberapa minggu belakangan, Harry berpartner dengan Khalid di café itu. Khalid yang baru saja masuk sebagai karyawan baru langsung akrab dengan Harry yang juga melanjutkan kerja paruh waktunya di sana. Tiap pulang kerja, Khalid diam-diam membantunya menata beberapa kue dan minuman untuk objek foto Harry.
Harry sedang tergila-gila pada food photography sejak bulan lalu. Dia jarang punya waktu buat praktek memfoto karena ujian A-levels yang sudah di depan mata. Tapi sekarang ujian sudah berlalu dan aplikasi lamaran ke universitas juga sudah dikirimkan, Harry lumayan bisa bernafas lega beberapa lama. Pikirannya benar-benar sibuk dan penuh sampai dia tidak sempat memikirkan apapun lagi.
Dulu pola hidupnya hanya tidur. Makan. Belajar. Ujian. Sekarang jadi tidur. Makan. Kerja sampingan. Foto-foto.
"Harry!" tiba-tiba beberapa orang muncul dari dapur sambil membawa sebuah kue berukuran cukup besar dengan tulisan 'selamat lulus ujian dan selamat ulang tahun ke-18". Mereka adalah teman-teman kerjanya di café tersebut. Harry tidak mengira kalau mereka masih ada di sana dan memberinya kejutan seperti itu. "Sori telat. Ultahmu udah lama berlalu. Tapi gak apa-apa kan? Yang penting – selamaaat" Khalid mengedipkan sebelah matanya.
"Ini idemu?" Harry memutar bola matanya.
Mereka menaburkan confetti dan meniup terompet. Kuenya sederhana, tapi Harry merasa sangat senang. Sambil memperhatikan mereka memotong kue buat dibagi-bagi, Harry memikirkan betapa waktu cepat sekali berlalu. Terlalu cepat.
Dia sudah 18 tahun sekarang. Padahal rasanya baru kemarin dia berulang tahun ke-17. Natal dan tahun baru kemarin dia rayakan bersama Gemma di Birmingham karena Gemma sedang tidak sehat dan tak bisa kemana-mana. Jadi Harry yang mendatanginya. Sovia dan Tuan Clanton liburan bersama keluarganya. Mereka baru ketemu lagi seminggu kemudian.
Dan dia tidak pernah bertemu lagi dengan Zayn.
Harry masih teringat serangan panik yang menimpanya saat terakhir kali dia melihat lelaki itu. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya merasa aneh. Itulah pertama kalinya dia tidak mau melihat Zayn. Harry tidak berpikir apapun –dia hanya merasakan dadanya sesak dan sangat sakit, kemudian ide itu muncul di kepalanya secara tiba-tiba. Dia lelah. Dia ingin pulang ke tempat dimana seseorang bisa memeluknya erat tanpa bertanya apapun. Dan dia akan melupakan semua hal yang terjadi dengan kakak tirinya. Dia ingin menjauhkan diri, sejauh-jauhnya, tanpa mengingat apapun. Karena semakin dia mengingatnya, semakin dadanya terasa sesak seperti mau pecah.
Dia pun pulang ke Edinburgh. Sovia memeluknya tanpa berkata apapun. Dan Harry menangis sebentar di pelukan Sovia. Dia mengajak perempuan itu berkunjung ke makam Anne dan Yaser beberapa hari sebelum ujian, menyimpan bunga aster putih di atasnya sambil bergumam, 'maafkan aku, Bu'.
Setelah itu waktu berjalan secepat kilat.
**
Harry berpamitan pada teman-temannya setelah Sovia datang. Mereka punya janji malam itu; makan malam di tempat langganan Sovia, sebuah tempat makan pinggir jalan yang selalu ramai dikunjungi orang-orang. Khalid memberinya sebungkus oleh-oleh untuk Sovia berisi beberapa buah kue muffin spesial.
"Habis acara apa sih? kok rame banget" tanya Sovia begitu mereka sudah ada di dalam taksi.
"Biasalah, anak-anak. Mereka ngasih kejutan karena aku lulus ujian. Dan ultah kemarin. Sebenarnya sekalian pamitan juga sih, Sov. Bentar lagi kan aku gak kerja di sana lagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Fanfiction(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
