Delapanbelas

274 35 30
                                        

"Jadi-" mereka duduk berhadapan di sebuah café ala perancis yang cukup cozy sore itu. Baik Harry maupun Michael hanya memesan mini cake dan secangkir kopi. "Kamu ada affair sama kakakmu itu? Sejak kapan?" Michael bertanya dengan tenang. Harry bersyukur karena hubungannya dengan Michael tidak pernah diresmikan –karena dia memang tidak menginginkannya. Kalau tidak, Michael pasti akan mencacinya sebagai pacar yang tidak setia.

"Gak. Gak ada affair apa-apa. Belum. Dan harus kubilang berapa kali kalau dia itu bukan kakak kandungku? Dia kakak tiriku –ya, sebenarnya orang tua kami kan sudah gak ada. Jadi kupikir otomatis dia jadi orang asing lagi"

"Ya tetap aja" Michael menyeruput kopinya. "Orang tua kalian gak bercerai. Jadi secara hukum dia masih kakakmu juga"

"Kami gak sedarah sama sekali. Orang tua kami beda, jadi apa salahnya kalau aku suka dia?"

"Ya gak salah sih" Michael menatap Harry dari sudut matanya yang dibingkai kacamata. "Cuma kamu ini memang bener-bener suka banget tantangan. Kayaknya kamu gak pernah suka sama orang biasa aja, maksudku, ya temen kampus yang seumuran. Kayak si siapa itu yang kemarin nganter kamu ke Birmingham. Atau siapa kek yang normal-normal. Kamu malah suka kakakmu yang lebih-" tetiba dia diam sebentar.

"Kenapa? Kamu mau bilang lebih tua?" Harry menyela. "Lah kita sendiri ini ngapain? Kamu malah dua kali lipat umurku, lebih kayaknya. So?"

"Aku tahu. Kalau kamu cuma suka sama dia gara-gara dia lebih tua, ganteng, atau mungkin main ranjangnya hebat, dan kamu mau tidur sama dia, ya aku mana bisa melarang. Lakukan apa yang kamu mau, Harry. Tapi aku pasti patah hati. Kamu bosan denganku dan pengen mainan baru-"

Wajah Harry merah padam. "Gak usah diperjelas kayak gitu- lagian ini bukan cuma soal seks kok"

Michael menatap anak muda itu tajam, seperti menilik-nilik kemerahan di kedua pipi Harry, membuatnya yakin kalau lama-lama bersama dengan Harry dengan kepolosan begitu rupa bisa membuatnya jatuh cinta betulan. "Kenapa? Eh –kamu betulan suka sama Zayn?"

Harry tidak buru-buru menjawab. Dia menyendok mini cake-nya tapi hanya memainkannya saja di piring. "Kan aku bilang kalau ini serius. Aku gak cuman mau ngeseks sama Zayn, tapi aku –kayaknya aku jatuh cinta sama dia" racaunya.

Seketika meledaklah tawa Michael sampai dia tersedak kopi dan batuk-batuk. Mukanya merah. "Kamu ini bener-bener tersesat banget, nak. Jatuh cinta? Emang kamu tahu yang gimana itu cinta? Ck, dasar anak muda bodoh"

"Lah, kamu gak percaya kalau aku seriusan suka sama Zayn?"

Michael menggeleng. "Kalau kamu minta pendapatku, aku bukan ahli asmara atau percintaan macam begini. Tapi kalau kamu tanya soal seks, aku jamin bisa memuaskanmu –dengan jawaban. Boleh sekalian praktek" dia mengedipkan sebelah matanya. "Tapi, aku gak tahu apa yang ada di otakmu itu Harry. Aku juga gak kenal kakakmu. Tapi menurutku, terlalu dini buat menyimpulkan rasa deg-degan ke seseorang sebagai cinta, atau yang gitu-gitu lah. Kamu ini masih 17 tahun, suka sama orang yang dianggap ideal atau naksir-naksir itu jamak banget, sampe nanti kamu lebih dewasa dan bakal nyadar sendiri gimana bodohnya masa muda. Klepek-klepek sama gebetan"

Harry diam saja.

"Ayolah Harry, nikmati saja masa mudamu"

"Aku suka dia dan aku serius. Aku ingin –aku mau jadi pacarnya" sahut Harry dengan keras kepala.

"Ya kalau gitu ngomong terus terang aja sama dia, biar gak penasaran. Palingan dia cuma ketawa prihatin sambil sibuk mainin cewek-cewek bahenol yang lebih dewasa"

"Gak lucu, tau gak" Harry merapatkan mulutnya menahan emosi.

"Oke, sori kalau gitu" Michael mengangkat bahunya tanpa rasa sesal sedikitpun. "Kalau saranku sih cuma satu, coba bilang saja sama dia dan liat reaksinya. Siap-siap aja sama semua kemungkinan".

Dear Brother | ZarryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang