Duapuluh

323 32 30
                                        

Harry mendorong daun pintu kamar Zayn dengan kaki kanan karena kedua tangannya terlalu rempong membawa baki besar berisi kopi panas dan dua buah roti sandwich. Dia membuatkan sarapan untuk Zayn, lalu dengan penuh rasa bangga membawanya ke hadapan laki-laki itu.

"Kenapa berisik sekali pagi-pagi begini" Zayn masih bergelung di balik selimut. Dia hendak memejamkan mata kembali tapi membukanya secepat kilat demi melihat Harry berdiri di sisi ranjanganya sambil tertawa lebar. "Kamu siapa? Kenapa kamu ada di kamar –ngapain kamu di sini, Harry?"

Tawa Harry seketika lenyap. "Ngapain aku di sini? Lha, aku ini kan nginep disini dan semalam –uhuk" Harry berdehem dengan wajah merona. "Nih, aku udah bikinin sarapan. Jangan protes soal rasanya. Pokoknya kamu harus makan apa yang kubuat. Bilang terima kasih Harry. Ok? Sama –sama" dia terus nyerocos karena tiba-tiba saja grogi ketika ingat semalam akhirnya dia tahu sisi paling pribadi dari Zayn. Sisi lain yang mungkin hanya orang tertentu yang tahu –bagaimana tatapannya saat dikuasai birahi, bagaimana erangannya saat menahan kenikmatan, bentuk penisnya, dan juga mimik wajahnya saat ejakulasi.

Harry tak akan pernah melupakannya.

Zayn mengerang sambil menutup mukanya, "oh tuhan, apa yang udah kulakukan" bisiknya pada diri sendiri.

Tapi Harry bisa mendengarnya. "Kenapa?"

Dengan masih menutupi mukanya, Zayn menyahut dengan suara serak "maafkan aku Harry. Harusnya kamu udah pulang sekarang. Kamu harus kuliah. Sovia pasti –"

"Stop minta maaf, Zayn. Kenapa kamu minta maaf terus pas kita melakukan –melakukan, er, ciuman dan itu? Kamu gak salah kok. Aku menginginkannya, jadi stop minta maaf"

Zayn menghembuskan nafas dalam seperti berusaha menahan ribuan beban yang tiba-tiba disimpan di pundaknya. "Aku gak bermaksud memperlakukanmu seperti itu"

"Maksudmu saat aku ngeblowjob kamu? Kamu ingat apa yang kita lakukan semalam?"

"Engga" Zayn berbohong. "Aku terlalu mabuk"

"Hah" Harry menyeringai, "omong kosong. Gak usah bohong, aku tahu kamu menyukainya"

"Harry, apa kamu sadar kalau itu salah? Harusnya kamu –"

"Kamu selalu bilang harusnya kamu gini, harusnya kamu gitu, emangnya kamu tahu apa yang ada di dalam otakku? Kenapa kamu ngatur-ngatur begitu?"

"Maksudku bukan ngatur-ngatur seperti itu. Tapi aku terlibat dalam semua yang kamu lakukan, dan aku hanya merasa kalau aku sendiri terlalu ceroboh karena membiarkan kita ngeseks" tiba –tiba Zayn tampak panik sendiri. "oh sial" dia melemparkan kepalanya kembali ke atas bantal.

"Jadi kamu menyesal membiarkanku menghis –melakukan apa yang kita lakukan semalam? Kamu gak suka?"

Zayn diam saja.

"Tapi aku suka –" Harry menelan ludahnya. Bibirnya terasa kering. Sial, gumamnya dalam hati. Kenapa dia jadi merasa gugup lagi? Dia tidak pernah bilang soal perasaan romantisnya pada siapapun. Dulu, beberapa gadis yang dia kencani pernah menuntut kepastian dan deklarasi cinta darinya, tapi Harry tak pernah benar-benar mau terlibat dalam hubungan romantis yang rumit. Kebanyakan hubungannya hanya sebatas seks.

Zayn menatap tajam ke arahnya.

Wajah Harry memucat. "Aku pikir kamu gak straight, Zayn. Kamu suka lelaki juga kan?"

"Setelah kejadian semalam, apa itu perlu dipertanyakan lagi?"

"Oh gitu" Harry mengangguk-angguk seperti orang bodoh. "Aku –aku suka kamu, ya, uhh maksudku, tingkahku kadang emang menyebalkan sejak dulu. Tapi, tapi ya dulu aku sempat gak suka pas ayahmu nikah sama ibuku. Tapi sekarang aku udah gak masalah dengan pernikahan mereka. Aku suka kamu –" Harry menghentikan ucapannya. Dia melihat Zayn tengah memandangnya seperti merasa takjub.

Dear Brother | ZarryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang