Harry terpaksa memakai kamar mandi kotor. Dia tak kuat menahan gerah, badannya terasa tidak nyaman. Maklum seharian menempuh perjalanan panjang, nyaris terlibat perkelahian dengan pacarnya Gemma pula. Dia ingin tidur dengan tubuh yang segar.
Tapi Harry tidak membawa peralatan mandi dari rumah, handuk pun lupa, apalagi baju. Sial betul, pikirnya. Dia mencari-cari di lemari kamar mandi, tapi hanya ada satu handuk kecil entah milik siapa. Jangan-jangan punya Ashton, Harry pun tidak jadi mengambilnya. Di atas wastafel, dia melihat ada sabun cair beraroma mawar –dia yakin itu milik Gemma karena kakaknya sangat suka sabun mandi bebungaan.
Setelah mandi, terpaksalah Harry mengeringkan badan dengan kaos yang penuh keringat sambil memikirkan bagaimana caranya dia mendapatkan baju ganti. Apakah Zayn bawa baju lebih? Tapi dia belum pernah memakai baju lelaki itu. Ketika keluar dari kamar mandi setengah telanjang, dilihatnya Zayn berdiri di sisi tempat tidur Gemma.
"Dia masih tidur?" tanyanya pada Zayn.
"Iya, pengaruh ob-" perkataan Zayn terhenti ketika dia menoleh ke arah Harry dan mendapati sang adik hanya mengenakan celana jeans ketat bolong.
Temaram lampu kamar menimpa kulit telanjang Harry yang seputih pualam. Dia tampak sedikit berkilauan sehabis mandi. Kulitnya mungkin tidak lagi selembut dan sehalus bayi karena tempaan latihan fisik secara rutin -kulit itu menampakkan sisi kelelakian yang semakin jelas. Dia bahkan punya tattoo agak besar di dadanya –tattoo berbentuk kupu-kupu. Otot di kedua lengannya, dan di bagian perut bawahnya, mulai terbentuk.
Dan tiba-tiba Zayn menyadari sesuatu.
Harry sudah 17 tahun, dan secara fisik, Harry bukan lagi remaja ingusan dengan pipi tembem mengembung, dan jari lentik nan putih bersih dengan senyuman tanpa dosa, selayaknya bayi baru lahir yang belum tersentuh.
Harry yang sekarang berdiri di hadapannya telah mengalami banyak hal, dan dia sudah tahu caranya mengolah tubuh menjadi lebih atraktif. Harry juga tentu sudah puber –ah, apakah sudah pernah ada pacar yang menyentuhnya, pikir Zayn. Tapi cepat-cepat dia mengusir pemikirannya itu –dia tak boleh memikirkan adiknya dengan cara yang tidak senonoh.
Walaupun Harry masih memancarkan kepolosan murni dari dalam matanya yang berbinar kehijauan, atau dari rambut keritingnya yang semakin memanjang, atau senyuman selebar jurang di bibir merah mudanya yang mengerucut sempurna dengan dua lesung pipi khasnya itu. Namun secara keseluruhan, Harry bukan anak kecil lagi.
Zayn merasa dirinya semakin menua, dan tidak mengetahui apapun tentang Harry sekarang.
"Kamu gak ganti baju?" Zayn memalingkan wajahnya, tak ingin menatap tubuh Harry lebih lama.
"Aku lupa bawa baju. Aku gak bawa apa-apa dari rumah nih" jawab Harry sambil menutupi dada dengan kaos miliknya yang terasa lembap.
Zayn menggelengkan kepala. Ini juga salah satu kelemahan berurusan dengan remaja 17 tahun yang ceroboh. Tak heran dia pergi ke luar kota tanpa membawa bekal memadai. Otaknya masih saja pendek, Zayn menggerutu. "Aku bawa beberapa baju-" dia melangkah ke ruang tamu, menghampiri koper besarnya. "Tapi ingat, besok kita punya banyak PR. Kita harus bicara banyak soal kejadian hari ini" katanya lagi.
"Oke, terserah"
"Aku liat ada diazepam di dalam laci tempat tidur. Obat itu yang kamu maksud?" tanya Zayn sambil menyerahkan kaos putih polos dan celana jogger abu tua pada Harry.
Ketika dia datang tadi, Gemma sudah tidur pulas dan sama sekali tidak terganggu oleh suara percakapan mereka. Harry memberitahunya kalau Gemma sempat histeris setelah pacarnya pergi, dan menolak untuk beristirahat. Perempuan itu baru tenang setelah meminum diazepam. Harry hendak mencegahnya tapi Gemma mengatakan kalau itu satu-satunya cara agar dia bisa tidur sekarang. Setiap Ashton datang dan membuat kekacauan, obat itu jadi pelarian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Fanfiction(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
