You are destined for higher ground.
Not to linger with me.
To the earth I am ever bound, eternally.
We belong to the sun.
We belong to the sky.
We have more than one song to sing before we die.
(Swan – Secret Garden & Shin Youngok)
----
Harry bermimpi.
"Haz, hei...Haz" itu suara kakak tirinya. Tapi dimana dia? Harry tak bisa melihatnya. Gelap dan dingin pula di sana. Kemana Sovia dan Tuan Clanton? Mana teman-temannya? Kenapa dia hanya sendirian? Oh, itu ada sinar di kejauhan. Terang sekali. Dia berlari menuju cahaya itu. Dan kegelapan di sekelilingnya mulai menghilang perlahan-lahan. Dan dibawah siraman cahaya yang indah itu, dia melihat Zayn berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Kakak tirinya mengulurkan tangan. Dia menghampirinya, memegang tangannya kuat-kuat.
"Lihat itu, Haz" dia menunjuk ke belakang Harry. Harry menoleh, dan di sana dilihatnya hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Pohon-pohon dan bunga-bunga bermekaran. Indah sekali. Di atas mereka, burung-burung merpati melintas, beterbangan ke segala arah. "Tunggu, ya!" kata kakak tirinya. Dia meninggalkan Harry, mengikuti arah merpati-merpati itu. Tubuhnya menghilang diantara pohon-pohon dan ilalang yang menjulang tinggi.
"Zee! Zee!" Harry memanggilnya.
Kemudian, Harry menemukannya. Tapi dia hanya melihat punggungnya saja. "Zee!" Harry hendak menghampiri lelaki itu, tapi ketika Zayn menoleh, ternyata dia tidak sendirian. Ada seseorang di belakangnya, seorang perempuan. Wajah perempuan itu tidak kelihatan, ada kain besar menutupi kepalanya. Mereka berjalan pelan-pelan meninggalkan Harry. "Zee! Zee!" Harry menjerit memanggilnya, tapi Zayn tidak pernah menoleh lagi. Sampai dia menangis dan berteriak putus asa, Zayn tidak pernah kembali lagi padanya.
Harry membuka mata lebar-lebar. Semua pohon, bunga, dan merpati sudah tidak ada lagi. Dia berada di dalam kamarnya. Kamar yang sama seperti dulu, yang telah dia tempati selama belasan tahun.
Di luar sana, matahari awal musim panas telah menanjak tinggi.
Dua bulan sejak terakhir kali Harry bertemu Zayn di toko es krim, Harry berhenti bertanya pada diri sendiri kenapa orang yang disukainya tidak balik menyukainya; pertanyaan klise dan membuatnya semakin sakit hati, tapi terkadang dia merasa membutuhkan jawaban itu sekedar untuk membuatnya berhenti menangisi patah hati. Dia kehilangan nafsu beberapa hari sampai berat badannya agak turun dan wajahnya muram seperti orang sakit.
Ketika break musim panas tiba, Harry mulai kerja sambilan di sebuah café tak jauh dari sekolahnya. Dia makin sibuk.
Dia sempat mencari Michael di kampus, tapi ruangannya kosong. Rumahnya juga kosong –seorang wanita tua yang kebetulan lewat saat dia menggedor pintu rumah memberitahu kalau rumah itu sudah tak berpenghuni. Harry tetap tidak percaya kalau Michael pergi begitu saja tanpa memberi kabar. Kalaupun Michael marah karena karirnya hancur, itu juga bukan salahku, pikir Harry saat duduk di teras rumah Michael seperti anak kucing kecil yang dibuang pemiliknya.
Lexi yang pertama kali menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Harry.
Dan walaupun Harry terus berbohong dengan bilang dia baik-baik saja, Lexi hanya mencengir karena dia mulai menebak Harry sedang galau urusan percintaan. Dia mengajak Harry menyelinap ke sebuah bar, bersama beberapa orang temannya yang lain, dan Harry pun melepaskan semua kontrolnya. "Orang yang nolak kamu itu jelas bodohnya keterlaluan, Haz" Lexi meneguk wiskinya, "tapi kamu jangan ikut-ikutan bodoh dong. Aku tau gimana rasanya patah hati, atau ditolak mentah-mentah sama gebetanku. Dunia ini masih luas, masih banyak ikan bagus di luar sana. Emangnya dunia isinya cuma dia aja? Kagak. Banyak yang lebih, kalau kita mau melotot lebih lebar dan liat sekeliling sih. Cheers"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Fanfiction(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
