I kiss a guy and I like it
---
Harry tidak tahu bagaimana semua bermula hingga kepalanya berakhir di pundak Zayn, di atas kursi besi di ruang tunggu Rumah Sakit Queen Elizabeth. Dia tertidur. Entah berapa lama. Dan Zayn membiarkannya. Rambut keritingnya menempel sebagian di leher Zayn yang duduk bersandar di kursi. Jas panjang lelaki itu menutupi bagian atas tubuh Harry. Dia merasakan hembusan nafas hangat di atas kepalanya.
Karena takut membuat gerakan yang tidak semestinya, pelan-pelan sekali Harry mengangkat muka, dan dari balik rambut keritingnya yang panjang dia melihat Zayn tengah tidur dengan tenang. Kepalanya sedikit tertunduk, kedua lengannya melebar lunglai di atas punggung kursi. Dia tampak sangat lelap. Mungkin dia kelelahan.
Kasihan.
Zayn pasti sudah terkuras tenaga dan pikirannya selama di Birmingham. Pertama-tama, Harry sendiri yang membuat pria itu pontang panting mencarinya, dan sekarang dia mengurusi Gemma.
Ah, Gemma, bagaimana keadaannya sekarang, Harry memikiran kakak perempuannya itu. Beberapa jam lalu, sewaktu Gemma mengalami kejang-kejang di restoran, Zayn langsung membawanya ke rumah sakit ini. Harry mengkhawatirkan kondisi bayi di dalam perut Gemma. Tapi tidak ada pendarahan atau apapun, dan Harry berharap kejang-kejangnya Gemma tidak berpengaruh banyak pada sang janin.
Beberapa saat setelah tiba di rumah sakit, Karen, teman Gemma di Universitas, datang menjenguk. Perempuan muda itu berjanji akan merawat dan menemani Gemma. "Maaf kalau aku datang terlambat" Karen berkata sambil menyalami mereka.
"Gak apa-apa. Makasih udah datang. Dan, makasih udah membantu Gemma selama ini" Zayn tersenyum padanya, sementara Harry hanya memperhatikan saja sambil menguap.
"Gemma gadis yang baik" Karen tersenyum lembut. "Kami sering jalan bareng, dia orang yang menyenangkan. Aku kagum banget pada semangat dan dedikasinya di kampus. Dia sering cerita soal kalian –yah, gak sesering itu sih, tapi dia pernah menyinggung nama kalian. Dan aku senang banget akhirnya Gemma bisa melalui masa sulitnya kemarin" dia menyeka air yang menggenang di kedua sudut matanya. "Maaf, aku kadang agak emosional begini deh-"
"Gak apa-apa, Karen. Gemma bisa bertahan juga kayaknya karena kamu selalu ada di sisinya. Aku dan Harry sempat kaget dengan berita soal –yah, soal kehamilan itu. Kami ingin memastikan Gemma akan baik-baik aja di sini-"
Pembicaraan mereka terhenti saat dokter datang dan meminta mereka masuk ke ruangan periksa dimana Gemma terbaring seolah sedang tidur. Dokter tersebut menjelaskan perihal kondisi Gemma dengan nada yang aneh dan sedikit terburu-buru. Lalu setelahnya, sang dokter meninggalkan mereka. Sampai Harry tak bisa menangkap apa yang dikatakan si dokter karena dia sibuk mengamati Gemma.
"Apa katanya?" Harry mengalihkan padangannya pada Zayn.
"Gemma baik-baik saja" sahut Zayn, wajahnya tampak lega. Begitupula Karen.
"Ah, syukurlah" Harry mengusap mukanya sambil menghembuskan nafas panjang. Dan tiba-tiba tubuhnya terasa sangat lelah. Dia ingin merebahkan diri di sofa, kursi, kasur atau apapun yang empuk dan bisa menyangga tubuhnya saat itu juga.
"Gemma kejang-kejang karena bawaan dari janin –aku juga gak begitu paham. Tapi ya begitulah yang dibilang dokter. Gak ada gangguan di janinnya. Ada sedikit tekanan di perut, tekanan darahnya juga tinggi, tapi dia sudah mendingan sekarang. Gemma –" Zayn berhenti sebentar.
"Ya? kenapa?" Harry mengangkat kepalanya dengan cepat.
"Dia kurang nutrisi-"
Karen menghampiri sisi pembaringan Gemma dan memegang pergelangan tangannya. "Gemma pasti sering stress makanya dia sering pingsan dan kejang. Kalau dibiarkan lama pasti bahaya buat janin. Orang hamil kan gak boleh stress atau darah tinggi" bisiknya dengan sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Fanfiction(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
