Malaikat penolong Harry berwujud serupa 2 koin penny yang terselip di bagian dalam saku sweaternya. Setelah hampir satu jam berkeliling tanpa tujuan di sekitar area stasiun King's Cross dan menarik perhatian beberapa orang karena dia berputar di situ-situ saja, Harry iseng mengubek-ubek saku sweater. Dia duduk di halte bis sambil berharap sebuah keajaiban.
Dia sengaja berkeliling dan berada di spot-spot yang mudah dilihat, karena siapa tahu Zayn sedang mencarinya di sekitar stasiun. Tadi saat menelpon Sovia, dia memberitahu perempuan itu soal ekspektasi waktu kedatangannya di King's Cross.
Dia berharap Zayn bisa menemukannya, atau dia yang menemukan Zayn dalam keramaian.
Dua keping itu tidak disia-siakan. Harry menelpon Zayn dengan susah payah karena dia tidak begitu ingat nomornya. Untung saja nomor Zayn tertera di buku notes kecil yang dibawanya di dalam tas ransel. Nomor Zayn masuk dalam nomor emergency keluarga, jadi Harry mempunyai catatannya di beberapa tempat.
Kemudian, setengah jam kemudian dia sudah duduk di samping Zayn di dalam Jaguar klasiknya. Jam di dasbor sudah menunjuk angka 1, dan Harry tahu dia sudah membuat Zayn kesal lebih dari saat dia pergi ke Birmingham. Terbukti dengan Zayn yang diam saja sejak bertatap muka tadi. Bahkan dia tidak menawari air minum yang sebenarnya tergeletak di samping jok, padahal Harry haus bukan kepalang.
"Kamu marah ya?" akhirnya Harry mengalah. Dia tidak mungkin diam-diaman terus dengan Zayn. Dia haus dan kelaparan. Tanpa uang dan ponsel untuk bertahan hidup.
Zayn tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras. Matanya lurus tertuju ke depan.
"Sori-"
"Gak usah bilang sori kalau cuma omong kosong doang" Zayn menyela. Suaranya dalam dan agak serak. Wajahnya tampak lelah sekali. "Bosan kudengar sori-sori dari dulu. Tapi kamu terus mengulang kelakuan kayak gini"
"Oke, aku salah. Aku ngaku salah. Tapi aku gak tau kalau bakal ada kejadian kayak gini" seharusnya, kalau rencana Harry berjalan lancar, dia akan menampakkan diri di depan apartemen Zayn sambil mencengir nakal dan berteriak 'surprise!'. Tapi mungkin itu terlalu dramatis. Harry bahkan tidak tahu dimana apartemen Zayn. Tapi, Harry berusaha membela diri sendiri di dalam kepalanya, dia tidak berniat merepotkan Zayn untuk menjemputnya malam-malam ke stasiun. Dia bisa mengubah rencana karena dia punya beberapa rencana cadangan. Misalnya, dia bisa ketemuan dengan Maxim –kenalannya di London terlebih dahulu.
Tapi si copet keparat itu mengacaukan semua rencana indahnya. Dan Zayn pun marah akibat si copet itu. Ya, Harry tak sudi disalahkan. Pokoknya ini gara-gara pencopet tak tahu diri itu! Titik.
"Kalau kamu lebih hati-hati dan menuruti saran Sovia, kamu gak bakal terdampar di sini malam-malam. Apa kamu pernah berpikir kalau tindakanmu bisa merepotkan orang lain? Kamu hanya mikirin diri sendiri-"
"Tapi-"
"Jangan potong omonganku dulu" Zayn menahan nafas. Dia berusaha mati-matian untuk mengontrol semua emosinya yang hendak meledak keluar, "kelakuan kayak gini, seperti anak kecil, Harry. Tapi kamu selalu marah dan gak terima kalau dibilang anak kecil"
Harry cemberut. "Rencana awalnya gak begini, Zayn. Mana aku tahu bakal kecopetan? Tadinya aku gak akan merepotkanmu, dan aku gak bakal melibatkanmu dalam masalahku-" padahal bohong. Dia datang ke London hanya dengan satu tujuan yang jelas; menemui Zayn dan mungkin membuat pengakuan besar.
Zayn melajukan mobilnya seperti dikejar setan. Dan dia menginjak rem sekaligus saat lampu merah menyala di perempatan–hampir saja dia labrak lampu itu. Gerakan menyetirnya tidak sehalus biasanya. Mobil itu terantuk ke depan saat Zayn menginjak pedal rem. Harry hampir terbanting ke dasbor kalau saja dia tidak memakai sabuk pengaman. Jantung Harry terkesiap kaget. Jantungnya serasa mencelos.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Фанфикшн(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
