Mereka berempat makan malam dengan menu ayam bumbu asam manis dan sayur-sayuran. Harry hanya makan sayurannya saja dan menolak saat Sovia menawarinya makanan lain. Kulkas mereka masih penuh kue serta pasta. Perubahan mood Harry yang tak biasa ini menarik perhatian Sovia, tapi dia masih belum bisa menebak apa sebabnya. Zayn pun tampak sangat kaku dan tidak banyak ngomong. Sovia berpikir, ada apakah gerangan diantara kakak beradik itu.
Sovia mengungkapkan rasa senangnya karena akhirnya Zayn menyempatkan diri mengunjungi mereka. Dia bertanya tentang aktivitas Charlotte dan bagaimana mereka berdua ketemu sebelum pacaran. Charlotte lah yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan Sovia. Dia dengan sopan memuji masakan Sovia yang lezat tiada dua. Dia juga bertanya tentang sekolah Harry. Tapi Harry hanya menjawab seperlunya tanpa melihat ke arah Charlotte sama sekali.
TRANG.
Sendok Harry jatuh. Mereka terdiam sejenak, lalu Harry jongkok mengambil sendoknya. Beberapa menit kemudian, sendoknya jatuh lagi. Ketiga sendok itu jatuh ketiga kalinya, Harry tampak kesal dan dia tidak lekas mengambilnya lagi. "Aku udahan" katanya sambil berdiri.
"Lho, kamu cuma makan sayuran? Ayam ini pesenanmu tadi siang lho" Sovia berharap Harry segera memperbaiki moodnya karena dia tidak enak melihat Charlotte yang hanya bengong dan bingung dengan kelakukan tuan mudanya.
"Aku udah keburu kenyang, Sov. Tadi es krim segaban kan aku yang ngabisin" jawab Harry dengan dingin, lalu dia meninggalkan dapur.
**
Walaupun Harry sudah menolak mentah-mentah pergi ke festival, Sovia terus merengek membujuknya. "Haz, kapan lagi kakakmu menyaksikan festival seni macam begini? Ayolah sebentar aja"
Harry mulai kesal karena didesak terus, "ya udah, ya udah aku pergi. Tapi syaratnya, kamu juga harus ikut. Kalau kamu pergi, aku pergi" jawabnya.
Sovia pun menyerah. Tidak ada waktu buat berdebat dengan Harry.
Harry masuk ke mobil dengan hanya membawa HP barunya dan beberapa lembar uang. Di mobil, Charlotte sudah siap di jok depan, di samping kursi supir, jadi Harry duduk di kursi belakang. Perempuan itu tersenyum lembut padanya saat Harry sudah ada di dalam mobil. "Biasanya di festival ada apa aja, Harry?" Charlotte bertanya, menghilangkan kecanggungan.
"Macam-macam" Harry memusatkan perhatian pada HPnya.
Tak lama kemudian, sebelum Charlotte sempat bertanya lagi, Zayn dan Sovia masuk ke dalam mobil. Sovia membawakan kamera Harry, "ini ketinggalan" katanya sambil menyerahkan kamera itu.
"Emang sengaja gak aku bawa" Harry menerima kamera itu dan langsung melemparnya ke dasbor belakang.
"Eeh, kamera mahal jangan dilempar-lempar gitu dong" Sovia kaget dan khawatir melihat kamera itu bersinggungan dengan dasbor mobil. Zayn menoleh ke belakang dengan dahi berkerut.
"Kok tumben? biasanya selalu kamu bawa kemana-mana" tanya Sovia lagi. Dia segera duduk di samping Harry dan Zayn di belakang kemudi.
"Lagi malas"
Sovia makin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi pada Harry. Harry seperti anak gadis PMS, sensitif dan uring-uringan tidak jelas sejak Zayn datang. Apa mereka sedang berantem, pikirnya. Tapi bertengkar soal apa? Sedangkan Zayn sebaliknya, walaupun dia tampak cukup tegang, tapi dia tidak berkomentar apapun dan menyembunyikan perasaannya dengan pandai.
Sepanjang perjalanan menuju ke pusat kota, Sovia berusaha menjaga tensi ketegangan di dalam mobil, terutama karena ada Charlotte. Dia mengajak perempuan itu mengobrol sesering mungkin supaya Charlotte merasa diakui dan tidak tersesat diantara dua kubu perang dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Brother | Zarry
Hayran Kurgu(Completed)- ketika Ibunya menikah dengan laki-laki dari keluarga Malik, Harry tidak pernah menyukai siapapun dari keluarga barunya, terutama kakak laki-lakinya, Zayn. Keduanya mengalami perjalanan berliku sebagai Styles dan Malik demi mencapai keha...
