Request
rəˈkwest / Meminta
Lingkar
Pukul enam lebih lima belas menit, ketika SeaSalt masih begitu ramai-ramainya, gue baru tersadar sudah berbicara lebih dari satu jam lamanya dengan Garish, perempuan yang baru gue ketahui namanya beberapa jam lalu. Melupakan fakta bahwa gue harus segera menemui dosen pembimbing gue malam ini di kampus.
Mengamati hingga siluet Garish hilang di sebuah tikungan, gue bergegas menuju musholah terdekat untuk menunaikan ibadah maghrib. Melangkah dengan sedikit lebih cepat dari biasanya, gue mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana kain hitam yang saat ini gue kenakan untuk mencari kontak milik Ray, Abee Hurairah teman satu bimbingan tesis gue.
Hingga di beberapa dering pertama, sambungan suara pun terhubung "Woy dimana lo?" suara Ray terdengar begitu lantang dalam pendengaran gue begitu nada dering menghilang.
"Masih di Sudirman"
"Are you kidding me? Udah jam berapa ini cuk!" Ucapan kesal Ray terdengar.
"Beneran, gue masih di Sudirman, makanya gue telfon lo sekarang. Please lakuin apapun buat nahan pak Amir, sampai gue datang."
"Gila lo! bimbingan setengah jam aja kepala gue mau meledak, apalagi sekarang lo suruh gue nahan pak Amir. Jam-jam sibuk kayak gini, Sudirman ke UI itu paling cepet sejam ya cuk. Lo itu lupa atau gimana sih Lingkar?" Ray terdengar sangat frustasi di seberang.
"Daripada lo kebanyakan nanya gue, dan gue gak sampai-sampai, mending lo matiin telfon gue, dan pikirin gimana caranya biar lo bisa nahan pak Amir." Hening, tidak ada sahutan dari Ray di seberang, "Please bantuin gue kali ini bisa Ray?" Tanya gue mencoba memastikan.
"Okay, bayarannya Hanamasa malam ini." Ray pun memutus panggilan gue secara sepihak, well yang terpenting sekarang adalah gue bisa sampai ke kampus kurang dari satu jam.
♡♡♡
Tepat pukul 07.45 gue sampai di parkiran kampus, semoga pak Amir masih di ruangannya dan Ray berhasil menahan pak Amir. Walaupun gue harus keluar uang buat traktir dia di Hanamasa malam ini.
"Mau tanya yang mana lagi hei Huroiroh? Kepenulisanmu sudah bagus, hanya ada revisi sedikit di bagian yang saya coret tadi." Gue mendengar sekelebat suara saat mencapai ujung tangga.
"Uhm, beneran pak gak ada lagi pak?"
"Hai Huroiroh! kamu ini aneh sekali, saya sudah bisa rekomendasikan kamu daftar ujian hasil riset, dan sembari menunggu kamu bisa langsung eksekusi makalah ilmiah kamu. Kamu malah kayak gak mau itu gimana? Kamu gak mau cepet wisuda?" Tepat setelah pak Amir menyelesaikan pertanyaannya, gue mengetuk pintu ruangannya yang terbuka sedikit.
"Masuk!" Seru pak Amir dari dalam ruangan dan menurunkan kacamata pada hidung bagian bawahnya tepat saat gue memasuki ruangannya. Bisa gue lihat, Ray menghembuskan nafas lega. "Darimana saja kamu Lingkar? Sudah telat 20 menit dari janji temu kita."
Menggaruk bagian belakang kepala gue yang tidak gatal, dengan sedikit senyuman yang gue pastikan akan lebih terlihat seperti ringisan. "Maaf pak, tadi ada klien datang mendadak di kantor." Gue mencoba beralasan.
"Lho, kamu sudah kerja?"
"Hehhe." Gue tertawa garing. "Sudah pak, hampir setahun yang lalu saya diminta kerja dengan perusahaan tempat saya KP waktu semester 5 pak."
"Oh sudah lama juga yaa, bagus-bagus kalau begitu," Pak Amir mengangguk-anggukkan kepalanya menerima alasan gue telat. "Sebentar-sebentar, anak Fast Track, bukannya tidak boleh punya kontrak kerja selama masa perkuliahan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Tanya
ChickLit"When did you fall in love with her? The one in front of you right now." Jika gue harus menjawab question quotes yang terpampang dalam satu sisi dinding cafe tempat gue duduk saat ini, gue akan menjawab dengan lugas. "I've been in love with her fro...
