9. Easy Run

682 92 30
                                    

Easy Run

ˈēzē . rən / Mudah . Lari

Garish

Sabtu pagi di minggu ini, Rumah Sakit Sahid Sahirman Memorial benar melaksanakan acara Orang Kantor-Run kategori easy run seperti yang Diandra bicarakan padaku beberapa minggu yang lalu. Kebetulan, setiap hari sabtu dan minggu jadwal aku praktek, kosong. Sehingga di sinilah aku berada sekarang, mengenakan Nike Womens Cropped di padu padan dengan Nike pro training leggings in black tidak lupa Nike Air Running Shoe sebagai pelengkap outfit-ku pagi ini, berdiri di tengah kerumunan pegawai kantoran sekitar SCBD yang mengikuti kegiatan easy run ini.

"Dokter Garish, Ehm. Dokter Garish, Ehm." Diandra terus mengulang-ulang kalimat itu sepagi-pagian ini, sejak aku bertemu dengannya pada barisan warming up. "Dokter Garish, cemewewan-nya ikut Orang Kantor-Run gak nih?" Kali ini Diandra menyuarakan kalimat tanyanya, namun masih menggunakan kalimat ajaibnya.

"Cemewewan itu apa sih Di?" Tanyaku kali ini yang benar-benar bingung dengan kata cemewew dari bibir Diandra yang keluar masuk telingaku satu mingguan ini.

"Ow-Em-Ji jadi satu mingguan ini aku ngomong cemewew itu dokter Garish gak ngerti artinya? Bukan karena bodo amat?" Tanya Diandra histeris, yang hanya aku tanggapi dengan anggukan. "Cemewew itu artinya pacar! dokter!" Diandra menjelaskan maksud kalimatnya dengan jelas. "Percuma dong aku satu mingguan ini ngece-in dokter tapi dokternya gak mudeng!" Keluhnya lagi.

Aku hanya tertawa melihatnya, "Lagi kamu ada-ada aja, kata pacar jadi cemewew." Imbuhku lagi dengan menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir dengan Diandra.

"Okay, buang jauh-jauh kata cemewew." Diandra mengibas-ibaskan tangannya, "Jadi intinya, pacarnya dokter Garish ikut acara Orang Kantor-Run gak nih?" Diandra mengulangi lagi pertanyaannya dengan gemas yang tertahan.

"Aku loh gak punya pacar." Jawabku singkat.

"Huh?" Diandra terlihat sangat kaget dengan jawabanku, "Aku gak percaya, paling dokter Garish bohong." Imbuhnya lagi.

"Beneran, terserah kamu aja sih mau percaya atau enggak." Jawabku sembari menunduk mengikat tali sepatuku yang lepas.

"Terus, mas-mas start-up yang tempo hari ketemu sama dokter Garish di kantin itu siapa kalau bukan mas pacar?" Seruan Diandra cukup menghentikan aktifitasku dari mengikat tali sepatu.

"Dia bukan pegawai start-up, betewe." Aku melanjutkan kembali mengikat tali sepatuku yang lain.

"Kalau bukan pegawai start-up terus apa? Orang pakaian kerja dia aja santai. Pakai sneakers gitu, lengan kemejanya dilipat setengah. Ught" Diandra sedikit membayangkan dan menjabarkan style yang Lingkar kenakan saat menemuiku di kantin rumah sakit tempo hari.

"Kamunya sok tahu, gak tanya-tanya dulu."

"Okay lupakan lupakan masalah Start-up," Diandra mengibaskan kedua tangan sejajar pundaknya, "Intinya, dia mas pacar dokter Garish kan walau bukan pegawai start-up?" Dindra masih belum puas mendengar jawabanku.

"Bukan lah!"

"Yaah" keluhnya, "Padahal nih yaa dok, aku berharap dia itu mas pacarnya dokter Garish loh," Diandra mengutarakan pemikirannya. "Soalnya kalian itu cocok banget, yang satu cantik yang satu ganteng." Diandra mengutarakan lagi alasanya lebih detil. "Jadi, kalau dia ikut Orang Kantor-Run sekarang bisa melindungi dokter dari tatapan-tatapan nakal laki-laki di sini sekarang." Ucapan Diandra cukup membuatku mengamati sekitar, dan benar saja apa yang baru saja Diandra ucapkan, ada beberapa pasang mata yang tengah menatap kami dengan pandangan ingin tahu. "Dokter Garish itu cantiknya keterlaluan tau, bikin perempuan di sekitar dokter jadi insekyur!"

Garis TanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang