29. Clash

201 15 1
                                        

Clash
klaSH / Bentrokan

LINGKAR

Don't kill what you hate, save what you love. Kalimat dari Elon musk berhasil menarik paksa emosi gue yang hampir saja menghabisi Nadav di tempat, tentu saja dibarengi dengan tarikan keras Ray, yang tanpa gue sadari menggores pergelangan tangan kanan.

"Bisa mati nih anak orang, Lingkar!" Ray masih meracau ketika gue tengah menelisik keadaan Nadav, dengan lebam yang mulai terlihat di sudut bibir disertai bercak darahnya.

"Bangun Lo!" Gue menarik paksa kerah Nadav untuk berdiri. Nadav memalingkan wajah, dengan berani gue berbisik di telinganya. "Gue nggak peduli Lo bakalan tuntut gue dengan kasus tindakan kekerasan, tapi yang harus Lo tahu jangan sekali-kali Lo sentuh Garish!"

Nadav masih sanggup tersenyum miring dengan sudut bibirnya yang kali ini benar-benar lebam, "Just in your dream!" Nadav mengayunkan kepalanya menanduk hidung gue. "Sssst!" Dan berlalu pergi sebelum pihak keamanan sampai ke posisi gue berdiri.

Gue terlalu sibuk dengan emosi juga Nadav sehingga gue melupakan keadaan Garish yang kali ini sudah berada di pelukan Zara. "Rish, kamu nggak kenapa-napa kan?" Tanya gue khawatir.

"Aku nggak apa-apa." Jawabnya lirih, namun lebih terdengar lemah. "Tapi malah kamu yang kenapa-napa Ling, hidung kamu berdarah." Garish melepas peluknya dan sibuk mencari tisyu dari dalam tas genggamannya.

Tangan gue terulur menuju hidung dan benar darahnya mengalir kecil, bahkan sebagian tetesannya mengenai kemeja putih yang gue pakai hari ini. Menunduk, sembari ibu jari dan telunjuk Gue menekan-nekan hidung, "Ling, kata gue mending Lo balik duluan sama Garish." Ray berbisik di telinga, "Biar sisa kekacauannya gue yang urus. Toh nggak ada barang pecah belah, orang yang baru Lo pukul juga udah pergi." Ray mengulurkan tangannya yang berisi kunci mobil Ford Mustangnya yang langsung gue terima.

"Coba Ling, aku lap darahnya." Garish berusaha meraih hidung gue dengan tisyu di tangannya, namun berhasil gue tarik lebih dulu.

"Kita pulang duluan yaa," Menatap Zara dengan penuh permohonan, gue berbicara lagi. "Ra, Garish balik sama gue, Lo kalau mau ke apart Garish sekalian bareng sama temen gue yaa. Soalnya mobil dia gue yang bawa." Gue mengayunkan kunci di tangan dan dijawab dengan anggukan cepat oleh Zara. "Ray, kalau ada Bill yang harus dibayar, Lo fotoin ke gue aja yaa."

"Santai Ling. Urusan kecil."

Merangkul Garish dan berjalan sedikit lebih cepat menuju tempat mobil Ray terpakir, samar-samar gue masih bisa mendengar Ray berbicara sembari membawa seorang petugas keamanan menjauh dari arah gue dan Garish pergi. "Orang yang bikin kacau udah pergi pak, kerugian pihak resto atau mall biar pihak kami yang tanggung."


****

"Arrgh." Keluh gue ketika kapas dan sedikit obat luka masuk kedalam hidung.

"Sorry, sorry, tahan sedikit yaa karena luka-luka lebamnya harus dibersihkan juga." Garish masih terus dengan kegiatannya membersihkan luka gue. "Kayaknya kamu juga harus rongtegen hidung juga deh."

"Memangnya nggak cukup dilihat sama mata indah kamu?"

"Lingkar, serius sedikit bisa?" Garish berhenti menekan-nekan hidung gue dengan kapas di tangan.

"Aku serius, sayaaaang." Gue tertawa dan Garish menghela napas panjang. "Kita pulang sekarang yaa." Lanjut gue lagi sembari menegakkan tubuh. Memastikan semua pintu mobil terkunci rapat, gue mulai melajukan mobil Ray menuju pintu keluar basemen mall.

Sesaat hanya ada keheningan di dalam mobil, gue berinsiatif menyalakan radio mobil untuk memecah keheningan namun urung ketika Garish bersuara. "Tadi," ucapannya terjeda sejenak, "Orang yang kamu pukul itu, Nadav." Satu detik, dua detik, gue masih menunggu Garish melanjutkannya lagi "Dan aku rasa kamu udah tahu juga kan?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Garis TanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang