"Kelas satu! Kelas satu disini!" Seorang Pria besar berambut berantakan itu melambaikan tangannya, menyuruh mereka berkumpul.
"Ayo ikuti aku-masih ada lagi kelas satu? Hati hati melangkah. Kelas satu ikut aku!"
Nalastacia dan lainnya pun mulai mengikuti Pria besar yang bernama Hagrid itu menyusuri jalan sempit yang curam. Di kanan kiri mereka gelap sekali jadi pasti pohonnya lebat.
Jalan sempit itu mendadak membuka ketepi danau luas gelap. Di atas gunung tinggi di seberang danau, jendela jendelanya berkilau terang dibawah langit penuh bintang, bertengger kastel besar dengan banyak menara besar dan kecil.
"Nah itu dia Hogwarts!" Tunjuk Hagrid gembira pada kastil itu.
Siswa siswa pun berdecak kagum termasuk Nala. Nala tak pernah menyangka Hogwarts akan sehebat ini.
"Satu perahu tak boleh lebih dari 4 orang!" Hagrid menunjuk perahu perahu kecil itu. Nala, Alexa, Dyana menuju salah satu perahu, diikuti seorang gadis berambut pirang yang kalau tidak salah bernama Helena Abbot.
Setelah semuanya naik, seluruh perahu perahu itu bergerak serentak. Meluncur di danau yang licin, selicin kaca. Nala diam, hanya memandangi kastil, sedangkan Alexa sibuk menyelupkan tangannya didanau sesekali menyiprati Pricilla yang ada di perahu sebelah perahu mereka. Dyana dan Helena juga hanya mengamati pemandangan dan sesekali tertawa ketika air yang dicipratkan Alexa mengenai Pricilla yang jelas jelas membuat Pricilla melotot marah.
Akhirnya, Perahu perahu itu berhenti dan Hagrid memerintahkan mereka semua turun dari perahu. Dan kemudian mendaki undakan batu, pintu langsung terbuka setelah Hagrid mengetuknya. Penyihir wanita berambut hitam yang digelung ketat, berdiri disana menyambut mereka. "Terimakasih Hagrid, akan kuambil alih sekarang." Penyihir yang diceritakan ibunya bernama Professor Mcgonagall itu berkata kepada Hagrid. Hagrid mengangguk pada Professor itu lalu tersenyum kepada anak anak sebelum keluar.
"Selamat datang di Hogwarts, kalian akan diseleksi terlebih dahulu sebelum duduk di asrama masing masing." Professor Mcgonagall terdiam sejenak,sebelum kembali melanjutkan. "Sekarang ikuti aku." Professor Mcgonagall memimpin jalan dan masuk ke sebuah aula melalui pintu ganda.
Dan untuk kedua kalinya, anak anak berdecak kagum melihat aula itu.
Nalastacia sudah sering mendengar cerita tentang Hogwarts dari Ayah, Ibunya, kakeknya, Neneknya dan lainnya yang sudah lulus atau bersekolah dari Hogwarts, tapi dia tak pernah membayangkan jika Hogwarts seindah ini. Langit langit aula itu disihir seperti malam yang berbintang bintang indah. Ada 4 meja panjang, masing masing untuk satu asrama.
Professor Mcgonnagal maju, dan membacakan nama anak anak.
"Abbot, Helena."
Helena maju dan memakai topi seleksi di kepalanya.
"HUFFLEPUFF!"
Helena pun berlari menuju meja yang paling ujung. Ke meja Hufflepuff yang bertepuk tangan
"Black, Narcissa"
Narcissa maju dengan percaya diri, dapat Nala lihat di Meja Slytherin Bellatrix dan Andromeda bertepuk tangan.
"Slytherin!"
Meja Slytherin pun bertepuk tangan dengan keras, menyambut putri bungsu dari pasangan Cygnus dan Druella Black. Narcissa tersenyum lega, ia lalu berlari ke meja Slytherin.
"Black, Sirius"
Sirius maju dengan sedikit ogah ogahan dia lalu memakai topi seleksi itu.
"Gryffindor!"
Kali ini tidak ada tepuk tangan. Semua orang terdiam kaget, bagaimana bisa seorang pewaris utama keluarga Black masuk ke Gryffindor.
BRAKKK, suara gebrakan meja terdengar
"TIDAK, BAGAIMANA ITU BISA TERJADI?!"
Nala menoleh kearah sumber suara, tepatnya dari meja Slytherin. Bellatrix lah yang menggebrak meja. Gadis tertua keluarga Black itu tampak begitu marah. Di sampingnya Andromeda berusaha menenangkannya.
"Ada masalah Ms. Black?." Tanya Professor Mcgonnagal tajam. "Tidak Professor." Ucap Bellatrix sambil duduk. Walaupun begitu, matanya masig menyorot Sirius dengan tajam.
Sirius sendiri tak ambil pusing, ia langsyng duduk di meja Gryffindor.
"Evans, Lily!"
"Gryffindor!"
"Greengrass,Dyana."
"Slytherin!"
"Grayson,Alice"
"Gryffindor!"
"Melson, Nalastacia."
Nala menarik napas sedikit sebelum maju dan memasangkan topi seleksi itu di kepalanya.
"Hmmm menarik." Ucap suara kecil itu.
"Kau punya keberanian seperti seorang Gryffindor, kepintaran seperti Ravenclaw, juga kesetiaan seperti seorang Hufflepuff. Ah, tapi kau juga sangat Ambisius seperti seorang Slytherin." Ujar suara kecil itu lagi.
"Dimana aku harus meletakkanmu?"
Slytherin batin Nala.
"Kau yakin? Gryffindor juga cocok untukmu."
Nala menggeleng kuat kuat, ngeri dengan apa yang terjadi jika ia dimasukkan ke Gryffindor.
"Hufflepuff?"
Nala menggeleng kepalanya makin kencang. Itu mah lebih parah!
"Ravenclaw?"
Nah itu lebih baik. Tapi tetap saja walaupun Nala suka baca buku, dia bukan orang yang terobsesi dengan buku.
Letakkan aku di Slytherin, itu jalan termudah batin Nala.
"kalau kau yakin begitu, berarti........SLYTHERIN!
Nala menghela napas lega, ia segera berlari ke meja Slytherin dan duduk di samping kanan Narcissa, diseberang Bellatrix. "Selamat, Melson, Aku Rosier Evan Rosier." Ucap Anak laki laki tahun ketiga. Nala tersenyum kecut. "Kalau kau lupa Rosier, kita sudah mengenal."
Itu benar, Evan adalah kakak laki laki Alexa, dan Alexa merupakan teman Nala sejak kecil. Otomatis Nala akan mengenal keluarga Alexa. Lagiupa ia sudah mengenal hampir semua murid Slytherin. Bukan hal aneh, para murid Slytherin mayoritas berasal dari keluarga darah murni, dan keluarga darah murni suka berkumpul, dan berpesta. Jadi wajar jika ia mengenal mereka.
"Hanya formalitas." Ucap Rosier sambil menyengir. "Untunglah kau dan Cissy masuk ke Slytherin Nala." Ucap Bellatrix. "Bagaimana bisa Sirius bisa masuk ke Gryffindor, betapa malunya Bibi Walburga nanti."Lanjutnya kesal.
"Biarlah Bells, lagipula kan Gryffindor sama baiknya dengan Slytherin." Ucap Andromeda tenang. Perkataan yang membuat Bellatrix melirik Andromeda horor seolh olah Andromeda sudah gila.
Nala hanya mengangguk, matanya terus memperhatikan seleksi. Seperti yang di duga James masuk ke Gryffindor.
"Ada apa dengan penyortiranmu?" Tanya Narcissa pelan. "Maksudmu?" Nala menoleh memandang gadis pirang itu. "Penyortiranmu lama sekali, sampai 8 menit."jelas Narcissa. "Benarkah?" Tanya Nala kaget. Rasanya hanya sebentar. Narcissa mengangguk. "Itu...hanya saja topi seleksi mempertimbangkanku masuk ke Ravenclaw." Ucap Nala salah tingkah. Apa jadinya jika seorang keluarga Melson akan berakhir di Gryffindor? Atau lebih buruk Hufflepuff?. Narcissa mengangguk mengerti.
Yah itu tidak penting lagi pikir Nala. Yang penting aku menjadi seorang Slytherin sekarang. Tidak peduli dima a topi seleksi mempertimbangkanku, aku berakhir di Slytherin. Pikir Nala lagi
Pikiran itu membuat Nala tersenyum. Dia menjadi seorang Slytherin. Seperti yang orang lain harapkan darinya.
*********************
Hai guys!
Maaf ya updatenya lama banget 😭😭. Abis sibuk di rl si maap yak. Btw jangan lupa Vomment yaaa. Jangan jadi Sider pokoknya.
Natasha
KAMU SEDANG MEMBACA
Nalastacia
Fiksi PenggemarJika kalian menganggap cerita ini akan seperti putri putri Disney, yang romantis dan bahagia, kalian salah. Ini adalah cerita tentang Kehidupan Nalastacia Selene Melson, yang sayangnya tidak selalu bahagia, tapi juga terdapat keegoisan dan pengkhian...
