"Kenapa?" Bisik Nala.
Ruangan itu hening sejenak, sebelum Regulus menjawab dengan suara yang lirih.
"Ini sebuah kehormatan Astacia-"
"Kehormatan? Kehormatan apa yang bisa didapat dengan bergabung dengan organisasi yang membunuh orang orang Regulus?!" Bentak Nala, memotong kata kata Regulus.
"Kau tau Reg, kau ada disana saat aku hancur karena orangtuaku yang terbunuh dalam penyerangan pelahap maut!" Bentak Nala kembali. Air mata kemarahan mulai membasahi pipinya.
"Meninggalnya kedua orangtua mu adalah sebuah kecelakaan Astacia. Itu seharusnya tidak terjadi." Regulus berusaha menjelaskan dengan lembut, tapi Nala yang penuh kemarahan tidak mendengarnya sedikit pun.
"Kecelakaan? Seharusnya tidak terjadi? Sadarkah kau, bahwa kau tadi mengucapkan pembelaan yang egois? Membenarkan semua tindakan mu yang salah?" Nala berujar serak, menahan tangis yang hendak meledak.
Regulus terdiam, menatap Nala dengan pandangan yang tidak bisa lagi Nala artikan.
Nala meraih lengan kiri Regulus, mengangkatnya, sehingga tanda kegelapan itu berkilau di bawah lampu.
"Taukah kau, dengan ini kau akan melawanku dan Sirius?" Bisik Nala.
"Taukah kau dengan menerima ini kau akan membunuh bunuh orang?" Lanjut Nala lagi, air mata mengalir deras dari mata cokelat madunya.
"Astacia...."
"Dan maaf Regulus Black, tapi saat kau menerima tanda ini, kau sudah kehilanganku." Nala mundur menjauhi Regulus, berapparate meninggalkan Grimmauld Place, meninggalkan Regulus sendiri.
**********
Nala terduduk lemas, setelah berapparate. Wanita muda yang biasanya tanpak terkendali itu namun sekarang tampak hancur dan menggenaskan.
Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, matanya memerah, pipinya basah karena air mata.
Bagaimana bisa Regulus....
Nala merasa begitu sesak, menyadari bahwa orang yang paling dia percaya mengkhianatinya.
Air mata Nala mulai berjatuhan, tapi kali ini Nala tidak menahannya, terlalu lelah menahan tangisan, terlalu lelah untuk bersikap terkendali, terlalu lelah untuk bersikap baik baik saja.
Kali ini Nala membiarkan emosi menguasainya. Menangis keras, tanpa ada yang di tahan.
***********
Sebagaimanapun menyakitkannya kenyataan bahwa Regulus adalah pelahap maut, Nala tetaplah Nala.
Setelah beberapa jam menangis, ia bangkit, lalu berjalan pelan ke kamar mandi, dan membersihkan badannya.
Kemudian setelah badannya bersih dan mukanya tidak begitu menyedihkan, ia duduk di sofa kamarnya, menggigit bibir seraya mengurus berkas perusahaan.
Mengingatkan dirinya bahwa ia harus menjadi sekuat mungkin, agar tidak bisa dihancurkan dengan apapun, agar memiliki semua yang ia inginkan.
Tapi sebagaimanapun Nala berpura pura dan berharap, ia tidak sekuat yang ia harapkan.
Matanya basah kembali ketika membaca tulisan dibawah kolom yang harus ia tandatangani.
Directur Of Melson Acompany
Isakan itu kembali keluar, tetap pecah, sebagaimanapun Nala berusaha untuk menahannya.
Isakan itu mengeras, ketika menyadari bahwa jika ia hancur, menangis dan kacau, semua yang ia miliki juga akan hancur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nalastacia
Fiksi PenggemarJika kalian menganggap cerita ini akan seperti putri putri Disney, yang romantis dan bahagia, kalian salah. Ini adalah cerita tentang Kehidupan Nalastacia Selene Melson, yang sayangnya tidak selalu bahagia, tapi juga terdapat keegoisan dan pengkhian...
