🌠🌠🌠
Sandra memegang tangan Salsa cemas, menanyakan keadaannya yang tampak pucat lewat tatapan.
"Perlu ke belakang? Wajah lo agak pucat," ujarnya memberitahu.
Salsa menggeleng cepat, mencoba tersenyum paksa meski kepalanya sedikit berkunang. Sebenarnya, semalam Dokter Shiena sudah menyuruhnya untuk beristirahat karena kondisi jantungnya memburuk. Namun Salsa memilih untuk tetap berangkat karena ia sudah berjanji kepada teman-temannya untuk ikut kali ini.
"Nggak usah."
"Beneran?" tanya Sandra mengulang.
"Beneran. Aku nggak papa. Emang wajah aku pucat?"
Sandra mendesah, lalu mengambil sebuah roti dari plastik besar belanjaannya. Namun, saat tangannya berniat untuk memberikan benda itu kepada Salsa, tiba-tiba Artha datang dan merebutnya begitu saja.
"Roti ini kalorinya tinggi banget. Nggak baik buat dia," ujarnya tiba-tiba.
"Nih, mending lo makan ini. Whole grains baik buat kesehatan tubuh lo," lanjutnya sembari mengangsurkan sebuah roti yang ia bawa.
"Dan oreo ini... Lo ngebet banget sih mau ketemu Tuhan?Mending ini buat Sandrina aja," ujarnya berceramah.
Seketika Salsa dan Sandra melongo di tempat.
Bagaimana tidak,
Tanpa angin tanpa hujan, cowok itu tiba-tiba datang layaknya hantu.
"Apa-apaan sih? Itu oreo aku! Kenapa kamu ngatur-ngatur?" sergah Salsa tidak terima.
Artha tersenyum simpul. "Kan gue udah bilang. Gue itu malaikat elo. Dan ini adalah tugas gue," jawab Artha kelewat santai.
"Tapi juga nggak kayak gini!" dengus Salsa kesal. "Emang kamu dokter? Enggak kan? Lagian, aku jarang kok makan yang kayak gini. Sekali-kali gak papa lah."
Artha menggeleng dramatis.
"Awalnya sekali. Tapi nanti keterusan. Udah, jangan bandel. Nurut aja sama Dokter Artha."
Sandra yang menyaksikan itu terbengong. Belum pernah ia melihat Salsa se-emosi itu terhadap orang.
"Saudara Sandrina kenapa? Ada yang mau ditanyain?"
"Hah? Ah....."
"...kalian deket?" tanyanya ragu. Detik selanjutnya ia berpaling kepada Salsa dengan tatapan meminta penjelasan. "Dia siapa lo sih, Sal?"
Salsa menepis cepat. "Enggak lah! Kita nggak deket! Dia cuma--"
"Iya, deket banget. Kita tuh best friend forever." Artha memotong cepat.
"Gue. Salsa. Sama nenek-nenek yang tinggal di kamar 208. Kita sahabat," lanjutnya riang sembari memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Heeh? Lo ngomong apa sih? Gue nggak ngerti sumpah..." ujar Sandra jujur.
"San! Nggak usah didengerin! Kok kamu percaya-percaya aja sih?" protes Salsa memperingatkan. Kalau dipikir-pikir, gemas sendiri dengan percakapan aneh ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight! | Mark Lee
Teen FictionUntuk kamu, laki-laki yang mengatakan malam itu jujur, Juga kamu bintang yang terbang di pusat busur, Aku sebagai malam ingin pamit. Terimakasih untuk segalanya. Jaga diri kalian baik-baik.
