2| Pengakuan Seorang Aulirophile

226 51 13
                                        

Kita adalah sepasang bodoh yang dipertemukan pada dua titik nadir berbeda.

Terasa paralel, nyatanya bertikai kiblat.

-••♡••-

🔉Now playing:

🎶I Like You so Much, You'll know it-Ysabelle Cuevas🎶

Salsa yakin tubuhnya hampir limbung jika saja kaki kirinya tidak cepat menopang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Salsa yakin tubuhnya hampir limbung jika saja kaki kirinya tidak cepat menopang.

Gadis itu tertegun.

Saat cowok berkaos polos itu mendekat, detak jantungnya seperti terlewat satu.

Ia memang tidak tahu, manifestasi laki-laki tampan di dalam dunia itu seperti apa. Namun, wajah Marco sepertinya sudah mengisyaratkan kesempurnaan dari daftar imajinasinya.

"Kenapa berdiri di situ?" tanya Marco sembari mengulas senyum.

Di sisi lain, yang ditanya justru tampak gelagapan. Ia ingin kabur tapi itu tidak mungkin.

"A-aku mau ngambil buku..." sahutnya tergagap.

"Oh? Buku diari ini?" tanya Marco sembari menunjukkan sebuah buku bersampul cokelat lumpur dengan gambar London Bridge di depannya.

"I-iya...."
"I-itu punya Sandra. A-aku disuruh ngambil..."

Masih dengan suara gugup, Salsa kembali berucap. Bahkan, saat ini matanya sudah berkeliaran tidak fokus seperti menahan gugup.

Sudah lama ia tidak berbicara dengan sahabat kecilnya ini. Dan Salsa akui, 'Alko'-nya ini tumbuh menjadi remaja tampan yang punya segala hal.

"Sandra?"

"I-iya. S-Sandra. Itu buku diarinya Sandra..."

Marco mencebikkan bibir, lalu memandang buku itu dengan kepala terangguk.

"Wow...., gue baru tahu kalau nama panjangnya Sandra itu Adelia Salsabila," ucapnya dengan smirk kecil.

Kalimatnya itu seperti menelanjangi urat malu Salsa secara telak. Lebih-lebih saat ini Marco sedang meliriknya dengan tatapan yang mematikan.

Gadis itu terbelalak panik. Tangannya semakin terasa dingin. Kenapa Marco sangat tampan sih malam ini?

"K-kamu buka ya isinya?!" tatar Salsa berseru. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Marco membaca semua isi buku itu.

Starlight! | Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang