Jesica menarik nafasnya, lalu menghembuskannya secara perlahan, "tapikan Kak, ini mall. Di mall pasti banyak orang, terutama para cewek-ceweknya. Dan aku-"
"Tenang aja, lantai atas udah gua booking kok," ujar Angga santai saat memarkirkan mobilnya.
"Hah? Emang bisa kak? Ya Allah, berapa duit tuh?" kaget Jesica, saat mendengar Angga membooking lantai atas mall.
Seketika tawa Angga pecah, "bwahahaha ... lo percaya ama gua?" tanya Angga yang masih tertawa.
"Sebel deh, kakak bohongin aku yah?" kesal Jesica.
"Gak kok, gua gak bohongin lu. Ini serius."
"Iya, serius bercandanya" sambung Jesica.
"Serius elah, lantai atas tuh kosong. Gak percaya nih? Ayok kita masuk!" ajak Angga lalu menarik lengan Jesica.
Anggapun membawa Jesica melewati jalan pintas, jalan yang hanya orang-orang penting yang tahu, seperti CEO, pegawai, tamu penting, dsb.
"Wah ... kak, ternyata mall ini ada jalan ninjanya juga yah?" kagum Jesica saat melihat ke-seluruh lorong yang di penuhi hiasan.
"Iya, hari ini spesial buat lo, lihat sebelah sana," Angga menunjuk satu dinding yang menampilkan foto Jesica, "itu foto lo kan? Ini tuh spesial buat lo," lanjutnya.
Jesica menghentikan langkah kakinya, lalu menghadap pada Angga dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. Bagaimana tidak, mereka baru kenalan beberapa bulan, namun sudah banyak mengubah hidupnya.
Jesica berjinjit, lalu mengecup pipi Angga. "Terima kasih kak," lanjutnya lalu memeluk Angga, dengan air mata bahagia.
Angga menangkup wajah kecil Jesica, lalu mengecup keningnya sekilas. "Jangan nangis, ayok lanjutin perjalanannya. Gak lama lagi kita sampai dilantai atas" ujarnya.
"Tapi gendong, kaki Jesi sakit. Ntar kalau bengkak gimana dong?" ujarnya dengan wajah memelas.
Angga tersenyum, "yaudah ayok naik!" perintah Angga, Jesicapun menaiki punggung Angga.
"Aduh! Lo berat amat" ejek Angga.
"Iih ... kak Angga apaan sih, Jesi ringan tahu!"
"Hahaha ... iya-iya, lo ringan. Sekarang, ayok kita berangkat superman!" ujar Angga lalu berlari menyusuri lorong tersebut.
Sesampainya dilantai atas, Jesica dengan sangat gembiranya turun dari gendongan Angga dan berlarian kesana-kemari.
Ia sangat senang, menurutnya ini seperti mimpi, tapi ini adalah kenyataan. Kenyataan yang menyenangkan.
"Ini beneran Kak?" tanya Jesica entah yang keberapa kalinya.
Ia sangat senang melihat banyak permainan, ditempat itu. Sampai-sampai Angga kewalahan mengikutinya sedari berlarian kesana-kemari.
"Hm ... mau main yang mana dulu yah?" ujarnya tampak melihat berbagai alat mainan dihadapannya. Seketika matanya tertuju pada satu alat, yaitu capit boneka.
"Kak! Main yang sana yuk ... " serunya sambil menarik-narik lengan Angga.
"Astagah, iya-iya. Gak sabaran lu" ujar Angga.
"Ih ... ayok Kak ... " rengeknya
"Iya, ayok"
Merekapun menuju kearah mesin capit boneka tersebut. Jesica mulai memasukkan koin didalamnya, lalu menggerakkan mesin itu.
"Eh-eh ... Kak, kok gini sih? Aaa ... Jesi gak tahu mainnya" kesal Jesica.
"Hahaha ... Jesica, lo lucu amat deh," ujar Angga mengacak rambut Jesica.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Sun || On Going
Teen FictionJesica aprilia. Seorang gadis yang selalu memiliki banyak keinginan yang belum pernah ia lakukan. Ceria,itulah dia dan selalu saja bermain dengan kalangan pria. Bukan hanya bermain dengan kalangan pria saja bahkan cara berpakaiannya saja persis sepe...