KISS AND RAIN
Radia. Gadis itu berdiri di atas pembatas rooftop. Masih sama, penampilannya masih sama terakhir kali ia di toilet. Darah di kepalanya masih saja mengalir.
Radia memejamkan matanya bersamaan dengan itu air matanya luruh kembali. Gadis itu menatap ke bawah di mana ada banyak orang di lapangan sekolah yang meneriakinya untuk tidak melakukan bunuh diri.
Namun, Radia. Gadis itu sudah menyerah, dirinya sudah putus asa, tak ada lagi kehidupan cerahnya.
"RADIA!! JANGAN LAKUKAN ITU NAK! BAHAYA"
"WOYY CUPU! JANGAN GEGABAH, SAYANG NYAWA LO CUMA SATU!"
"DIHH...PALING CUMA BOONGAN"
"RADIA!! TURUN NAK! JANGAN LAKUKAN TINDAKAN YANG SALAH"
"TURUN WOYY!! GAK USAH NGEDRAMA LO!"
Masih banyak lagi teriakan lainnya, dan Radia sudah tidak peduli. Gadis itu terisak pelan.
Ia merentangkan kedua tangannya, hal itu membuat semua orang yang menonton di lapangan sekolah langsung berteriak histeris.
Angin sepoi-sepoi dapat di rasakan oleh Radia, gadis itu tersenyum meski air matanya terus saja mengalir.
Masih dengan merentangkan tangannya, Radia memejamkan mata sambil bergumam "Ayah...Bunda...aku akan menyusul kalian...aku sudah lelah dengan kehidupan ini, jadi tolong biarkan aku ikut bersama kalian, hikkss...tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di sini, aku putus asa bun! Yah! Aku capek seperti ini terus, jadi tolong biarkan aku bahagia dengan cara ikut bersama kalian, hikkss..."
Radia memejamkan matanya kuat-kuat, sambil sesekali menghela napas lalu menghembuskannya perlahan. Tangan gadis itu masih merentang lebar.
Dengan begitu, Radia sudah siap untuk menyusul kedua orang tuanya. Ia berusaha untuk mengabaikan berbagai teriakan di bawah sana.
Perlahan, gadis itu mulai manjatuhkan tubuhnya, dan......
GREPP....
Radia tersentak kaget, refleks matanya terbuka lebar, kala sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang begitu erat.
Orang-orang yang sempat terkejut di lapangan pun menghela napas lega.
Marcel mengangkat tubuh Radia untuk turun dari pembatas rooftop. Laki-laki itu menatap lama penampilan Radia, kemudian langsung memeluk gadis itu erat.
Radia terkejut bukan main, dengan begitu sandaran yang selama ini ia rindukan langsung saja ia balas tak kalah eratnya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu. Dirinya perlahan merasa hujan mulai membasahi bumi, bahkan rintikan air hujan ikut mengguyur dirinya yang berada dalam dekapan Marcel.
Marcel perlahan melepaskan pelukannya dengan Radia, namun ke dua tangannya masih setia memegang bahu gadis itu.
Marcel menatap Radia yang sudah basah oleh hujan yang memang turun dengan derasnya. Mata gadis itu terlihat sangat sembab, bibirnya pucat, dan terlihat begitu menderita, apalagi dengan penampilannya yang sangat-sangat berantakan.
Marcel memandang wajah di depannya, perlahan laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada wajah Radia. Dan tindakan selanjutnya, membuat Radia tertegun di tempat.
Marcel....
Laki-laki itu mencium dirinya tepat di bibir.
Sangat singkat, karna hanya ada kecupan lembut yang Marcel berikan untuknya.
Setelah itu pula, laki-laki tersebut langsung menjauhkan wajahnya dan menangkup pipi kanan Radia.
"Aku sudah ingat Rad! Aku ingat siapa kamu" ucap Marcel pelan, mampu membuat Radia menatap laki-lak itu terkejut sekaligus tak percaya.
"Ka-kau-"
Marcel mengangguk "Yahh...aku ingat sekarang. Aku ingat kalau kau adalah gadis yang selama ini aku cari. Gadis yang sudah lama terikat denganku, hanya kau Radia, hanya kau. Jadi, ku mohon, apakah kau mau kembali bersamaku?"
Pernyataan dari Marcel benar-benar membuat seorang Radia tak dapat berkutik barang sedikitpun. Gadis itu masih diam menatap Marcel meski air hujan terus membasahi sekujur tubuhnya.
Radia mengangkat tangannya dan menangkup pipi kanan laki-laki di depannya. "Ap-apa kau kini sudah mengingatku?" Tanya Radia ragu-ragu.
Dan hal itu, membuat Marcel mengangguk cepat kemudian kembali memeluk Radia erat. Dagunya ia sandarkan pada bahu gadis itu.
"Aku sangat merindukanmu, maafkan aku yang tiba-tiba menghilang di saat keadaanmu sudah menderita, aku minta maaf, maafkan aku" ucap Marcel sembari mempererat pelukannya.
Radia tak membalas pelukan itu, ia masih bingung dengan semuanya, "Tapi, aku bingung kenapa kau bisa lupa denganku?"
Marcel menghela napas kemudian melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Radia.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang kita ke uks, kepala mu harus di obati"
Radia tak ada pilihan selain menganggukkan kepalanya. Gadis itu terkejut ketika Marcel menggenggam tangannya erat. Jemari mereka saling bertautan.
Radia menatap Marcel, begitu pun dengan Marcel juga menatap Radia intens.
"Aku akan selalu ada buat kamu, aku ada di sini......."
"........selalu menggenggam tanganmu"
****
"Sial! Bisa-bisanya Marcel datang nahan tu cewek cupu!" Ujar Queen marah.
Seusai melihat adegan di mana Marcel memeluk Radia guna menghentikan tindakan gadis itu, Queen benar-benar murka.
Ia pergi meninggalkan lapangan beserta semua orang yang berada di sana. Dan berakhir dirinya di sini, di lorong koridor sepi bersama kedua temannya, siapa lagi kalau bukan Seril dan Ratu.
"Udahlah Queen, yang terpenting lo sama kita berdua gak dalam bahaya, untung aja kan gak ada yang curiga sama kita" sahut Seril sembari mengelus punggung temannya itu.
Ratu mengangguk setuju "Iya, lagian tu cewek cupu juga kenapa sok-sok an pake bunuh diri segala?"
"Gimana nggak bunuh diri, kalau lo pada udah ngebully dia sampai segitunya"
Degg....
Ketiga gadis itu tersentak kaget, kala mendengar suara lain di antara argumen-argumen mereka.
Sontak saja ketiga gadis tersebut menoleh ke sumber suara, di sana di depan gudang berdiri dua orang gadis sambil bersedekap dada.
"Fa-fani?" Queen tergagap sambil menatap Fani terkejut. Kemudian netranya kembali menatap gadis di samping Fani.
Queen. Gadis itu membeku di tempat. Bagaimana tidak? Di sana, berdiri Raya yang berstatus adik kandung Marcel sambil bersedekap depan dada.
Tak berbeda jauh dari Queen, Seril dan Ratu sama-sama ikut terkejut kala dua gadis yang cukup terpandang itu menatap mereka sinis.
●●●
Nah kan? Kapok juga kalian bertiga.
Halo! Guys.... gimana Chap 10 nya?
Makasih buat kalian yang sudah baca chap ini, dan jangan lupa juga sertakan vote dan Commentnya:-D
Kalau ada typo, boleh di koreksi :)
Makasih buat kalian yang udah baca ♡
Next??
See you again :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaulah PelangiKu [END]
Teen Fiction-Judul Pertama Radia And Marcel- " Dia baik, senyumnya menawan, perilakunya nakal, namun hatinya bak malaikat" Radia Najda Afifa " Dia berbeda, sangat berbeda, dia apa adanya, dan aku menyukainya" Marcel Regal Saputra ------------------------- "Bang...
![Kaulah PelangiKu [END]](https://img.wattpad.com/cover/244862299-64-k903732.jpg)