PELUKAN
Radia terdiam di atas brankar dengan punggung yang bersandar di kepala brankar tersebut. Pikirannya berkelana jauh. Sesekali gadis itu menggumamkan sesuatu yang bahkan tak ia ketahui apa yang ia gumamkan sendiri.
Bu Jihan sudah menceritakan semua padanya, mulai dari dirinya yang di katakan pingsan di dalam kelas, sampai ia di larikan ke rumah sakit.
Bahkan Bu Jihan juga menceritakan tentang penyakitnya.
Penyakit?
Yahh...
Penyakit yang sudah lama ada pada dirinya, hanya saja Radia memilih untuk tidak membesar-besarkan penyakit itu walau pada kenyataannya penyakit tersebut tak bisa di sembuhkan.
Bu Jihan juga sudah mengatakan, kalau ponsel miliknya mati, akibatnya Bu Jihan tidak bisa memberitahukan keluarga terdekat Radia tentang kondisinya saat ini.
Ceklek...
Radia terkejut bukan main, bagaimana tidak? Di saat dirinya tengah melamun, dan tiba-tiba suara pintu ruang inap nya di buka. Dan, yang lebih mengejutkan lagi, seorang cowok berdiri di ambang pintu menatap Radia intens.
Radia mengerjapkan matanya berkali-kali, apakah itu memang benar Marcel atau hanya ilusinasi nya saja?
Marcel berjalan mendekati brankar yang di tempati Radia. Pemuda itu mengambil kursi samping brankar dan langsung saja mendudukinya.
"Bagaimana keadaan lo?" Tanya Marcel menatap Radia.
Radia tersenyum kemudian berucap "Aku baik kok, hmm...kamu kenapa ada di sini?" Tanya Radia.
"Gue datang buat jenguk lo"
Radia lagi-lagi tersenyum. Ia merasa sangat senang berada di dekat Marcel meski laki-laki itu tak lagi mengenalnya. Namun, melihat laki-laki itu berada di sini menemaninya, Radia sudah merasa sangat-sangat senang.
Gadis itu butuh penyemangat, karna sejujurnya, Radia sudah lelah, dirinya lelah dengan hidupnya yang menderita. Tapi, gadis itu tahu kalau Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan pada akhirnya.
****
Marcel POV
Aku menatap Radia lama, gadis itu seperti memiliki banyak beban, wajahnya terlihat lebih pucat, bibirnya pun sama, pergelangan tangannya kurus, tubuhnya lebih kecil dari biasanya.
Meski begitu, ia tetap tersenyum, pandangan gadis itu menatap langit-langit ruangan ini. Aku tidak tahu, rasanya aku selalu ingin memeluk tubuh rapuhnya.
"Orang tua lo mana? Mereka nggak jenguk lo?" Tanyaku pada gadis itu.
Entah kenapa, setelah aku menanyakan hal tersebut, Radia tampak terkejut namun sedetik lagi ia kembali tersenyum, namun kali ini senyumannya nampak begitu sedih.
Aku tak tahu, apa yang salah dengan ucapakanku, tapi yang ku tahu itu membuatnya merasa seperti merindukan seseorang.
"Orang tua ku sudah meninggal"
Aku tersentak, meninggal? Itu berarti gadis di depan ku ini tinggal seorang diri? Huftt...aku ingat dengan mimpi ku tadi, di mimpi itu mengatakan kalau orang tua Ifa meninggal, tapi kenapa aku terburu-buru ke rumah Radia?
Aku berdehem pelan, sepertinya Ifa itu saudara Radia. Yahh...sepertinya.
"Lo punya saudara?" Tanya ku ragu-ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaulah PelangiKu [END]
Teen Fiction-Judul Pertama Radia And Marcel- " Dia baik, senyumnya menawan, perilakunya nakal, namun hatinya bak malaikat" Radia Najda Afifa " Dia berbeda, sangat berbeda, dia apa adanya, dan aku menyukainya" Marcel Regal Saputra ------------------------- "Bang...
![Kaulah PelangiKu [END]](https://img.wattpad.com/cover/244862299-64-k903732.jpg)